- Home
- Uncategorized
- Menjelajah Ruang Seni dan Tradisi Ukir Jepara
Menjelajah Ruang Seni dan Tradisi Ukir Jepara
Perjalanan tim kurator dan tim riset dalam rangkaian kerja awal menuju pameran TATAH, Suluk – Sulur – Japara dimulai dari salah satu titik paling penting dalam sejarah dan kebudayaan Jepara, Pendopo Kabupaten Jepara. Di tempat yang dahulu menjadi ruang hidup R.A. Kartini ini, tim tidak hanya mengawali riset, tetapi juga melakukan sebuah “ziarah intelektual” menyusuri jejak pemikiran, nilai dan spirit seorang tokoh penting bangsa.

Menjejak Spirit Kartini di Pendopo Jepara
Saat bertemu Bupati Jepara, kunjungan ini menjadi momentum penyatuan visi antara daerah dan tim kuratorial, bagaimana Jepara, sebagai pusat seni ukir dan ruang silang budaya, dapat menampilkan kembali kekuatan estetik dan filosofinya kepada dunia.
Pendopo Kabupaten Jepara, yang dalam sejarah tercatat sebagai Pendopo Kartini, bukan sekadar bangunan pemerintahan. Namun sebagai ruang yang menyimpan memori panjang perjuangan Kartini dalam memperjuangkan pendidikan, kesetaraan, budaya dan seni. Di tempat ini, tim merasakan langsung “spirit Kartini”, gagasan tentang emansipasi, kecintaan pada ilmu dan bagaimana Kartini memperkenalkan karya ukir Jepara ke dunia internasional.

Pak Suwarno dan Dr. Arif Akhyat, dua tokoh yang turut serta dalam riset, menelusuri detail arsitektur pendopo. Pilar-pilar kayu besar, struktur tradisionalnya, serta komposisi ruang yang menyatukan nilai Jawa, kolonial dan jejak pesisir, memberikan pemahaman bahwa estetika Jepara tua hidup melalui perpaduan tradisi dan adaptasi budaya.
Pendopo menjadi titik awal untuk membaca kembali bagaimana Jepara membangun identitas estetiknya, sebuah konsep yang nanti menjadi landasan dalam narasi Suluk Sulur Japara.
Gudang Senenan: Ruang Kreativitas Mas Tris
Perjalanan berlanjut ke salah satu gudang di desa Senenan, kecamatan Tahunan Jepara, tempat berkarya salah satu seniman ukir yang memiliki posisi penting dalam perkembangan ukir kontemporer Jepara, Mas Tris.
Disana, tim bertemu langsung dengan sang pengukir, melihat karya-karya yang ia hasilkan selama bertahun-tahun mulai dari ukiran kontemporer hingga bentuk ukiran yang ia aplikasikan pada mebel Jepara.

Gudang di Senenan ini menjadi ruang yang menunjukkan bagaimana tradisi dan inovasi bisa berjalan berdampingan. Beberapa karya yang dilihat tim adalah relief dengan komposisi floral dan motif alami yang merambat, menjalar, dan berbunga, sejalan dengan konsep sulur, elemen visual yang menjadi tulang punggung estetika ukir Japara.
Melihat langsung bentuk sulur gelung, trubusan dan lung-lungan pada karya Mas Tris memberi gambaran kuat bagaimana motif itu tidak hanya berfungsi sebagai dekorasi, tetapi sebagai struktur yang menata ritme bidang dan kesinambungan bentuk dalam ukiran Jepara.

Pak Hartono: Maestro Relief dari Demaan
Kunjungan berikutnya membawa tim ke Demaan, kediaman dan studio salah satu maestro ukir Jepara, yakni Pak Hartono.
Sebagai pengukir spesialis relief, karya-karyanya terkenal karena tingkat kedetailan yang nyaris ekstrem. Uniknya, ketika mengerjakan ukiran, ia sering menggunakan lup atau kaca pembesar, sebuah teknik kerja yang jarang digunakan oleh pengukir lain, namun menunjukkan tingkat dedikasi dan ketekunan yang luar biasa.

Salah satu karya yang membuat tim terkagum-kagum adalah relief biota laut yang diukir pada kayu. Permainan kedalaman, tekstur, dan detail kecil yang ia ciptakan memperlihatkan bagaimana tradisi ukir Jepara dapat melahirkan karya yang bukan hanya indah, tetapi juga memiliki kekuatan naratif dan rasa.
Koleksi karya yang ia simpan selama puluhan tahun menunjukkan perkembangan estetika yang konsisten namun terus bereksplorasi. Melihat ruang kerjanya seperti membaca perjalanan panjang seni ukir Jepara dari generasi ke generasi, dari empu ke empu baru yang lahir dari ketekunan dan disiplin.

Rangkaian Perjalanan yang Menyatukan Nilai dan Teknik
Dari Pendopo Jepara hingga ruang kerja para maestro, perjalanan tim kurator dan riset ini bukan sekadar kunjungan teknis. Ia menjadi proses memahami kembali bagaimana seni ukir Jepara tumbuh melalui:
- nilai-nilai suluk: laku, niat, etika batin
- bahasa visual sulur: kesinambungan bentuk, ritme bidang, estetika khas
- sejarah silang budaya: percampuran Tionghoa, Islam pesisir, Eropa
- identitas estetik yang terjaga: kehalusan, ketertiban dan rasa dalam ukiran
Perjalanan ini menjadi fondasi penting menuju penyusunan narasi besar pameran TATAH, Suluk – Sulur – Japara, sebuah upaya menghidupkan kembali keindahan, laku dan pengetahuan yang telah membentuk Jepara sebagai pusat seni ukir yang unik di Nusantara.


