- Home
- Uncategorized
- Akar 1000
Akar 1000
Ada karya yang lahir bukan dari material yang sejak awal tampak sempurna, melainkan dari benda yang ditemukan, diamati, lalu dibaca ulang dengan kesabaran. Akar 1000 berangkat dari sebongkah tunggak kayu yang ditemukan Zabidi di halaman rumah temannya. Dari bahan yang semula tampak sederhana, ia melihat kemungkinan bentuk, ruang, dan gerak yang kemudian berkembang menjadi karya ukir yang kompleks.
Akar 1000 merupakan karya Zabidi, seniman ukir asal Jepara, yang dibuat pada tahun 2021. Karya ini menggunakan material kayu jati dengan ukuran 85 x 85 x 220 cm. Secara visual, karya ini tampil menjulang dengan struktur menyerupai jalinan akar yang saling berkelindan. Rongga, lekuk, dan sambungan bentuknya menciptakan kesan organik, seolah kayu itu tidak dipahat, tetapi tumbuh dengan sendirinya.
Pada awalnya, karya ini hanya setinggi sekitar 50 cm dan difungsikan sebagai perabot. Zabidi sempat menambahkan daun meja transparan dengan pencahayaan dari dalam, sehingga karya tersebut memiliki fungsi praktis sekaligus nilai visual. Namun setelah menerima kritik dan masukan dari teman temannya, karya ini kemudian dikembangkan lebih jauh. Dari bentuk perabot, ia berubah menjadi karya seni murni yang lebih utuh, tinggi, dan kompleks.
Perubahan tersebut menjadi bagian penting dari perjalanan karya ini. Akar 1000 memperlihatkan bagaimana sebuah gagasan dapat tumbuh melalui proses dialog. Kritik tidak menghentikan karya, tetapi justru membuka kemungkinan baru. Zabidi kemudian menambahkan berbagai komponen hingga bentuknya berkembang menjadi struktur besar yang menyerupai akar akar yang menjalar, menyatu, dan saling menopang.

Sketsa bentuk karya ini sebenarnya telah hadir dalam imajinasi Zabidi. Karena itu, ia tidak lagi membutuhkan gambar awal pada media kayu jati yang digunakan. Bagi Zabidi, bentuk sudah mengalir di dalam kepala dan tangan. Hal ini menunjukkan hubungan yang dekat antara pengukir, material, dan pengalaman panjang dalam bekerja. Kayu tidak diperlakukan sebagai bidang kosong semata, tetapi sebagai tubuh yang dapat diajak berdialog.
Tantangan utama dalam proses penciptaan karya ini bukan hanya terletak pada rancangan bentuk. Desainnya mungkin terlihat sederhana sebagai gagasan besar, yaitu jalinan akar yang bertumbuh. Namun kerumitannya muncul ketika gagasan tersebut harus diwujudkan dalam ukiran yang berlubang, bertumpuk, dan saling terhubung. Semakin dalam bagian yang diukir, semakin rumit pula pola yang harus diselesaikan.
Proses pengerjaan Akar 1000 menuntut ketekunan yang panjang. Zabidi harus melawan kejenuhan, menjaga konsistensi, dan tetap istiqamah dalam menyelesaikan setiap bagian. Karya seperti ini tidak dapat diselesaikan hanya dengan kemampuan teknis. Ia membutuhkan kesabaran batin, ketelitian, dan kemampuan menjaga ritme kerja dalam waktu yang lama.
Untuk mencapai detail yang diinginkan, Zabidi menggunakan alat alat khusus yang telah dimodifikasi. Hal ini memperlihatkan bahwa dalam seni ukir, alat bukan hanya perlengkapan kerja, tetapi juga bagian dari proses pencarian bentuk. Ketika alat biasa tidak cukup menjangkau kedalaman tertentu, pengukir harus menciptakan atau menyesuaikan alatnya sendiri. Dari situ terlihat kecerdasan praktis yang lahir dari pengalaman langsung di bengkel.
Secara visual, karya ini menghadirkan kesan tumbuh tanpa henti. Jalinan akar membentuk rongga yang padat, tetapi tetap menyisakan ruang udara. Bagian bawah tampak seperti tumpuan yang kuat, sementara bagian tubuhnya menjulang dengan susunan akar yang saling menyilang. Karya ini memadukan kekuatan dan kerapuhan, kepadatan dan keterbukaan, keteraturan dan keliaran bentuk alam.
Akar dalam karya ini dapat dibaca sebagai simbol ketahanan. Ia berada di bawah, sering tidak terlihat, namun menjadi sumber kehidupan bagi pohon. Akar mencari jalan, menembus tanah, mengikat, menopang, dan menyerap kehidupan. Dengan menghadirkan akar sebagai bentuk utama, Zabidi seperti mengajak kita melihat bagian yang biasanya tersembunyi, lalu menjadikannya pusat perhatian.
Melalui Akar 1000, Zabidi tidak hanya menampilkan keterampilan ukir, tetapi juga narasi tentang keberanian keluar dari pakem. Seni ukir Jepara sering dikenal melalui motif, ornamen, dan bentuk yang memiliki aturan tertentu. Namun karya ini menunjukkan bahwa tradisi juga dapat bergerak menuju eksplorasi yang lebih bebas. Kayu jati tidak hanya menjadi tempat lahirnya motif, tetapi juga medan pencarian bentuk baru.
Karya ini juga mencerminkan perjalanan seorang perajin dalam mengolah ide menjadi bentuk yang penuh makna. Dari tunggak kayu di halaman rumah, dari perabot kecil, dari masukan teman, dari proses panjang melawan kejenuhan, akhirnya lahir sebuah karya yang berdiri sebagai pernyataan artistik. Ia menyimpan kisah tentang proses, perubahan, dan daya tahan.
Dalam pembacaan TATAH 2026, Akar 1000 memperlihatkan sisi eksploratif seni ukir Jepara. Karya ini mengingatkan bahwa ukiran tidak hanya dapat hadir sebagai hiasan pada furnitur atau bentuk tradisi yang sudah mapan. Ia juga dapat menjadi karya seni murni yang tumbuh dari imajinasi, keberanian teknis, dan kesetiaan pada proses. Dari jalinan akar yang rumit, kita membaca ketekunan seorang seniman dan semangat seni ukir Jepara yang terus mencari bentuk baru.
Akar 1000
Some works are born not from material that appears perfect from the beginning, but from an object that is found, observed, and reread with patience. Akar 1000 began with a piece of tree stump that Zabidi found in the yard of a friend. From material that at first seemed simple, he saw the possibility of form, space, and movement, which later developed into a complex carved work.
Akar 1000 is a work by Zabidi, a carver from Jepara, created in 2021. It uses teak wood and measures 85 x 85 x 220 cm. Visually, the work rises upward with a structure resembling intertwined roots. Cavities, curves, and connected forms create an organic impression, as though the wood were not carved, but had grown by itself.
At first, the work was only about 50 cm tall and was used as a piece of furniture. Zabidi once added a transparent tabletop with lighting from inside, giving the work both practical function and visual value. But after receiving criticism and suggestions from friends, the work was developed further. From a furniture form, it turned into a more complete, taller, and more complex work of fine art.
That transformation is an important part of the work’s journey. Akar 1000 shows how an idea can grow through dialogue. Criticism did not stop the work; it opened new possibilities. Zabidi then added various components until the form developed into a large structure resembling roots that spread, unite, and support one another.
The sketch of the work’s form had already existed in Zabidi’s imagination. Because of that, he no longer needed an initial drawing on the teak wood he used. For Zabidi, the form already flowed in his head and in his hands. This shows a close relationship between carver, material, and long experience in work. Wood is not treated merely as an empty surface, but as a body with which one can enter into dialogue.
The main challenge in creating this work lay not only in the design. The idea may seem simple in broad terms: a network of growing roots. But the complexity emerges when that idea must be realized in carving that is hollow, layered, and interconnected. The deeper the carved parts, the more difficult the pattern becomes to complete.
The making of Akar 1000 demanded long perseverance. Zabidi had to resist boredom, maintain consistency, and remain istiqamah in completing every section. A work like this cannot be finished through technical ability alone. It requires inner patience, precision, and the ability to maintain a work rhythm over a long period of time.
To achieve the desired details, Zabidi used special tools that had been modified. This shows that in carving, tools are not merely equipment, but also part of the search for form. When ordinary tools are not enough to reach certain depths, the carver must create or adapt tools himself. From this we see practical intelligence born from direct workshop experience.
Visually, the work presents an impression of endless growth. The woven roots form a dense series of cavities while still leaving space for air. The lower part appears like a strong base, while the body rises with roots crossing one another. The work combines strength and fragility, density and openness, order and the wildness of natural form.
The root in this work can be read as a symbol of endurance. It lies below, often unseen, yet it is the source of life for a tree. Roots find their way, pierce the earth, bind, support, and absorb life. By presenting roots as the main form, Zabidi seems to invite us to look at what is usually hidden and make it the center of attention.
Through Akar 1000, Zabidi does not only display carving skill, but also a narrative about the courage to move beyond convention. Jepara carving is often known through motifs, ornaments, and forms with established rules. Yet this work shows that tradition can also move toward freer exploration. Teak wood becomes not only a place for motifs to emerge, but also a field for seeking new form.
The work also reflects the journey of a craftsperson in turning an idea into a meaningful form. From a tree stump in a yard, from a small piece of furniture, from friends’ suggestions, and from a long process of resisting boredom, a work was finally born that stands as an artistic statement. It holds a story of process, change, and endurance.
In the reading of TATAH 2026, Akar 1000 reveals the exploratory side of Jepara carving. It reminds us that carving does not only appear as decoration on furniture or as forms of tradition that are already established. It can also become a work of fine art that grows from imagination, technical courage, and loyalty to process. From the intricate network of roots, we read the perseverance of an artist and the spirit of Jepara carving as it continues to seek new forms.


