Gong Senen

Dalam tradisi lisan masyarakat Jepara, Gong Senen tidak hanya dikenang sebagai benda pusaka, tetapi juga sebagai kisah tentang kehadiran, kehilangan, dan kekuatan simbolik yang terus hidup dalam ingatan kolektif. Gong ini disebut dibuat oleh Adipati Tjitrosoma I dan kemudian diteruskan oleh Adipati Tjitrosoma II. Melalui bentuk, ornamen, dan cerita yang menyertainya, Gong Senen menjadi salah satu penanda penting dalam membaca hubungan antara seni ukir, spiritualitas, kekuasaan, dan jiwa ksatria Jepara.

Karya yang dihadirkan dalam Pameran TATAH 2026 ini merupakan reproduksi oleh Rumah Kartini yang dibuat pada tahun 2015 dengan ukuran 58 x 14 x 68 cm. Reproduksi ini menjadi upaya untuk menghadirkan kembali ingatan terhadap Gong Senen yang dalam cerita lisan pernah memiliki kedudukan khusus di tengah masyarakat. Ia bukan sekadar tiruan bentuk, melainkan usaha untuk merawat memori tentang pusaka, bunyi, dan nilai yang melekat pada sejarah Jepara.

Ungkapan “Soko rak ono dadi ono, trus rak ono lan dianakno” menjadi salah satu kalimat magis yang dilekatkan pada Gong Senen. Dalam tradisi Jawa, ungkapan seperti ini tidak hanya dibaca sebagai kata, tetapi juga sebagai penanda daya spiritual. Ia menggambarkan sesuatu yang hadir dari ketiadaan, kemudian menghilang, namun tetap dihadirkan kembali dalam ingatan, cerita, dan keyakinan masyarakat.

Dalam cerita lisan, Gong Senen dikisahkan muncul secara tiba tiba saat pisowanan Adipati Tjitrosomo. Pisowanan merupakan bentuk persembahan atau kehadiran masyarakat kepada penguasa daerah, sekaligus simbol persatuan, kerukunan, dan komitmen bersama dalam membangun wilayah. Gong ini disebut hanya dapat dibunyikan oleh masyarakat Senenan. Pada masa lalu, bunyi Gong Senen dipercaya digunakan untuk memanggil para ksatria agar datang dan bertanding di alun alun Jepara. Bahkan suaranya diyakini dapat terdengar hingga wilayah Tahunan dengan radius sekitar 3 km.

Pameran Seni Ukir Tatah 2026 Menampilkan Gong Senen

Pada tahun 1960, Gong Senen dilaporkan menghilang. Menurut para sesepuh yang masih mengingatnya, Gong Senen sebenarnya bukan hanya satu instrumen, melainkan bagian dari kumpulan gamelan. Kehilangannya membuat kisah tentang Gong Senen semakin kuat dalam ingatan masyarakat. Ia tidak hanya dikenang sebagai benda yang pernah ada, tetapi juga sebagai pusaka yang diyakini mengandung kekuatan mistis dan nilai religius yang tinggi.

Bagian penting dari Gong Senen adalah rangkanya yang disebut gayor. Gayor ini bukan hanya penyangga gong, tetapi juga ruang utama tempat narasi visual dibangun. Ukirannya dihiasi motif ngremit dan ngrawit. Ngremit dapat dipahami sebagai bentuk yang indah, mengagumkan, dan rumit, sementara ngrawit menunjukkan tingkat detail yang halus. Keduanya mencerminkan keterampilan ukir khas Jawa yang membutuhkan ketelitian, kesabaran, dan penguasaan teknik yang tinggi.

Pada gayor Gong Senen, kekayaan ukir Jawa berpadu dengan pengaruh barok dari Eropa. Hal ini tampak pada ornamen sulur suluran yang rumit, lengkungan yang dinamis, kesan dramatis, serta susunan berlapis pada tubuh rangka. Perpaduan tersebut memperlihatkan bagaimana Jepara sejak lama menjadi ruang pertemuan berbagai pengaruh visual. Gaya lokal tidak hilang, tetapi justru berkembang melalui perjumpaan dengan bentuk bentuk baru.

Pada bagian atas gayor terdapat hiasan burung merak yang berdiri tegak. Burung merak dapat dibaca sebagai simbol keluhuran, keindahan, dan martabat bangsawan. Sementara itu, pada bagian samping terdapat dua naga Jawa yang berfungsi sebagai penjaga jagat cilik dan jagat gede, yaitu mikrokosmos dan makrokosmos. Dua naga tersebut digambarkan saling menggigit tubuh lawannya hingga membentuk lingkaran sempurna sebagai bingkai gong. Bentuk ini menghadirkan kesan penjagaan, keseimbangan, dan kekuatan yang terus berputar.

Narasi Gong Senen semakin kuat melalui kehadiran tiga tokoh pada gayor, yaitu Mbah Tunggul Wulung, Mbah Sentono, dan Mbak Citrosoemo. Bersama empat naga pelindung, tokoh tokoh ini memperkaya pembacaan Gong Senen sebagai simbol pemanggilan jiwa ksatria Jepara. Ia tidak hanya berbicara tentang bunyi, tetapi juga tentang keberanian, perlindungan, kehormatan, dan hubungan manusia dengan dunia spiritual.

Gong Senen dibuat dengan keterampilan warisan khas Jepara. Teknik memahatnya membutuhkan kesabaran dan ketelitian tinggi. Setiap bagian ukiran dikerjakan dengan perhatian terhadap bentuk, kedalaman, ritme, dan detail. Proses perakitannya menggunakan nagel, yaitu kuncian dari kayu yang memperlihatkan kecerdasan teknik tradisional. Setelah itu, karya disempurnakan melalui proses penghalusan dan penggunaan pewarna alami yang telah dikenal sejak dahulu.

Melalui karya reproduksi ini, Gong Senen kembali hadir sebagai pintu untuk membaca Jepara dari sisi yang lebih dalam. Ia mempertemukan seni ukir, tradisi lisan, spiritualitas, teknologi kayu, dan ingatan tentang keberanian masyarakat Jepara. Dari sebuah gong dan gayor yang penuh ukiran, kita dapat melihat bahwa karya pusaka tidak hanya menyimpan bentuk, tetapi juga suara, kisah, nilai, dan jiwa zaman yang terus diwariskan.

Sorotan Rekomendasi