- Home
- Uncategorized
- Jepara sebagai “Kitab” yang Hidup: Refleksi Kurator dalam Menyusuri Kota Ukir
Jepara sebagai “Kitab” yang Hidup: Refleksi Kurator dalam Menyusuri Kota Ukir
Selama tiga hari dua malam, Dr. Suwarno Wisetrotomo, M.Hum., kurator seni dan akademisi yang memiliki kedekatan panjang dengan dunia budaya Nusantara, menyusuri sebagian kecil Jepara, sepotong waktu yang baginya justru membuka kembali pintu ingatan masa kecil tentang kota ini. Perjalanan singkat itu tidak hanya mempertemukannya dengan para seniman, tukang ukir, pengusaha dan para pelaku industri kreatif, tetapi juga mengonfirmasi sebuah keyakinan lama, Jepara bukan sekadar tempat produksi ukiran, melainkan kota budaya dengan ekosistem kreatif yang tumbuh kuat dari generasi ke generasi.

Bagi Dr. Suwarno, Jepara adalah “kitab tebal”, penuh isi, panjang dan tidak bisa hanya dibaca sambil lalu. Kota ini harus dipelajari, dihayati dan ditemui melalui manusia-manusia kreatif yang menjaganya tetap hidup. Dalam konteks itulah ia merasakan kembali denyut Jepara sebagai kota ukir, tempat ada proses panjang yang menautkan keterampilan tangan, kedalaman rasa, sampai laku batin.
Memahami Jepara melalui Para Pelakunya
Selama eksplorasi, Dr. Suwarno bertemu berbagai jenis pelaku seni ukir, ada yang mengaku tukang ukir, ada yang menyebut diri pengukir, dan ada pula yang berperan sebagai pengusaha. Ketika berbincang dengan mereka, ia melihat bahwa ketiganya justru berada dalam satu ekosistem yang saling menguatkan, tukang sebagai penjaga keterampilan, pengukir sebagai pembangun estetika dan pengusaha sebagai jembatan menuju dunia yang lebih luas.

Namun, ada satu hal yang selalu ingin ia tegaskan, istilah “tukang” tidak boleh diposisikan sebagai kelas dua. Dalam percakapan keseharian, kata “tukang” sering dianggap lebih rendah dibanding istilah “seniman,” seakan-akan keterampilan manual tidak memerlukan kedalaman intelektual atau rasa.
Dr. Suwarno menolak anggapan itu.
“Tukang adalah kunci,” tegasnya.
Tanpa tukang, tidak akan lahir karya-karya ukir spektakuler yang dilihatnya selama kunjungan tersebut, karya yang tidak hanya indah, tetapi juga mencerminkan teknik, pengalaman, dan dedikasi luar biasa.
Dalam konteks tradisi Nusantara, menurutnya, seorang tukang yang bekerja dengan sepenuh jiwa dapat naik level menjadi undagi, dan pada puncaknya menjadi empu. Empu adalah sosok yang tidak lagi hanya bekerja untuk imbalan material, tetapi mencapai tahap bhakti yoga, mengabdikan hidup sepenuhnya pada profesi, bekerja dengan kesungguhan total, ketekunan dan laku spiritual.
Jepara dan Ekosistem Kreatif yang Mengakar
Temuan Dr. Suwarno selama di Jepara menunjukkan bahwa ekosistem kreatif di kota ini bukan fenomena baru. Jepara sudah lama tumbuh sebagai ruang di mana craftsmanship, tradisi, teknik, dan nilai saling terkait. Seni ukir bukan hanya pekerjaan; ia adalah praktik budaya yang diwariskan, dijaga dan ditata ulang dari masa ke masa.

Ekosistem ini lahir dari:
- praksis teknis pengukiran yang sangat kaya,
- tradisi nilai yang mengiringi proses kerja,
- silang budaya yang memperkaya bentuk visual Jepara,
- dan komunitas pelaku yang menjaga keberlanjutan laku ukir.
Semua unsur itu memperkuat gagasan kuratorial TATAH: Suluk – Sulur – Japara yang membaca seni ukir sebagai perpaduan antara laku batin (suluk), struktur dan logika visual (sulur), serta identitas kultural Japara sebagai ruang silang sejarah.
Melihat Jepara dengan Cara yang Lebih Dalam
Bagi Dr. Suwarno, perjalanan singkat itu justru memperjelas satu hal, Jepara harus dilihat dengan cara yang berbeda. Kota ini tidak cukup hanya dinilai dari sisi produksi mebel atau keterampilan teknis pengukirnya. Jepara harus dilihat sebagai ruang hidup yang memiliki nilai, ajaran, tradisi, filosofi dan estetika yang terus berkembang.

Ia mengatakan bahwa banyak karya yang ia lihat “tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata” begitu halus, begitu presisi, begitu hidup. Karya yang menghadirkan perpaduan antara keterampilan, ketelitian, pengalaman panjang dan ketulusan.
Pada akhirnya, baginya, karya-karya ukir Jepara adalah cerminan laku manusia, mereka yang memilih profesi ini bukan sekadar untuk mencari nafkah, tetapi karena ada panggilan batin untuk menghadirkan karya terbaik bagi dirinya, lingkungannya dan tradisi yang ia jaga.


