Membaca TATAH 2026 dari Perspektif Kuratorial Nurrohmad

Sebuah karya seni ukiran Jepara tidak hanya ditempatkan sebagai elemen dekoratif pelengkap. Akan tetapi, dari sudut pandang kuratorial, ukiran justru diposisikan sebagai bahasa sebuah sistem tanda yang menyimpan pengetahuan, pengalaman dan cara berpikir masyarakat Jepara. Pendekatan ini menegaskan bahwa ukiran bukan sekadar indah untuk dilihat, tetapi bermakna untuk dibaca.

Pandangan tersebut disampaikan oleh Nurrohmad, kurator TATAH 2026 yang menaruh perhatian pada relasi antara bahasa visual, sejarah dan produksi pengetahuan. Dalam kurasinya, ia mendorong agar ukiran dibaca sebagai medium narasi yang hidup dan komunikatif.

Nurrohmad Kurator Tatah Jepara 2026

Ukiran Bukan “Pelengkap Penderita”

Nurrohmad menyoroti praktik lama yang kerap menempatkan ukiran hanya sebagai ornamen tambahan hadir untuk mempercantik, tetapi tidak diberi ruang makna.

“Saya sedih melihat ukiran sering kali hanya menjadi pelengkap penderita,” ungkapnya.

Dalam TATAH 2026, posisi tersebut dibalik. Ukiran ditempatkan di pusat narasi pameran, `sebagai subjek yang berbicara, bukan objek yang sekadar melengkapi.

Motif sebagai Bahasa, Ukiran sebagai Narasi

Bagi Nurrohmad, ornamentasi bekerja layaknya bahasa. Jika huruf membentuk kata dan kalimat, maka motif dan ukiran membentuk narasi visual.

“Ornamen atau ukiran itu adalah bahasa, adalah narasi yang ingin kita ceritakan,” jelasnya.

Melalui bahasa visual ini, pameran TATAH 2026 menyampaikan cerita tentang Jepara, tentang sejarahnya, kreativitas masyarakatnya dan daya hidup tradisi ukir yang terus berkembang.

TATAH Sebagai Alat Kuasa Pengetahuan

Dalam kerangka tersebut, tatah, sebagai alat memiliki makna lebih dari fungsi teknis. Tatah dipahami sebagai sarana bagi masyarakat Jepara untuk menguasai pengetahuan yang mereka miliki dan hasilkan.

“TATAH adalah alat di mana masyarakat Jepara, dengan kreativitasnya, bisa menjadi kuasa atas pengetahuannya,” kata Nurrohmad.

Ukiran, dengan demikian, menjadi medium pengetahuan. Menyimpan pengalaman sejarah, keterampilan turun-temurun, serta cara masyarakat membaca dan merespons dunia.

Nurrohmad Kunjungan Pengkaryaan Tatah Di Jepara

Kuratorial yang Memilih untuk Bercerita

Dalam memilih motif dan karya, pertimbangan kuratorial tidak berhenti pada estetika. Yang utama adalah kemampuan motif untuk bercerita memantulkan identitas, sejarah dan dinamika kreativitas Jepara.

Pendekatan ini memastikan bahwa setiap karya dalam TATAH 2026 memiliki konteks dan narasi yang dapat diikuti publik, bukan sekadar dinikmati secara visual.

Melalui pembacaan ukiran sebagai bahasa dan pengetahuan, TATAH 2026 menghadirkan seni ukir Jepara sebagai praktik intelektual sekaligus kultural. Ukiran tidak lagi berdiri di pinggir, tetapi berada di pusat sebagai medium yang menyampaikan cerita, menyimpan pengetahuan, dan membangun kesadaran.

Dalam konteks ini, TATAH bukan hanya pameran karya, melainkan ruang dialog tempat bahasa visual Jepara berbicara dan terus dimaknai ulang.

Sorotan Rekomendasi