- Home
- Uncategorized
- Suluk Sulur Jepara: Membaca Seni Ukir Jepara
Suluk Sulur Jepara: Membaca Seni Ukir Jepara
Pameran Tatah 2026 mengangkat tema “SULUK – SULUR – JEPARA” sebagai benang merah kuratorial. Tema ini bukan sekadar rangkaian kata, melainkan sebuah kerangka berpikir untuk membaca kembali seni ukir Jepara. Tak hanya sebagai produk visual atau komoditas ekonomi, tetapi sebagai praktik pengetahuan dan kebudayaan yang hidup.
Nano Warsono, selaku tim kurator Tatah 2026 mejelaskan tema ini sebagai upaya merangkai kembali narasi kultural, visual dan identitas Jepara dalam satu kesatuan yang utuh.
“Tatah ini adalah satu alat, satu tools yang akan menghasilkan banyak karya seni dan menjadi budaya,” ujar Nano.
Dari pemahaman tentang tatah sebagai alat inilah, Tatah 2026 kemudian dipecah ke dalam tiga lapisan narasi, yakni Suluk, Sulur dan Jepara.

Tatah sebagai Alat, Bukan Sekadar Nama
Nano menegaskan bahwa tatah tidak hanya dipahami sebagai alat kerja fisik, tetapi sebagai medium lahirnya kebudayaan. Seni ukir tidak berhenti pada hasil akhir, melainkan memuat proses, nilai dan pengetahuan yang diwariskan.
“Ini adalah satu narasi yang berkaitan dengan narasi kultural, Suluk dan narasi produk budaya visual, Sulur itu sendiri dan Jepara sebagai identitas kota, identitas masyarakat dan juga identitas sosial,” jelasnya.
Dengan cara pandang ini, Tatah 2026 berupaya menggeser fokus dari sekadar melihat karya menjadi memahami ekosistem kebudayaan yang melahirkannya.
Suluk: Laku Pengetahuan dalam Seni Ukir Jepara
Suluk diambil dari tradisi tutur dan keilmuan Jawa. Dalam konteks Tatah 2026, Suluk dimaknai sebagai cara berbagi pengetahuan, sebuah laku yang menautkan proses kreatif, spiritualitas dan kehidupan sosial masyarakat Jepara.
“Suluk sendiri diambil dari tradisi tutur Jawa dan juga tradisi keilmuan Jawa. Kita mencoba menarasikan sebagai salah satu cara kita untuk membagikan ilmu, sharing pengetahuan,” tutur Nano.
Ia menekankan bahwa seni ukir Jepara tidak lahir semata dari keterampilan teknis, tetapi juga dari askesis dan perjalanan batin.
“Seni ukir di Jepara itu lahir dari keterampilan, tetapi juga kelahiran dari asketisme dan perjalanan spiritual, perjalanan kultural masyarakat Jepara,” tambahnya.
Dalam kerangka Suluk, Tatah 2026 memandang ukiran sebagai praktik hidup, hasil dari disiplin, pengalaman dan adaptasi panjang terhadap perubahan zaman.

Sulur: Keberlanjutan dan Perubahan dalam Bahasa Visual
Jika Suluk berbicara tentang laku dan pengetahuan, maka Sulur menjelaskan produk budaya visualnya. Namun Sulur tidak dipersempit hanya sebagai motif ukiran.
“Sulur bukan berarti hanya tentang motif ukiran, tetapi Sulur adalah perjalanan panjang yang tidak berhenti pada satu titik saja,” jelas Nano.
Sulur menjadi metafora tentang keberlanjutan tradisi mengukir dari masa ke masa, sekaligus tentang perubahan yang selalu terjadi mengikuti konteks budaya masyarakatnya.
“Perjalanan seni ukir itu tidak berhenti pada satu titik, tapi selalu berkembang, menemukan jejaring baru dan selalu kontekstual dengan zamannya,”lanjutnya.
Dengan demikian, Sulur menempatkan ukiran Jepara sebagai bahasa visual yang hidup terus tumbuh, berubah dan beradaptasi.
Jepara: Ruang Tumbuh yang Kompleks
Dalam Tatah 2026, Jepara tidak dimaknai sekadar sebagai wilayah geografis, melainkan sebagai ruang tumbuh kebudayaan. Sebuah kota dengan karakter yang dibentuk oleh banyak lapisan sejarah dan pengaruh.
“Yang membedakan satu tempat dengan tempat yang lain adalah kota, dan kota itu mempunyai karakteristik yang berbeda-beda,”ungkap Nano.
Jepara, menurutnya, adalah wadah yang kompleks.
“Berbagai budaya masuk di sini, berbagai pengaruh agama, berbagai pengaruh kesenian berkembang di sini,” katanya.
Karena kompleksitas itulah, Jepara tidak hanya menjadi identitas, tetapi juga sebuah entitas aktif.
“Jepara ini menjadi sesuatu yang berbeda dari kota-kota lain… seperti mesin yang memproduksi sesuatu yang berbeda dengan tempat lain,” ujarnya.

Mengapa “Suluk – Sulur – Jepara” untuk Tatah yang Pertama?
Sebagai penyelenggaraan Tatah yang pertama, tema ini dipilih dengan kesadaran untuk kembali ke akar. Nano menjelaskan bahwa Tatah 2026 menjadi ruang untuk menggali lebih dalam seni ukir Jepara, bukan hanya apa yang dihasilkan, tetapi makna di baliknya.
“Kita memaknai bukan hanya produknya, tapi apa pengetahuan yang bisa kita ambil dari karya-karya itu,” jelas Nano.
Ia menekankan bahwa seni ukir tidak bisa dilihat semata sebagai produk ekonomi.
“Bukan hanya ukiran sebagai produk ekonomi, tetapi ukiran yang mempunyai nilai filosofis, nilai spiritual dan nilai sosial,” tambahnya.
Karena itulah, Tatah 2026 memilih untuk berhenti sejenak dan menengok ke belakang.
“Sebelum kita melangkah jauh, kita harus mengetahui dan bisa menjelaskan bagaimana akar dan munculnya seni ukir di Jepara,” pungkas Nano.
Melalui tema “SULUK – SULUR – JEPARA”, Tatah 2026 mengajak publik untuk membaca seni ukir Jepara secara utuh. Sebagai laku pengetahuan, bahasa visual yang terus bertumbuh dan praktik budaya yang hidup dalam ruang sosialnya.
Bukan sekadar pameran karya, Tatah 2026 adalah upaya memahami kembali seni ukir Jepara sebagai warisan hidup yang terus bergerak bersama zaman.


