• Home
  • Uncategorized
  • Tiga Hari Menyusuri Arsip Jakarta: Catatan Riset Susi Ernawati untuk TATAH 2026

Tiga Hari Menyusuri Arsip Jakarta: Catatan Riset Susi Ernawati untuk TATAH 2026

Perjalanan panjang menuju lahirnya TATAH 2026 tidak hanya berlangsung di studio para perajin atau di desa-desa pengukir Jepara. Salah satu proses krusial justru terjadi jauh dari Jepara, yaitu di pusat-pusat arsip nasional di Jakarta. Tempat ribuan dokumen, foto, catatan kolonial dan laporan administratif dari abad ke-19 tersimpan.

Tiga Hari Menyusuri Arsip Jakarta Untuk Tatah 2026


Di sinilah Susi Ernawati, S.Pd., seorang tim riset dari Rumah Kartini sekaligus penulis asal Jepara, bersama tim riset dan kurator TATAH menjalankan misi penting. Yakni menelusuri jejak sejarah untuk memperkuat fondasi pengetahuan yang akan dituangkan dalam pameran dan buku TATAH 2026.

Perjalanan dari Jepara dan Jogja: Dua Tim Bertemu di Jakarta

Pada pagi hari, sekitar pukul 07.00, rombongan dari Jepara terdiri dari Susi, Afif, Mirza dan Roni, berangkat menuju Jakarta. Sementara tim dari Yogyakarta, yakni Dr. Akhmad Nizam, M.Sn., dan Dr. Arif Akhyat, M.A., sudah lebih dulu berangkat sejak pukul 01.00 dini hari.
Kedua tim bertemu dengan Danil di Jakarta, sebelum bersama-sama memulai agenda riset di Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI).

“Perjalanan itu start-nya jam tujuh pagi, dan jam sembilan kami sudah sampai di ANRI,” ujar Susi.

Hari pertama itu langsung menjadi hari terpanjang, full riset hingga pukul 15.00.

Hari Pertama: Membaca Jepara dari Arsip Abad ke-19

Di ANRI, Susi mendapatkan salah satu bahan paling penting untuk riset TATAH. Yakni catatan para penguasa Jawa dari tahun 1810–1830-an.

Dokumen-dokumen itu ditulis dalam bahasa Jawa kuno (Hanacaraka), dan disebelahnya diartikan dalam bahasa Melayu lama, dan semuanya menggunakan gaya tulisan yang sulit didekati pembaca modern.

“Biasanya kalau pertama kali ke ANRI itu pasti pusing dan mual,” kata Susi menirukan Dr. Arif. “Kertasnya tua, bahasanya campur, tulisannya juga gaya lama.”

Tim Riset Dan Tim Kurator Serta Tim Produksi Tatah 2026

Dr. Arif fokus pada statistik Jepara abad ke-19, terutama laporan-laporan pertanahan. Susi membantu memilah data, termasuk memotret dan mencatat informasi penting dari daftar isi yang panjangnya seperti skripsi 150 halaman.

Temuan hari pertama juga mencakup:

Hari pertama berakhir dengan rasa lelah dan kepala pening, namun membawa temuan signifikan yang menjadi fondasi riset TATAH.

Hari Kedua: Memilih Foto-Foto Bersejarah Jepara

Hari kedua kembali dihabiskan di ANRI, kali ini bersama tim Jepara yang turut masuk untuk menentukan foto-foto mana yang layak sebagai bahan riset dan publikasi.

Dari sekitar 20 foto, tim memilih enam foto penting terkait seni ukir Jepara, foto yang sebelumnya tidak pernah dilihat atau sebagian sudah dimiliki Rumah Kartini.

Setelah itu, tim berpindah ke Perpustakaan Nasional, meski sempat tersesat karena kurang familiar dengan gedungnya. Di lantai 15, Susi dan Danil menemukan sebuah tesis dari orang Sukodono Jepara tentang sejarah ukir, sebuah temuan yang sangat relevan dengan riset TATAH.

Tim Riset Dan Kurator Tatah 2026 Kunjungan Di Perpusnas

Sementara itu, Dr. Arif dan Dr. Nizam mendalami koleksi Belanda di lantai 14, mempelajari laporan kolonial mengenai Jepara.

Hari kedua ditutup dengan diskusi santai di kafe Perpusnas, sebelum seluruh tim kembali ke tempat penginapan.

Hari Ketiga: Menyusuri KITLV Jakarta

Hari ketiga kembali dimulai di ANRI hingga sekitar pukul 11.00, melanjutkan pencarian statistik Jepara abad ke-19 yang sangat kompleks.

Setelah itu, seluruh tim menuju KITLV (Koninklijk Instituut voor Taal, Land en Volkenkunde) cabang Jakarta.

Di sana mereka bertemu dengan Pak Marrik Bellen, pimpinan KITLV Jakarta.

Tim Tatah 2026 Diskusi Bersama Marrik Bellen Pimpinan Kitlv Jakarta

Pertemuan berlangsung hangat karena KITLV tengah mengadakan acara, sehingga tim diterima di pantry, menciptakan suasana informal dan akrab, yang menurut Susi justru membuat diskusi semakin cair.

Di KITLV, tim mendapatkan akses pada beberapa foto lawas Jepara, termasuk produk-produk Ibu Kardinah. Namun setelah ditelusuri lebih jauh, gambar tersebut ternyata sangat penting untuk riset visual TATAH.

Output Utama: Buku Besar TATAH

Riset tiga hari ini bukan perjalanan yang singkat atau ringan. Dalam hitungan waktu, tiga hari terlalu pendek untuk menaklukkan ANRI, yang jika ingin optimal, kata Susi, “satu bulan pun kurang.”

Namun hasilnya sangat signifikan.

Semua data ini akan masuk dalam buku resmi TATAH, sebuah buku yang Susi sebut “buku sakti”, karena menjadi referensi utama untuk memahami Jepara dari sisi sejarah, budaya, hingga sosial ekonomi.

Riset Sebagai Fondasi TATAH 2026

Melalui perjalanan ini, Susi menegaskan satu hal penting, bahwa TATAH tidak hanya menampilkan seni ukir Jepara secara visual, tetapi membangunnya di atas fondasi data, sejarah, dan riset akademis yang kuat.

Jepara tidak hanya dilihat dari ukirannya saja, tetapi melalui arsip, sejarah penguasa, statistik kolonial, foto lama, hingga narasi sosio-kultural yang membentuknya.

Riset lapangan inilah yang membuat TATAH 2026 berbeda, ia bukan sekadar pameran, tetapi program pengetahuan, perpaduan antara seni, sejarah dan kerja pengarsipan yang mendalam.

Sorotan Rekomendasi