- Home
- Uncategorized
- Sangama
Sangama
Pertemuan tidak selalu berarti peleburan yang menghapus perbedaan. Dalam karya Sangama, pertemuan justru dibaca sebagai penyatuan dua karakter visual yang tetap mempertahankan wataknya masing masing. Karya ini menghadirkan dialog antara motif arabes yang ritmis dan teratur dengan sulur labu botol yang terasa lebih bebas, organik, dan tumbuh mengikuti arah hidupnya sendiri.
Sangama merupakan karya Apeep Qimo dan Sutrisno yang dibuat pada tahun 2026. Karya ini menggunakan material kayu jati dengan ukuran 200 x 180 x 170 cm. Dihadirkan dalam Pameran TATAH 2026 di Museum Nasional Indonesia Jakarta, karya ini mengambil bentuk tempat tidur yang tidak hanya berfungsi sebagai objek furnitur, tetapi juga sebagai ruang pengalaman yang menyatukan tubuh, istirahat, ornamen, dan makna simbolik.
Kata Sangama berasal dari bahasa Sansekerta yang berarti pertemuan atau penyatuan. Dalam karya ini, sangama dimaknai sebagai proses bertemunya dua bahasa visual yang berbeda tanpa saling meniadakan. Motif arabes hadir sebagai kerangka yang memberi arah dan keteraturan, sementara sulur labu botol tumbuh dengan gerak yang lebih bebas. Pertemuan keduanya menciptakan ketegangan visual yang justru menjadi kekuatan utama karya.
Secara visual, karya ini memperlihatkan ukiran kayu jati dengan susunan yang terukur. Pada bagian yang tampak, bentuk lengkung, pola berulang, serta alur sulur membangun komposisi yang seimbang. Motif arabes memberi kesan ritmis, hampir seperti irama yang menjaga struktur keseluruhan. Di sisi lain, sulur labu botol menghadirkan rasa tumbuh yang lebih alami, seolah bergerak keluar dari pola dan memberi napas pada bidang ukiran.
Karya ini tidak menonjolkan kepadatan ornamen secara berlebihan. Kekuatan visualnya justru terletak pada cara elemen disebarkan. Ada bidang yang aktif, ada pula ruang yang lebih tenang. Perbedaan ini membuat alur pandang terasa mengalir. Mata tidak dipaksa berhenti pada satu titik yang penuh, melainkan diajak bergerak mengikuti ritme ukiran dari satu bagian ke bagian lain.
Pendekatan seperti ini menunjukkan kecermatan dalam mengolah ruang. Ornamen tidak sekadar memenuhi permukaan kayu, tetapi diatur agar memiliki jeda. Area aktif memberi energi, sementara area tenang memberi ruang bernapas. Dari keseimbangan tersebut, Sangama menghadirkan kesan yang kaya, namun tidak terasa sesak.
Makna labu botol memperkuat lapisan konseptual karya ini. Dalam tradisi visual Tiongkok, labu botol dikenal sebagai hulu. Bentuk ini sering diasosiasikan dengan panjang umur, perlindungan, dan wadah energi kehidupan atau qi. Bentuknya yang menggelembung dianggap mampu menyimpan sekaligus menjaga energi positif. Dalam praktik simbolik, hulu juga sering dipahami sebagai penangkal pengaruh buruk.
Ketika motif labu botol diterjemahkan ke dalam ukiran kayu jati, ia tidak lagi hadir hanya sebagai elemen hias. Sulur dan buahnya membawa makna perlindungan, vitalitas, dan harapan atas kehidupan yang terjaga. Karena karya ini mengambil bentuk tempat tidur, makna tersebut menjadi semakin dekat. Tempat tidur adalah ruang tubuh beristirahat, memulihkan diri, dan mengawali kembali kehidupan sehari hari. Ornamen yang mengelilinginya seolah menjadi penjaga halus bagi tubuh yang berdiam di dalam ruang itu.

Pada titik ini, ukiran tidak hanya berfungsi memperindah objek. Ia membentuk atmosfer. Kehadirannya bekerja secara lembut, tidak mendominasi, tetapi memberi kualitas visual dan rasa yang menyertai pengalaman beristirahat. Kayu jati sebagai material utama menambah kesan hangat, kuat, dan dekat dengan tradisi Jepara. Di tangan Apeep Qimo dan Sutrisno, kayu jati menjadi medium untuk menyatukan fungsi furnitur dengan kedalaman simbol.
Pertemuan arabes dan labu botol juga memperlihatkan bagaimana seni ukir Jepara mampu menyerap banyak sumber visual. Ada jejak ritme ornamental yang teratur, ada pula pengaruh simbolik dari tradisi Tiongkok. Keduanya tidak diposisikan sebagai bentuk yang bertentangan, melainkan sebagai unsur yang dapat hidup berdampingan dalam satu komposisi. Dari sana, karya ini menunjukkan bahwa identitas visual Jepara tumbuh melalui perjumpaan, pengolahan, dan kemampuan memberi bentuk baru pada berbagai pengaruh.
Sangama mengajak kita memahami tempat tidur bukan sekadar benda pakai. Ia dapat menjadi ruang simbolik tempat tubuh, alam, energi, dan ornamen bertemu. Pada karya ini, penyatuan tidak hanya terjadi antara motif arabes dan sulur labu botol, tetapi juga antara objek, ruang, dan pengalaman manusia. Melalui susunan ukirannya, Sangama menghadirkan pesan bahwa perbedaan dapat bertemu tanpa kehilangan jati diri, dan dari pertemuan itu lahir keseimbangan yang utuh.
Sangama
An encounter does not always mean a fusion that erases difference. In Sangama, an encounter is read instead as the union of two visual characters that each retain their own nature. The work presents a dialogue between rhythmic, ordered arabesque motifs and the freer, more organic tendrils of bottle gourd, which grow according to their own living direction.
Sangama is a work by Apeep Qimo and Sutrisno, created in 2026. It uses teak wood and measures 200 x 180 x 170 cm. Presented in TATAH 2026 at the National Museum of Indonesia in Jakarta, the work takes the form of a bed that functions not only as a furniture object, but also as an experiential space uniting the body, rest, ornament, and symbolic meaning.
The word Sangama comes from Sanskrit and means meeting or union. In this work, sangama is understood as the meeting of two different visual languages without either canceling the other. The arabesque motif appears as a framework that gives direction and order, while the bottle gourd tendril grows with freer movement. Their encounter creates a visual tension that becomes the main strength of the work.
Visually, the work shows teak wood carving arranged with measured control. In the visible sections, curved forms, repeated patterns, and tendril flows build a balanced composition. The arabesque motif creates a rhythmic impression, almost like a pulse that maintains the overall structure. On the other hand, the bottle gourd tendril introduces a more natural feeling of growth, as if it were moving beyond the pattern and giving breath to the carved surface.
The work does not emphasize excessive ornamental density. Its visual strength lies precisely in the way the elements are distributed. Some areas are active, while others remain calmer. This difference allows the viewer’s gaze to flow. The eye is not forced to stop at one crowded point, but is invited to move with the rhythm of the carving from one part to another.
Such an approach shows careful handling of space. Ornament does not simply fill the wooden surface, but is arranged to include pauses. Active areas provide energy, while quiet areas allow the work to breathe. From this balance, Sangama presents an impression that is rich without feeling congested.
The meaning of the bottle gourd strengthens the conceptual layer of the work. In Chinese visual tradition, the bottle gourd is known as hulu. It is often associated with longevity, protection, and a vessel for life energy, or qi. Its swelling form is believed to store and protect positive energy. In symbolic practice, hulu is also often understood as a ward against harmful influences.
When the bottle gourd motif is translated into teak wood carving, it is no longer merely a decorative element. Its tendrils and fruit carry meanings of protection, vitality, and hope for a life that is guarded. Because the work takes the form of a bed, this meaning becomes even closer. A bed is a place where the body rests, recovers, and begins daily life again. The ornament surrounding it seems to become a subtle guardian for the body within that space.
At this point, carving does not merely beautify the object. It creates an atmosphere. Its presence works gently, without dominating, yet gives a visual and emotional quality that accompanies the experience of rest. Teak wood as the main material adds warmth, strength, and closeness to Jepara’s tradition. In the hands of Apeep Qimo and Sutrisno, teak wood becomes a medium for uniting furniture function with symbolic depth.
The meeting of arabesque and bottle gourd also shows how Jepara carving is able to absorb many visual sources. There is a trace of ordered ornamental rhythm, and there is also symbolic influence from Chinese tradition. The two are not placed as opposing forms, but as elements that can live side by side in one composition. From there, the work shows that Jepara’s visual identity grows through encounter, processing, and the ability to give new form to different influences.
Sangama invites us to understand the bed as more than a utilitarian object. It can become a symbolic space where body, nature, energy, and ornament meet. In this work, union occurs not only between arabesque motifs and bottle gourd tendrils, but also between object, space, and human experience. Through its carved arrangement, Sangama offers the message that difference can meet without losing its identity, and from that encounter a complete balance may be born.


