Menjaga Kualitas dan Proses TATAH 2026

Dalam persiapan pameran TATAH 2026, kualitas karya tidak dipahami sebagai persoalan hasil akhir semata. Bagi Dr. Suwarno Wisetrotomo, kualitas justru berangkat dari kesinambungan proses, kedalaman makna, serta material dan pengalaman panjang para pengukir yang terlibat. Kunjungan lapangan ke Jepara memperlihatkan bagaimana standar ini dijaga secara ketat dan mengapa ia optimistis pameran ini akan menghadirkan sesuatu yang berbeda.

Warno Dan Nano Melihat Koleksi Karya Dari Chody Art Gallery

Kualitas sebagai Kesinambungan Laku dan Makna

Ketika ditanya mengenai standar kualitas karya, Suwarno menegaskan bahwa yang dijaga bukan hanya aspek teknis, melainkan kesinambungan kemampuan seni ukir itu sendiri, bagaimana ia terawat, terjaga dan diwariskan.

“Standarnya adalah bagaimana kesinambungan kemampuan seni ukir itu sendiri bagaimana terjaga, terawat,” ujarnya.

Kualitas juga terletak pada filosofi dan makna motif. Setiap motif ukiran tidak hadir secara instan, melainkan lahir dari pergulatan panjang antara berbagai unsur budaya.

“Setiap motif adalah tumbuh dari satu pergulatan panjang, bertemunya agama, keyakinan, keterampilan, estetik, artistik yang melebur menjadi laku,” jelasnya.

Dengan demikian, aspek estetika dan artistik dipahami sebagai manifestasi dari proses hidup yang panjang, bukan sekadar komposisi visual.

Suwarno Melihat Langsung Karya Dari Maestro Ukir Jepara Sukarno Di Jalan Pemuda Jepara

Profesionalisme Empu dan Pengukir Terpilih

Suwarno menyatakan tidak memiliki keraguan terhadap kualitas artistik karya-karya yang akan ditampilkan. Hal ini karena TATAH 2026 menghadirkan karya yang dikerjakan oleh para profesional, empu, dan pengukir terpilih dengan pengalaman panjang.

“Materi yang akan kita bawa adalah karya-karya yang dikerjakan oleh para profesional, para empu, pengukir terpilih yang memiliki pengalaman sangat panjang,” ungkapnya.

Pengalaman tersebut tercermin dalam kecermatan, kedalaman, kerumitan, dan kemampuan melahirkan bentuk. Bagi Suwarno, kualitas seperti ini tidak lahir dari proses singkat atau tergesa-gesa.

Material sebagai Bagian dari Sejarah Panjang

Selain laku dan keterampilan, material menjadi aspek ketiga yang dijaga ketat. Kayu yang digunakan bukan sekadar bahan baku, melainkan bagian dari sejarah panjang sebuah karya.

“Material sangat terjaga. Ini kayu-kayu terbaik yang mencerminkan bahwa kayu terbaik tumbuh dari proses panjang,” katanya.

Ia menekankan bahwa kayu terbaik tidak pernah berumur pendek, seperti halnya karya yang lahir dari proses panjang, diciptakan oleh orang-orang dengan pengalaman panjang pula.

“Karya yang lahir dari material yang punya sejarah panjang dan dikerjakan oleh seseorang yang punya pengalaman panjang. lengkap sekali proses ini dilalui,” tambahnya.

Tim Tatah 2026 Kunjungan Ke Chody Art Gallery

Optimisme yang Bertumpu pada Ekosistem

Optimisme Suwarno terhadap TATAH 2026 bukanlah optimisme tanpa dasar. Sejak awal ia telah yakin dan kunjungan lapangan justru memperkuat keyakinan tersebut.

“Sejak awal saya optimis pameran ini akan menarik dan kunjungan kali ini membuat saya semakin yakin,” ujarnya.

Optimisme itu bertumpu pada sejarah panjang dan ekosistem seni ukir Jepara yang telah tumbuh lama. Cara mengelola kayu, tahapan kerja yang benar dan kesadaran terhadap lingkungan menjadi fondasi penting.

“Seni ukir Jepara tidak datang dari cara mengelola kayu yang salah. Setiap proses yang dilalui dengan tahapan yang benar melahirkan karya yang benar,” jelas Suwarno.

Ia menekankan bahwa seni ukir Jepara tidak lahir dari sikap tergesa-gesa.

“Seni ukir tidak pernah lahir dari sikap kembrungsung. Ia dilakoni dengan passion dan kesungguhan jiwa,” tegasnya.

Tanpa laku dan kesadaran tersebut, kerumitan dan kedalaman karya tidak mungkin terwujud.

Tim Tatah Milhat Karya Pak Zabidi Maestro Ukir Jepara

Jepara sebagai Pesan untuk Indonesia

Bagi Suwarno, TATAH 2026 tidak hanya akan menegaskan Jepara sebagai kota ukir, tetapi juga menghadirkan pengetahuan tentang bagaimana Suluk tumbuh menjadi Sulur, lalu membentuk entitas Jepara yang kita kenal hari ini.

“Pameran ini akan mengirim pesan bahwa Jepara bukan sekadar kota ukir, tetapi sebuah entitas pengetahuan yang terus tumbuh,” ujarnya.

Melalui kualitas karya, material, dan proses yang dijaga, TATAH 2026 diharapkan mampu menyampaikan pesan yang lebih luas. Jepara untuk Indonesia, sebuah praktik budaya yang relevan, kontekstual dan berkelanjutan.

Sorotan Rekomendasi