- Home
- Uncategorized
- Jepara sebagai Ruang Keragaman: Membaca Identitas Budaya melalui Perspektif Dr. Arif Akhyat
Jepara sebagai Ruang Keragaman: Membaca Identitas Budaya melalui Perspektif Dr. Arif Akhyat
Dalam rangkaian kerja riset program TATAH: Suluk – Sulur – Japara, salah satu sosok penting yang terlibat adalah Dr. Arif Akhyat, M.A., dosen sejarah Fakultas Ilmu Budaya Universitas Gadjah Mada (UGM). Sebagai sejarawan yang lama mengkaji perkembangan sosial-budaya Jawa, kehadirannya memberikan kedalaman analitis dalam memahami bagaimana Jepara membentuk identitasnya, bukan hanya sebagai kota ukir, tetapi sebagai ruang silang budaya yang terus bertransformasi.
Dalam pandangannya, Jepara tidak dapat dibaca secara tunggal. Ia bukan kota dengan satu narasi, satu wajah, atau satu tradisi. Sebaliknya, Jepara adalah ruang keragaman, tempat berbagai pengaruh budaya bertemu, menempel, menyatu, lalu berubah menjadi sesuatu yang khas.

“Keragaman itulah yang kemudian apakah menjadi kontinuitas dari cara berpikir kosmopolitan atau ini merupakan bentuk hibridisasi budaya Jepara, menjadi persoalan yang penting perlu dikaji lebih dalam,” jelas Dr. Arif Akhyat.
Jepara, menurutnya, bukan sekadar pusat karya ukir yang terkenal luas. Tradisi ukir itu sendiri merupakan hasil daripada perjumpaan panjang berbagai budaya: pengaruh pesisir, Islam, Tionghoa, Eropa, hingga tradisi Jawa pedalaman. Jepara adalah hasil dari pertemuan-pertemuan itu, bukan menolak satu sama lain, tetapi mengolah dan menjadikannya bagian dari identitas baru.
Identitas Jepara: Bukan Satu
Yang menarik dari penjelasan Dr. Arif adalah konsepnya tentang identitas. Selama ini, masyarakat sering memahami identitas budaya sebagai sesuatu yang tunggal, baku, dan tetap. Namun Jepara justru menggugurkan asumsi itu.
“Identitas Jepara ternyata tidak ada satu. Mereka banyak, berbagai identitas,” ungkapnya.
Keragaman ini bukan kelemahan, melainkan justru kekuatan. Jepara menjadi besar karena kemampuannya merangkul perbedaan, bukan karena keseragaman. Dari seni ukir, produksi mebel, tradisi pesisir, hingga warisan kerajaan Kalinyamat, Jepara tumbuh melalui proses asimilasi kreatif atau dalam istilah Dr. Arif, proses hibridisasi yang menghasilkan identitas baru yang lebih kaya.
Identitas Jepara adalah percampuran, tetapi bukan percampuran yang kehilangan arah. Sebaliknya, keragaman itu menegaskan sesuatu yang lebih dalam: bahwa masyarakat Jepara memiliki kemampuan untuk menata ulang pengaruh luar, menempatkan nilai lokal sebagai pusat, lalu melahirkannya kembali dalam bentuk estetika dan praktik budaya yang khas.
Jepara dalam Bingkai TATAH: Suluk – Sulur – Japara
Pemikiran Dr. Arif ini sangat relevan dengan arah kuratorial TATAH.
Dalam konsep Suluk – Sulur – Japara, seni ukir dibaca bukan hanya sebagai keterampilan teknis, tetapi sebagai:
- Suluk – laku batin, piwulang, dan nilai yang membentuk praktik budaya
- Sulur – struktur visual yang menjadi pengikat estetika Jepara
- Japara – identitas yang lahir dari dialektika sejarah, keragaman dan perjumpaan budaya

Keragaman yang dibicarakan Dr. Arif bukan sekadar latar sejarah, tetapi bagian dari DNA budaya Jepara. Bahwa Jepara tidak pernah tunggal. Ia selalu tumbuh dalam banyak bentuk, banyak suara dan banyak jejak.
Kesimpulannya, Jepara adalah ruang kosmopolitan yang diolah dalam bahasa lokal, menjadi tradisi baru yang tetap menghormati akar tetapi tidak berhenti bertransformasi. Melalui proyek TATAH, perspektif ini menjadi jembatan penting untuk memahami seni ukir Jepara bukan sebagai benda statis, tetapi sebagai praktik budaya yang hidup.


