Artefak Mantingan dan Jejak Dua Wajah Sejarah Jepara

Dalam pameran Tatah 2026 yang akan digelar di Museum Nasional Indonesia, publik akan diperkenalkan pada sejumlah artefak langka yang jarang terlihat. Salah satu yang paling menonjol adalah artefak dari dinding Masjid Mantingan Jepara. Sebuah relief yang kini tidak lagi terpasang di lokasi asalnya, namun menyimpan pertanyaan besar tentang sejarah dan peralihan budaya Jepara.

Penjelasan mengenai artefak ini disampaikan oleh Dr. Akhmad Nizam, S.Sn., M.Sn., akademisi seni rupa dan pengajar di Institut Seni Indonesia Yogyakarta. Saat ini ia menjabat sebagai Koordinator Program Studi Kriya dan terlibat aktif dalam kajian serta pengembangan seni kriya. Dalam Tatah 2026, Nizam menjadi salah satu tim riset yang menyoroti artefak Mantingan sebagai simpul penting sejarah seni ukir Jepara.

Artefak “Dua Muka” dari Mantingan

Menurut Nizam, artefak Mantingan yang akan dipamerkan memiliki karakter unik dan problematik. Relief tersebut kerap disebut sebagai artefak “dua muka”.

“Satu muka jelas menandakan ada figur yang menggambarkan cerita Ramayana, sementara satu muka lainnya menunjukkan gaya khas seni ukir Mantingan,” jelasnya.

Di satu sisi, relief figuratif mengingatkan pada pahatan candi-candi dengan narasi epik Hindu. Di sisi lain, muncul ornamen sulur tumbuh-tumbuhan, khususnya lotus yang menjadi ciri khas Mantingan Jepara. Dualitas ini membuka ruang tafsir tentang proses perubahan visual yang terjadi pada artefak tersebut.

Pertanyaan Sejarah yang Belum Tuntas

Keberadaan dua bahasa rupa dalam satu artefak memunculkan pertanyaan yang hingga kini belum memiliki jawaban pasti. Nizam menyebut artefak ini sebagai salah satu contoh paling menarik dari kompleksitas sejarah visual Jepara.

“Relief ini cukup kontroversial karena menyisakan banyak pertanyaan yang sampai sekarang belum ada jawaban yang memuaskan,” ungkapnya.

Apakah relief Ramayana tersebut digantikan dengan motif sulur lotus? Ataukah sejak awal artefak ini memang dirancang agar dapat dibaca dari dua sisi? Ketidakpastian inilah yang justru memperkaya nilai artefak tersebut sebagai bahan kajian akademik dan kuratorial.

Dari Dinding Masjid ke Ruang Museum

Artefak Mantingan ini sebelumnya merupakan bagian dari dinding Masjid Mantingan, sebelum akhirnya dilepas dan tidak lagi terpasang di lokasi aslinya. Dalam Tatah 2026, artefak tersebut dihadirkan kembali dalam konteks museum.

Perpindahan ruang ini bukan dimaksudkan untuk mencabut makna religiusnya, melainkan membuka kemungkinan pembacaan baru. Museum menjadi ruang refleksi, tempat artefak dapat dibaca sebagai penanda perjumpaan budaya Hindu, Islam dan tradisi lokal yang membentuk identitas Jepara.

Akhmad Nizam Kunjungan Ke Jepara

Artefak sebagai Kunci Membaca Tatah 2026

Bagi Nizam, artefak Mantingan berfungsi sebagai pintu masuk untuk memahami semangat Tatah 2026 secara keseluruhan. Artefak ini menunjukkan bahwa seni ukir Jepara tumbuh melalui proses adaptasi dan transformasi yang panjang, bukan dari satu sumber tunggal.

Melalui artefak “dua muka” ini, publik diajak melihat bahwa seni ukir Jepara lahir dari dialog lintas zaman, lintas keyakinan dan lintas estetika sebuah proses kreatif yang terus berlanjut hingga hari ini.

Kehadiran artefak Mantingan dalam Tatah 2026 menegaskan bahwa pameran ini tidak hanya menampilkan keterampilan teknis ukir, tetapi juga mengangkat sejarah yang berlapis dan problematis. Artefak tersebut menjadi saksi bagaimana Jepara membangun identitas visualnya melalui perjumpaan budaya yang kompleks.

Dengan memamerkannya di Museum Nasional Indonesia, Tatah 2026 membuka kembali pertanyaan-pertanyaan lama dan mengundang publik untuk ikut memikirkan jawabannya.

Sorotan Rekomendasi