Akar 1000

Ada karya yang lahir bukan dari material yang sejak awal tampak sempurna, melainkan dari benda yang ditemukan, diamati, lalu dibaca ulang dengan kesabaran. Akar 1000 berangkat dari sebongkah tunggak kayu yang ditemukan Zabidi di halaman rumah temannya. Dari bahan yang semula tampak sederhana, ia melihat kemungkinan bentuk, ruang, dan gerak yang kemudian berkembang menjadi karya ukir yang kompleks.

Akar 1000 merupakan karya Zabidi, seniman ukir asal Jepara, yang dibuat pada tahun 2021. Karya ini menggunakan material kayu jati dengan ukuran 85 x 85 x 220 cm. Secara visual, karya ini tampil menjulang dengan struktur menyerupai jalinan akar yang saling berkelindan. Rongga, lekuk, dan sambungan bentuknya menciptakan kesan organik, seolah kayu itu tidak dipahat, tetapi tumbuh dengan sendirinya.

Pada awalnya, karya ini hanya setinggi sekitar 50 cm dan difungsikan sebagai perabot. Zabidi sempat menambahkan daun meja transparan dengan pencahayaan dari dalam, sehingga karya tersebut memiliki fungsi praktis sekaligus nilai visual. Namun setelah menerima kritik dan masukan dari teman temannya, karya ini kemudian dikembangkan lebih jauh. Dari bentuk perabot, ia berubah menjadi karya seni murni yang lebih utuh, tinggi, dan kompleks.

Perubahan tersebut menjadi bagian penting dari perjalanan karya ini. Akar 1000 memperlihatkan bagaimana sebuah gagasan dapat tumbuh melalui proses dialog. Kritik tidak menghentikan karya, tetapi justru membuka kemungkinan baru. Zabidi kemudian menambahkan berbagai komponen hingga bentuknya berkembang menjadi struktur besar yang menyerupai akar akar yang menjalar, menyatu, dan saling menopang.

Pameran Tatah 2026 Menghadirkan Akar 1000 Di Mni

Sketsa bentuk karya ini sebenarnya telah hadir dalam imajinasi Zabidi. Karena itu, ia tidak lagi membutuhkan gambar awal pada media kayu jati yang digunakan. Bagi Zabidi, bentuk sudah mengalir di dalam kepala dan tangan. Hal ini menunjukkan hubungan yang dekat antara pengukir, material, dan pengalaman panjang dalam bekerja. Kayu tidak diperlakukan sebagai bidang kosong semata, tetapi sebagai tubuh yang dapat diajak berdialog.

Tantangan utama dalam proses penciptaan karya ini bukan hanya terletak pada rancangan bentuk. Desainnya mungkin terlihat sederhana sebagai gagasan besar, yaitu jalinan akar yang bertumbuh. Namun kerumitannya muncul ketika gagasan tersebut harus diwujudkan dalam ukiran yang berlubang, bertumpuk, dan saling terhubung. Semakin dalam bagian yang diukir, semakin rumit pula pola yang harus diselesaikan.

Proses pengerjaan Akar 1000 menuntut ketekunan yang panjang. Zabidi harus melawan kejenuhan, menjaga konsistensi, dan tetap istiqamah dalam menyelesaikan setiap bagian. Karya seperti ini tidak dapat diselesaikan hanya dengan kemampuan teknis. Ia membutuhkan kesabaran batin, ketelitian, dan kemampuan menjaga ritme kerja dalam waktu yang lama.

Untuk mencapai detail yang diinginkan, Zabidi menggunakan alat alat khusus yang telah dimodifikasi. Hal ini memperlihatkan bahwa dalam seni ukir, alat bukan hanya perlengkapan kerja, tetapi juga bagian dari proses pencarian bentuk. Ketika alat biasa tidak cukup menjangkau kedalaman tertentu, pengukir harus menciptakan atau menyesuaikan alatnya sendiri. Dari situ terlihat kecerdasan praktis yang lahir dari pengalaman langsung di bengkel.

Secara visual, karya ini menghadirkan kesan tumbuh tanpa henti. Jalinan akar membentuk rongga yang padat, tetapi tetap menyisakan ruang udara. Bagian bawah tampak seperti tumpuan yang kuat, sementara bagian tubuhnya menjulang dengan susunan akar yang saling menyilang. Karya ini memadukan kekuatan dan kerapuhan, kepadatan dan keterbukaan, keteraturan dan keliaran bentuk alam.

Akar dalam karya ini dapat dibaca sebagai simbol ketahanan. Ia berada di bawah, sering tidak terlihat, namun menjadi sumber kehidupan bagi pohon. Akar mencari jalan, menembus tanah, mengikat, menopang, dan menyerap kehidupan. Dengan menghadirkan akar sebagai bentuk utama, Zabidi seperti mengajak kita melihat bagian yang biasanya tersembunyi, lalu menjadikannya pusat perhatian.

Melalui Akar 1000, Zabidi tidak hanya menampilkan keterampilan ukir, tetapi juga narasi tentang keberanian keluar dari pakem. Seni ukir Jepara sering dikenal melalui motif, ornamen, dan bentuk yang memiliki aturan tertentu. Namun karya ini menunjukkan bahwa tradisi juga dapat bergerak menuju eksplorasi yang lebih bebas. Kayu jati tidak hanya menjadi tempat lahirnya motif, tetapi juga medan pencarian bentuk baru.

Karya ini juga mencerminkan perjalanan seorang perajin dalam mengolah ide menjadi bentuk yang penuh makna. Dari tunggak kayu di halaman rumah, dari perabot kecil, dari masukan teman, dari proses panjang melawan kejenuhan, akhirnya lahir sebuah karya yang berdiri sebagai pernyataan artistik. Ia menyimpan kisah tentang proses, perubahan, dan daya tahan.

Dalam pembacaan TATAH 2026, Akar 1000 memperlihatkan sisi eksploratif seni ukir Jepara. Karya ini mengingatkan bahwa ukiran tidak hanya dapat hadir sebagai hiasan pada furnitur atau bentuk tradisi yang sudah mapan. Ia juga dapat menjadi karya seni murni yang tumbuh dari imajinasi, keberanian teknis, dan kesetiaan pada proses. Dari jalinan akar yang rumit, kita membaca ketekunan seorang seniman dan semangat seni ukir Jepara yang terus mencari bentuk baru.

Sorotan Rekomendasi