- Home
- Uncategorized
- Bedah Tema TATAH 2027: Apa Itu Aliyan | Kagunan | Jepara?
Bedah Tema TATAH 2027: Apa Itu Aliyan | Kagunan | Jepara?
JEPARA — “Aliyan | Kagunan | Jepara”. Tiga kata itu menjadi tema TATAH 2027, pameran seni ukir Jepara edisi kedua yang akan digelar di Museum Nasional Indonesia, Jakarta, pada April 2027. Apa sebenarnya maknanya? Para kurator memaparkan dalam acara sosialisasi dan sharing kuratorial di Enjang,Ngabul, Tahunan, Jepara, Minggu (4/10/2026).
Aliyan: kesadaran berpindah posisi
Kurator Suwarno Wisetrotomo menjelaskan, “aliyan” dimaknai sebagai kesadaran untuk berpindah posisi atau bertransformasi. Kata ini menantang para seniman ukir untuk tidak berhenti pada bentuk-bentuk lama.
“Pilihan diksi aliyan kagunan itu menantang kita semua untuk berpikir, menemukan kreativitas baru terhadap praktik seni ukir Jepara,” kata Suwarno.

Kagunan: tiga pengertian dari kamus Jawa 1939
Untuk kata “kagunan”, Suwarno merujuk pada Baoesastra Jawa karya Poerwadarminta tahun 1939. Kata dasarnya adalah “guna”, dan memiliki tiga pengertian.
Pertama, kepandaian, kecerdasan, atau kepintaran. Kedua, “yiyasan”, yakni hasil buatan atau karya yang dibuat dengan elok dan indah. Ketiga, curahan budi daya, pikiran, dan perasaan manusia untuk menciptakan keindahan, salah satunya disebut ukir-ukiran.
Menariknya, para kurator sengaja tidak memakai kata “seni” dalam tema ini. Nano Warsono, penggagas tema, menjelaskan bahwa kata “kagunan” lebih tepat untuk merangkul karya dari spektrum yang variatif.
“Kita tidak perlu memperdebatkan antara karya fungsional dan nonfungsional, atau karya seni terapan dan non terapan. Bagaimana semua itu kita hadirkan mempunyai nilainya sendiri-sendiri,” ujar Nano.
Akar dan batang
Nano menganalogikan perjalanan TATAH sebagai pohon. Bila TATAH 2026 bertema “Suluk | Sulur | Jepara” adalah akar, maka TATAH 2027 adalah batangnya.

“Kalau Suluk Sulur Jepara itu adalah akar, maka Aliyan Kagunan Jepara adalah tubuhnya, batangnya. Apa yang sudah kita tanam sebagai akar yang kuat, kami harapkan bisa muncul di sini sebagai batang-batang yang berbeda tetapi akarnya sama,” katanya.
Edisi pertama dulu mengajak seniman melacak akar, genealogi, dan sejarah seni ukir. Edisi kedua ini menantang mereka menumbuhkan batang-batang baru: bentuk, fungsi, dan gagasan yang berbeda tanpa kehilangan akarnya.
Gagasan kagunan juga dikaitkan dengan pemikiran R.A. Kartini. Nano mengutip pandangan Kartini bahwa keahlian seharusnya setara dengan kemakmuran yang didapatkan.
“Keahlian itu setara dengan kemakmuran yang dia dapatkan. Ini yang sedang kami usahakan melalui pameran TATAH, bagaimana mengangkat derajat dari keahlian itu,” ujar Nano, seniman asal Jepara itu.
Bagi para calon peserta open call, pesannya jelas, ukiran tidak dimaknai sekadar ornamen. Seperti disampaikan kurator Nurrohmad, memaknai ukir tidak berhenti pada hiasan, melainkan pada keluasan gagasan di baliknya.
Pendaftaran open call TATAH 2027 dibuka sampai 24 Oktober 2026. Informasi pendaftaran dapat menghubungi WhatsApp TATAH di +62 811-2509-9981 atau mengunjungi www.tatah.id.


