- Home
- Uncategorized
- Kasih Sayang Ibu
Kasih Sayang Ibu
Tidak semua karya ukir Jepara hadir melalui kepadatan ornamen, sulur yang menjalar, atau bunga yang rumit. Pada karya Kasih Sayang Ibu, M. Chody memilih bahasa bentuk yang lebih sunyi, sederhana, dan arkaik. Karya ini tidak berusaha memukau melalui detail yang ramai, melainkan melalui kekuatan tema yang sangat dekat dengan kehidupan manusia, yaitu hubungan ibu dan anak.
Kasih Sayang Ibu merupakan karya M. Chody yang dibuat pada tahun 1995. Karya ini menggunakan material kayu jati dengan ukuran 36 x 42 x 82 cm. Karya ini menjadi salah satu karya Chody yang turut dipamerkan di Museum Nasional Indonesia Jakarta dalam Pameran TATAH 2026 yang berlangsung mulai 29 April hingga 5 Juli 2026.
Secara visual, karya ini menggambarkan seorang ibu yang sedang menyusui kedua anaknya. Sosok ibu ditempatkan sebagai pusat bentuk, sementara dua anak berada dalam dekapan tubuhnya. Gestur ini menghadirkan kesan perlindungan, kedekatan, dan pengorbanan. Ibu tidak hanya tampil sebagai figur biologis, tetapi juga sebagai lambang kasih, sumber kehidupan, dan tempat pertama manusia mengenal rasa aman.
Bentuk figur pada karya ini dideformasi menjadi lebih sederhana. Tubuh ibu dan anak tidak digambarkan secara naturalistik, melainkan dipadatkan dalam bentuk yang statis, kaku, dan penuh ketenangan. Kesederhanaan bentuk tersebut justru memberi kekuatan tersendiri. Kita tidak diarahkan untuk melihat detail anatomi, melainkan merasakan inti emosional dari karya, yaitu kasih sayang yang utuh dan tidak dibuat berlebihan.
Pilihan bentuk yang cenderung kaku memperlihatkan karakter estetik M. Chody. Ia tidak selalu mengikuti kecenderungan ukir Jepara yang identik dengan kerumitan detail. Dalam karya ini, ia menahan diri dari ornamen yang berlimpah. Tidak tampak sulur sulur yang bergerak dinamis, tidak ada bunga bunga yang memenuhi bidang, dan tidak ada dekorasi rumit yang menguasai permukaan kayu. Yang hadir adalah figur ibu dan anak yang dibuat lugas, hening, dan langsung.
Dari sudut pandang seni ukir Jepara, karya ini menjadi menarik karena menghadirkan perbedaan. Jepara kerap dikenal melalui ukiran dekoratif yang padat dan rinci. Namun Kasih Sayang Ibu menunjukkan bahwa kekuatan ukir tidak selalu terletak pada banyaknya detail. Kekuatan itu juga dapat lahir dari keberanian menyederhanakan bentuk, memilih tema universal, dan membiarkan kayu berbicara melalui keheningan visualnya.
Material kayu jati memberi karakter penting pada karya ini. Permukaannya yang tampak tua, retak, dan memiliki jejak usia menambah kesan arkaik. Kayu tidak ditutup sepenuhnya oleh penghalusan yang berlebihan. Bekas serat, perubahan warna, dan tekstur alami justru memperkuat rasa waktu pada karya. Dari sana, patung ini terasa seperti benda yang menyimpan memori panjang tentang kehidupan, tubuh, dan keluarga.
Tema ibu yang menyusui dua anak juga membawa pembacaan tentang keberlimpahan kasih. Menyusui bukan hanya tindakan fisik, tetapi juga simbol pemberian hidup. Seorang ibu memberikan tubuhnya, waktunya, dan perhatiannya kepada anak. Dalam karya ini, tindakan tersebut dipahat menjadi bentuk yang sederhana namun kuat. Tidak ada ekspresi dramatis yang berlebihan, tetapi ada ketenangan yang justru terasa mendalam.

Karya ini dapat dibaca sebagai penghormatan terhadap peran ibu dalam kehidupan. Ibu menjadi sumber awal dari pertumbuhan manusia. Dalam dekapan ibu, anak menerima makanan, perlindungan, dan kedekatan emosional. M. Chody menangkap momen itu bukan dengan gaya yang manis atau dekoratif, tetapi dengan bentuk yang padat dan jujur. Kesederhanaannya membuat pesan karya terasa langsung.
Kekakuan bentuk pada patung ini juga dapat menghadirkan kesan primitif atau purba. Hal ini sejalan dengan kecenderungan Chody yang memilih unsur arkaik sebagai bahasa estetisnya. Arkaik di sini bukan berarti tertinggal, melainkan merujuk pada rasa bentuk yang dasar, kuat, dan dekat dengan akar kebudayaan. Patung ini seolah membawa kita pada bahasa rupa yang lebih tua, ketika bentuk manusia dipahat bukan untuk meniru realitas, tetapi untuk menyimpan makna.
Melalui Kasih Sayang Ibu, Chody memperlihatkan bahwa ukiran Jepara memiliki spektrum yang luas. Ia dapat hadir sebagai ornamen rumit, furnitur megah, relief penuh detail, atau patung sederhana yang sarat emosi. Karya ini membuka ruang pembacaan bahwa seni ukir tidak harus selalu meriah untuk menjadi kuat. Kadang, bentuk yang tenang justru lebih mampu menyampaikan nilai yang paling mendasar.
Karya ini juga mengingatkan bahwa kasih sayang adalah tema yang melampaui zaman. Ia tidak membutuhkan ornamen berlebihan untuk dipahami. Seorang ibu yang memeluk dan menyusui anak anaknya sudah cukup menjadi gambaran tentang kehidupan, pengorbanan, dan cinta yang paling awal. Dalam kesederhanaan bentuknya, Kasih Sayang Ibu menghadirkan pesan yang dekat dengan siapa pun.
Sebagai bagian dari TATAH 2026, karya ini memperkaya pembacaan tentang ukir Jepara. Ia menunjukkan sisi lain dari tradisi kayu Jepara, yaitu kemampuan menghadirkan perasaan melalui bentuk yang minimal, arkaik, dan penuh ketenangan. Dari kayu jati yang dipahat sederhana, M. Chody menyampaikan pesan yang sangat manusiawi. Bahwa di balik seluruh sejarah, keterampilan, dan kebudayaan, ada nilai dasar yang selalu menjadi pusat kehidupan, yaitu kasih seorang ibu.


