Anteng Manteng

Sebuah bingkai dapat menjadi lebih dari sekadar tempat menghadirkan potret. Pada karya yang dipamerkan dalam TATAH 2026 di Museum Nasional Indonesia, Anteng Manteng, bingkai justru menjadi ruang tafsir yang mempertemukan sosok Raden Mas Pandji Sosrokartono, spiritualitas Jawa, simbol Alif, dan bahasa ornamen Jepara. Karya ini tidak hanya membingkai wajah seorang tokoh, tetapi juga membingkai gagasan tentang keteguhan batin, kecerdasan, pengabdian, dan laku hidup yang berpegang pada kebenaran.

Anteng Manteng merupakan karya Apeep Qimo dan Wafi yang dibuat pada tahun 2026. Karya ini menggunakan material kayu jati dengan ukuran 122 x 198 x 10 cm. Secara visual, karya ini menampilkan potret Raden Mas Pandji Sosrokartono di bagian tengah, dikelilingi bingkai ukir kayu jati yang padat, tinggi, dan penuh detail. Ukiran sulur, bunga teratai, lengkung dekoratif, serta simbol Alif pada bagian atas menjadikan karya ini terasa seperti ruang penghormatan bagi sosok yang dibingkainya.

Raden Mas Pandji Sosrokartono lahir pada tanggal 10 April 1877 di Mayong. Ia merupakan putra dari Bupati Sosroningrat dan Mas Adjeng Ngasirah. Dalam keluarga Kartini, Sosrokartono memiliki kedudukan penting. Sejak kecil, ia menjadi salah satu pendukung utama Kartini, terutama dalam menyediakan bacaan berkualitas dan memperluas wawasan intelektual adiknya. Dari hubungan kakak dan adik ini, kita dapat melihat bahwa gagasan besar Kartini tidak tumbuh sendirian, tetapi ikut ditopang oleh lingkungan keluarga yang memiliki perhatian terhadap pengetahuan.

Sosrokartono kemudian menempuh pendidikan di Belanda. Mula mula ia belajar di Politeknik Delft, lalu beralih ke studi bahasa bahasa Timur di Universitas Leiden. Pilihan ini menunjukkan keluasan minat dan ketajaman intelektualnya. Ia dikenal sebagai seorang poliglot dengan kecerdasan luar biasa. Kemampuannya dalam menguasai banyak bahasa membuatnya dihormati dalam lingkungan akademik. Bahkan Prof. Kern dan Prof. de Goeje memujinya sebagai salah satu murid terbaik mereka.

Kecerdasan Sosrokartono tidak hanya dapat dibaca sebagai kemampuan akademik. Dalam perjalanan hidupnya, ia juga dikenal memiliki perhatian pada kebijaksanaan, spiritualitas, dan laku batin. Karena itu, kehadiran simbol Alif pada bagian atas bingkai menjadi unsur yang sangat penting. Alif tidak hadir sebagai hiasan semata, tetapi sebagai tanda yang mengandung makna mendalam dan dibuat dengan penghayatan.

Bingkai Ukir Sosrokartono

Dalam pemahaman Sosrokartono, Alif memiliki banyak lapisan arti. Ia dapat dimaknai sebagai lambang keesaan dalam kenyataan atau kasunyatan. Alif juga dapat dibaca sebagai perpaduan dan kesatuan dari empat fa’al jiwa yang dikenal sebagai Catur Murti. Lebih jauh, Alif menjadi simbol pembawaan setiap individu, yaitu keteguhan jiwa manusia kepada Sang Pencipta. Di dalamnya terdapat ajakan untuk menjalani hidup dengan berpegang pada kebenaran, kebajikan, dan kejernihan batin.

Judul Anteng Manteng memperkuat pembacaan tersebut. Anteng dapat dipahami sebagai keadaan tenang, tidak mudah goyah, dan tidak tergesa. Manteng mengarah pada sikap fokus, teguh, dan tertuju pada satu pusat kesadaran. Jika dibaca bersama sosok Sosrokartono dan simbol Alif, judul ini menghadirkan gambaran tentang manusia yang menjaga ketenangan batin sekaligus memiliki keteguhan arah hidup. Ketenangan bukan berarti pasif, melainkan kemampuan menata diri di tengah dunia yang bergerak.

Bingkai kayu jati pada karya ini dihiasi motif sulur dan bunga teratai. Motif tersebut terinspirasi dari ornamen Mantingan yang berkembang sejak berdirinya Masjid Mantingan pada tahun 1559. Dalam sejarah ukir Jepara, Mantingan menjadi salah satu sumber penting bagi perkembangan bahasa ornamen. Motif flora, sulur, dan teratai di sana tidak hanya hadir sebagai hiasan, tetapi juga membawa nilai simbolik yang berkaitan dengan spiritualitas, akulturasi, dan kehalusan rasa.

Motif Mantingan sering dipahami sebagai bentuk stilisasi flora yang dalam beberapa konteks digunakan untuk menyamarkan visual hewan dalam seni ukir. Proses stilisasi ini memperlihatkan kecerdasan estetika masyarakat Jepara dalam mengolah bentuk. Alih alih menampilkan figur secara langsung, bentuk visual diurai, disamarkan, dan diubah menjadi sulur, daun, serta bunga. Dari proses itu lahir ornamen yang tetap indah, tetapi juga selaras dengan nilai keagamaan dan budaya pada masanya.

Teratai menjadi salah satu simbol utama dalam karya ini. Dalam berbagai pemaknaan, bunga teratai melambangkan pemurnian dan kesucian batin. Teratai tumbuh dari lingkungan berair, namun mampu mekar dengan indah di atas permukaan. Karena itu, ia sering dibaca sebagai lambang perjalanan manusia menuju kejernihan, derajat yang tinggi, dan kemurnian hati. Dalam ukiran Jepara, penyederhanaan bentuk teratai sering diwujudkan sebagai lung lungan atau sulur yang menjalar.

Pada bingkai Anteng Manteng, sulur sulur tersebut bergerak mengelilingi potret Sosrokartono. Geraknya tidak hanya memperindah bidang kayu, tetapi juga membentuk ruang simbolik. Seolah olah sosok di dalam potret dikelilingi oleh doa, kebajikan, dan nilai nilai luhur. Ukiran yang padat tetapi teratur memperlihatkan bagaimana kayu jati dapat menjadi medium untuk menghadirkan penghormatan, bukan hanya melalui bentuk, tetapi juga melalui makna.

Kayu jati sebagai material utama memberi kekuatan pada karya ini. Serat, warna, dan ketahanannya membuat bingkai tampak kokoh dan berwibawa. Di tangan Apeep Qimo dan Wafi, kayu jati tidak hanya menjadi bahan, tetapi berubah menjadi bahasa visual yang menyatukan potret, ornamen, simbol, dan spiritualitas. Setiap pahatan memperlihatkan ketelitian, sementara keseluruhan bentuk menghadirkan kesan agung namun tetap hening.

Karya ini mengajak kita membaca Sosrokartono bukan hanya sebagai kakak Kartini atau intelektual yang menguasai banyak bahasa, tetapi juga sebagai pribadi yang memiliki kedalaman batin. Potret di tengah bingkai menjadi pusat ingatan, sementara ornamen di sekelilingnya menjadi medan tafsir. Alif, teratai, sulur Mantingan, dan kayu jati saling berhubungan untuk menghadirkan nilai tentang keteguhan, kejernihan, dan laku hidup yang berorientasi pada kebaikan.

Melalui Anteng Manteng, seni ukir Jepara tampil sebagai ruang penghormatan terhadap tokoh dan nilai. Karya ini menunjukkan bahwa ukiran tidak hanya berfungsi menghias, tetapi juga dapat menjadi bahasa untuk menyampaikan pandangan hidup. Di dalamnya, kita menemukan pertemuan antara sejarah keluarga Kartini, warisan intelektual Sosrokartono, spiritualitas Jawa, dan tradisi ornamen Mantingan yang terus hidup dalam seni ukir Jepara.

Anteng Manteng

A frame can be more than a place to present a portrait. In Anteng Manteng, a work exhibited in TATAH 2026 at the National Museum of Indonesia, the frame becomes an interpretive space that brings together the figure of Raden Mas Pandji Sosrokartono, Javanese spirituality, the symbol of Alif, and the ornamental language of Jepara. The work does not only frame the face of a figure; it also frames ideas of inner steadiness, intelligence, service, and a way of life grounded in truth.

Anteng Manteng is a work by Apeep Qimo and Wafi, created in 2026. It uses teak wood and measures 122 x 198 x 10 cm. Visually, the work presents a portrait of Raden Mas Pandji Sosrokartono at the center, surrounded by a teak wood carved frame that is dense, tall, and full of detail. The tendrils, lotus flowers, decorative curves, and the Alif symbol at the top make the work feel like a space of homage to the figure it frames.

Raden Mas Pandji Sosrokartono was born on April 10, 1877, in Mayong. He was the son of Bupati Sosroningrat and Mas Adjeng Ngasirah. Within Kartini’s family, Sosrokartono held an important place. Since childhood, he was one of Kartini’s main supporters, especially in providing quality reading materials and broadening his younger sister’s intellectual horizons. From this brother-and-sister relationship, we can see that Kartini’s great ideas did not grow alone, but were also supported by a family environment attentive to knowledge.

Sosrokartono later pursued his education in the Netherlands. He first studied at the Delft Polytechnic, then shifted to the study of Eastern languages at Leiden University. This choice shows the breadth of his interests and the sharpness of his intellect. He was known as a polyglot with extraordinary intelligence. His ability to master many languages earned him respect in academic circles. Prof. Kern and Prof. de Goeje even praised him as one of their best students.

Sosrokartono’s intelligence cannot be read only as academic ability. In the course of his life, he was also known for his attention to wisdom, spirituality, and inner practice. For that reason, the presence of the Alif symbol at the top of the frame becomes highly significant. Alif is not present merely as decoration, but as a sign containing deep meaning and made with inward appreciation.

In Sosrokartono’s understanding, Alif has many layers of meaning. It can be understood as a symbol of oneness in reality, or kasunyatan. Alif can also be read as the fusion and unity of the four fa’al of the soul known as Catur Murti. Further still, Alif becomes a symbol of every individual’s inner disposition: the steadfastness of the human soul before the Creator. Within it is an invitation to live by truth, virtue, and clarity of the heart.

The title Anteng Manteng reinforces this reading. Anteng can be understood as a state of calm, not easily shaken, and not hurried. Manteng points to a focused, steady attitude directed toward a single center of awareness. Read together with the figure of Sosrokartono and the symbol of Alif, the title presents an image of a person who preserves inner calm while holding firmly to a direction in life. Calm does not mean passivity, but the ability to order oneself amid a moving world.

The teak wood frame of the work is decorated with tendrils and lotus flowers. These motifs are inspired by Mantingan ornament, which has developed since the establishment of Mantingan Mosque in 1559. In the history of Jepara carving, Mantingan is one of the important sources for the development of ornamental language. The flora, tendrils, and lotus motifs found there are not merely decorative; they also carry symbolic values related to spirituality, acculturation, and refinement of feeling.

Mantingan motifs are often understood as stylized floral forms that, in some contexts, were used to disguise animal imagery in carving. This process of stylization reveals the aesthetic intelligence of Jepara society in transforming form. Instead of presenting figures directly, visual forms were broken down, disguised, and changed into tendrils, leaves, and flowers. From this process emerged ornaments that remained beautiful while also aligning with the religious and cultural values of their time.

The lotus is one of the main symbols in this work. In many readings, the lotus represents purification and inner purity. It grows from a watery environment but blooms beautifully above the surface. Because of this, it is often read as a symbol of a human journey toward clarity, higher dignity, and a pure heart. In Jepara carving, the simplified lotus form often appears as lung-lungan, or creeping tendrils.

In the frame of Anteng Manteng, these tendrils move around Sosrokartono’s portrait. Their movement does not only beautify the wooden surface; it also forms a symbolic space. It is as if the figure in the portrait is surrounded by prayer, virtue, and noble values. The carving, dense yet ordered, shows how teak wood can become a medium of homage, not only through form but also through meaning.

Teak wood as the main material gives the work its strength. Its grain, color, and durability make the frame appear firm and dignified. In the hands of Apeep Qimo and Wafi, teak wood becomes not merely material, but a visual language that unites portrait, ornament, symbol, and spirituality. Each carving reveals precision, while the overall form creates an impression that is noble yet quiet.

This work invites us to read Sosrokartono not only as Kartini’s older brother or as an intellectual who mastered many languages, but also as a person with deep inner life. The portrait at the center becomes the focus of memory, while the ornament around it becomes a field of interpretation. Alif, lotus, Mantingan tendrils, and teak wood are connected to present values of steadiness, clarity, and a life oriented toward goodness.

Through Anteng Manteng, Jepara carving appears as a space of homage to figures and values. The work shows that carving does not only function as decoration, but can also become a language for expressing a worldview. Within it, we find an encounter between the history of Kartini’s family, Sosrokartono’s intellectual legacy, Javanese spirituality, and the Mantingan ornamental tradition that continues to live in Jepara woodcarving.

Sorotan Rekomendasi