Ornamen Mantingan Rama dan Laksmana

Ornamen Mantingan Rama dan Laksmana merupakan salah satu peninggalan penting dari kompleks Masjid Mantingan yang memperlihatkan kekayaan visual, spiritual, dan naratif Jepara pada abad ke 16. Kehadirannya berkaitan erat dengan masa berdirinya Masjid Mantingan, sekitar tahun 1559, ketika berbagai ornamen hias dihadirkan bukan sekadar sebagai pelengkap bangunan, tetapi juga sebagai pembawa makna. Setiap pahatan pada ornamen Mantingan menyimpan lapisan simbol, fungsi, dan nilai yang memperlihatkan bagaimana seni rupa, keyakinan, dan kebudayaan saling bertemu dalam satu ruang.

Pada ornamen Masjid Mantingan, unsur hias dan struktur hias hadir secara bersamaan. Keduanya tidak berdiri sendiri, melainkan saling menguatkan untuk membentuk bahasa visual yang khas. Ornamen tidak hanya memperindah bangunan, tetapi juga menjadi medium untuk menyampaikan gagasan tentang kehidupan, spiritualitas, dan ingatan budaya. Dalam konteks ini, Ornamen Mantingan Rama dan Laksmana memiliki posisi yang menarik karena menampilkan bentuk figuratif yang berbeda dari sebagian besar ornamen Mantingan lainnya.

Banyak ornamen di Masjid Mantingan menampilkan makhluk hidup yang telah distilir atau disamarkan ke dalam bentuk tumbuhan. Proses stilisasi tersebut menunjukkan adanya penyesuaian visual terhadap konteks keagamaan dan budaya pada masanya. Namun, relief Rama dan Laksmana justru memperlihatkan figur manusia dengan bentuk yang lebih nyata. Kedua tokoh digambarkan dengan pendekatan yang relatif realistis, sehingga karya ini menjadi salah satu contoh penting tentang keberanian visual dan keragaman bahasa rupa yang hadir di Mantingan.

Relief ini dipahat pada batu gamping yang kini telah mengalami proses kristalisasi. Kondisi material tersebut memperlihatkan perjalanan panjang benda ini sebagai artefak yang telah melewati rentang waktu berabad abad. Dalam tradisi lisan, karya ini disebut sebagai hasil pahatan Patih Sungging Badar Duwung atau Tjie Wie Gwan, sosok yang kerap dikaitkan dengan kehalusan seni pahat Mantingan. Nama tersebut memperkuat kedudukan ornamen ini sebagai bagian dari ingatan kolektif masyarakat Jepara mengenai keterampilan, estetika, dan warisan seni rupa masa lampau.

Pada salah satu sisi relief, tampak bentuk gajah yang telah distilir dengan unsur flora seperti daun, sulur, dan bunga teratai. Kehadiran gajah dan unsur tumbuhan memperlihatkan bagaimana bentuk makhluk hidup dapat diolah menjadi komposisi hias yang lembut dan simbolik. Bunga teratai memiliki makna penting dalam tradisi Hindu Buddha. Ia kerap dipahami sebagai lambang kemurnian, kelahiran, dan spiritualitas. Melalui unsur ini, ornamen Mantingan memperlihatkan kesinambungan ingatan visual dari tradisi lama yang kemudian hadir dalam konteks budaya pesisir Islam.

Ornamen Mantingan Rama Dan Laksmana Lain Sisi

Pada sisi lainnya, relief ini menampilkan komposisi tiga tokoh dalam bentuk tiga dimensi. Meskipun dua bagian tokohnya sudah tidak terlihat jelas akibat kerusakan, susunan figur yang tersisa masih memperlihatkan kekuatan naratifnya. Bidang kosong pada relief diisi dengan ornamen sulur, sehingga keseluruhan permukaan tidak dibiarkan hampa. Sulur hadir sebagai pengikat komposisi, mengalir di antara figur, mengisi ruang, dan memberi irama pada pahatan.

Tokoh utama dalam relief ini adalah Rama, sosok ksatria dalam kisah epik Ramayana. Ia digambarkan dengan rambut terurai yang menyerupai mahkota. Pada tubuhnya tampak upawita, yaitu tali suci yang melintang dari bahu kiri menuju pinggang kanan. Ia juga mengenakan berbagai perhiasan seperti kalung, gelang tangan, gelang bahu, dan anting. Busur yang dibawanya menjadi penanda penting identitasnya sebagai ksatria. Melalui penggambaran ini, Rama hadir bukan hanya sebagai tokoh cerita, tetapi juga sebagai simbol keutamaan, keberanian, dan kedudukan luhur.

Di belakang Rama terdapat tokoh Laksmana. Ia digambarkan dengan gaya rambut supit urang, sebuah bentuk rambut yang dikenal dalam tradisi relief Jawa Timur. Laksmana juga mengenakan tali suci, kain panjang dari bagian perut hingga kaki, serta perhiasan yang serupa. Kehadirannya memperkuat nuansa epik dalam relief ini, sekaligus menunjukkan bahwa cerita Ramayana pernah menjadi bagian dari imajinasi visual yang hidup dalam masyarakat dan seni pahat Jawa.

Di bagian depan terdapat sosok laki laki bertubuh lebih kecil dengan rambut dikuncir. Figur ini tampak memegang sesuatu yang diduga sebagai ikan, sehingga dapat diasumsikan sedang melakukan aktivitas memancing. Kehadiran sosok tersebut memberi dimensi berbeda pada relief. Ia menghadirkan unsur kehidupan sehari hari di tengah narasi epik. Dengan demikian, relief ini tidak hanya menampilkan tokoh besar dari kisah Ramayana, tetapi juga menghadirkan manusia biasa dalam ruang cerita yang sama.

Ornamen Mantingan Rama dan Laksmana menjadi bukti bahwa Jepara memiliki tradisi pahatan yang kaya, berlapis, dan terbuka terhadap berbagai sumber budaya. Di dalam satu bidang batu, kita dapat membaca jejak Hindu Buddha, cerita Ramayana, tradisi pahat Jawa, simbol flora, serta konteks Islam pesisir yang berkembang di Mantingan. Karya ini memperlihatkan bahwa kebudayaan Jepara tidak tumbuh dari satu garis tunggal, melainkan dari pertemuan, penyesuaian, dan pengolahan berbagai warisan visual.

Dalam Pameran TATAH 2026, ornamen ini menjadi salah satu pintu penting untuk memahami akar panjang seni ukir Jepara. Sebelum dikenal melalui ukiran kayu, Jepara telah memiliki tradisi pahatan batu yang sarat makna. Ornamen ini mengingatkan bahwa setiap pahatan adalah bahasa, setiap sulur adalah ingatan, dan setiap figur adalah jejak dari peradaban yang terus hidup dalam tubuh kebudayaan Jepara.

Mantingan Ornament of Rama and Laksmana

The Mantingan Ornament of Rama and Laksmana is one of the important legacies from the Mantingan Mosque complex, revealing the visual, spiritual, and narrative richness of Jepara in the 16th century. Its presence is closely related to the founding of Mantingan Mosque around 1559, when various decorative ornaments were created not merely as architectural additions, but also as bearers of meaning. Every carving in the Mantingan ornaments contains layers of symbol, function, and value that show how visual art, belief, and culture met within a single space.

In the ornaments of Mantingan Mosque, decorative elements and decorative structure appear together. The two do not stand separately, but strengthen one another to form a distinctive visual language. Ornament does not only beautify the building; it also becomes a medium for conveying ideas about life, spirituality, and cultural memory. In this context, the Mantingan Ornament of Rama and Laksmana holds an interesting position because it presents figurative forms that differ from many other Mantingan ornaments.

Many ornaments at Mantingan Mosque show living creatures that have been stylized or disguised within plant forms. This process of stylization shows a visual adjustment to the religious and cultural context of the time. Yet the relief of Rama and Laksmana presents human figures in a more tangible form. The two figures are depicted with a relatively realistic approach, making this work an important example of the visual courage and diversity of form language present at Mantingan.

The relief is carved on limestone that has now undergone crystallization. The condition of the material shows the long journey of this object as an artifact that has passed through centuries. In oral tradition, the work is said to have been carved by Patih Sungging Badar Duwung, or Tjie Wie Gwan, a figure often associated with the refinement of Mantingan carving. This name strengthens the ornament’s position as part of the collective memory of Jepara society regarding skill, aesthetics, and the visual art heritage of the past.

On one side of the relief, an elephant form appears, stylized with floral elements such as leaves, tendrils, and lotus flowers. The presence of the elephant and plant elements shows how the forms of living creatures could be transformed into a soft and symbolic decorative composition. The lotus flower carries important meaning in Hindu-Buddhist tradition. It is often understood as a symbol of purity, birth, and spirituality. Through this element, Mantingan ornamentation reveals the continuity of visual memory from older traditions, later appearing within the cultural context of coastal Islam.

On another side, the relief presents a composition of three figures in three-dimensional form. Although two parts of the figures are no longer clearly visible due to damage, the remaining arrangement still shows its narrative strength. Empty areas in the relief are filled with tendril ornaments, so the overall surface is not left vacant. The tendrils function as compositional ties, flowing between the figures, filling space, and giving rhythm to the carving.

The main figure in this relief is Rama, a knightly figure from the epic Ramayana. He is depicted with flowing hair resembling a crown. On his body appears an upawita, a sacred thread crossing from the left shoulder to the right waist. He also wears various ornaments such as a necklace, bracelets, armlets, and earrings. The bow he carries is an important marker of his identity as a warrior. Through this depiction, Rama appears not only as a story character, but also as a symbol of virtue, courage, and noble standing.

Behind Rama is the figure of Laksmana. He is depicted with the supit urang hairstyle, a hair form known in East Javanese relief tradition. Laksmana also wears a sacred thread, a long cloth from the abdomen to the feet, and similar ornaments. His presence strengthens the epic atmosphere of this relief, while showing that the Ramayana story was once part of the visual imagination alive in Javanese society and carving art.

At the front is a smaller male figure with tied hair. This figure appears to be holding something thought to be a fish, suggesting that he may be fishing. His presence gives the relief another dimension. He brings an element of everyday life into the midst of an epic narrative. Thus, the relief does not only show major figures from the Ramayana, but also presents an ordinary human being within the same story space.

The Mantingan Ornament of Rama and Laksmana proves that Jepara has a carving tradition that is rich, layered, and open to many cultural sources. Within a single stone surface, we can read traces of Hindu-Buddhist tradition, the Ramayana, Javanese carving practice, floral symbols, and the context of coastal Islam that developed at Mantingan. This work shows that Jepara culture did not grow from a single line, but from the meeting, adaptation, and transformation of various visual heritages.

In TATAH 2026, this ornament becomes one of the important gateways to understanding the long roots of Jepara carving. Before it became known through woodcarving, Jepara already had a stone-carving tradition rich with meaning. This ornament reminds us that every carving is a language, every tendril is a memory, and every figure is a trace of a civilization that continues to live within the body of Jepara culture.

Sorotan Rekomendasi