Jalar

Ada daya hidup yang bergerak pelan, tidak selalu terlihat, tetapi terus mencari jalan untuk tumbuh. Karya Jalar berangkat dari pengamatan terhadap cara hidup lotus yang bermula dari dasar perairan, menembus lumpur dan air, lalu mencapai permukaan untuk mekar. Proses tumbuh tersebut menjadi dasar pembacaan karya ini, bukan hanya sebagai bentuk visual, tetapi juga sebagai metafora tentang perjalanan, ketahanan, dan transformasi.

Sofa Jalar ini merupakan karya Apeep Qimo dan Sutrisno yang dibuat pada tahun 2026. Karya ini menggunakan material kayu jati dengan ukuran 269 x 106 x 117 cm. Dalam wujudnya, karya ini hadir sebagai furnitur yang tubuhnya dipenuhi ukiran lotus, daun, dan sulur yang menjalar. Kayu jati tidak hanya menjadi struktur, tetapi juga menjadi ruang tempat ornamen tumbuh, bergerak, dan membentuk narasi.

Secara visual, karya ini memperlihatkan gerak yang bertahap. Pada bagian bawah, bentuk ukiran tampak lebih padat, rapat, dan berat. Dari sana, sulur sulur memanjang, saling silang, lalu bergerak ke bagian atas dengan komposisi yang lebih terbuka dan ringan. Susunan ini menghadirkan kesan seperti pertumbuhan tanaman dari ruang yang gelap menuju wilayah yang lebih lapang. Gerak vertikal tersebut menjadi inti dari bahasa visual karya.

Di antara sulur yang menjalar, muncul elemen daun dan bunga lotus dalam berbagai fase. Ada yang masih berupa kuncup, ada pula yang telah mekar. Kehadiran bentuk bentuk ini menegaskan siklus hidup sebagai bagian dari komposisi. Lotus tidak tampil sebagai satu bentuk tunggal yang selesai, tetapi sebagai proses yang terus berubah. Dari kuncup menuju mekar, dari akar menuju permukaan, dari padat menuju terbuka.

Kedalaman ukiran dalam karya ini diolah untuk menciptakan lapisan ruang. Relief tidak hanya berada di permukaan, tetapi dibuat bertingkat sehingga menghasilkan kesan tiga dimensional. Rongga, bayangan, lekuk, dan tumpukan bentuk membangun gerak yang tidak statis. Kita dapat merasakan seolah ornamen tersebut sedang tumbuh dan menyebar, seperti daya hidup lotus yang terus mencari ruang.

Gagasan utama Jalar adalah transformasi. Karya ini merefleksikan perjalanan dari kondisi dasar yang gelap, berat, dan tersembunyi menuju keadaan yang lebih terang, terbuka, dan mekar. Dalam pembacaan ini, lotus menjadi lambang kemampuan untuk bertahan sekaligus melampaui keadaan asalnya. Ia tumbuh dari lumpur, tetapi tidak berhenti di sana. Ia bergerak ke permukaan dan menghadirkan keindahan.

Inspirasi visual karya ini memiliki hubungan kuat dengan tradisi relief pada Masjid Mantingan. Dalam ornamen Mantingan, motif vegetal tidak hanya berfungsi sebagai hiasan. Ia juga menyimpan makna tentang pertumbuhan, kesucian, dan kesinambungan hidup. Bentuk tumbuhan, sulur, dan bunga menjadi bahasa simbolik yang menghubungkan alam, spiritualitas, dan keterampilan ukir.

Sofa Ukir Kayu Jati Jepara

Namun, sebagaimana dalam filosofi Tunjung Tanpa Telaga, unsur air tidak ditampilkan secara langsung. Lotus tetap hadir, tetapi telaganya tidak digambarkan. Ketiadaan air justru membuka ruang tafsir. Ia menunjukkan bahwa yang ingin ditegaskan bukanlah tempat tumbuhnya, melainkan daya hidup dan proses pencapaiannya. Dengan kata lain, karya ini tidak menampilkan lingkungan lotus secara harfiah, tetapi menangkap semangat pertumbuhannya.

Pada karya ini, tradisi ornamen tidak berhenti sebagai kutipan masa lalu. Bentuk sulur dan lotus diolah kembali menjadi struktur karya yang utuh. Ornamen tidak hanya ditempel pada furnitur, tetapi menjadi bagian dari tubuh karya itu sendiri. Ia menjalar pada sandaran, lengan, dan struktur kayu, menyatukan fungsi, bentuk, dan makna.

Kehadiran elemen dudukan dengan balutan kain memberi kontras terhadap ukiran kayu yang kompleks. Bagian kain terasa lembut dan tenang, sementara ukiran di sekelilingnya tampak hidup dan bergerak. Perpaduan ini membuat karya Jalar tidak hanya menunjukkan keahlian teknis, tetapi juga kemampuan mengatur keseimbangan antara kepadatan dan kelapangan, antara ornamen dan fungsi, antara gerak dan diam.

Kayu jati sebagai material utama memberi kekuatan pada karya ini. Sifatnya yang kokoh memungkinkan pengolahan ukiran yang rumit dan dalam. Di tangan pengukir, kayu jati berubah menjadi jaringan sulur, daun, dan bunga yang tampak organik. Material yang keras dibuat seolah lentur, mengalir, dan hidup.

Dalam rangkaian Pameran TATAH 2026 di Museum Nasional Indonesia, Jalar menjadi karya yang mengajak kita membaca ukiran sebagai proses pertumbuhan. Ia memperlihatkan bahwa seni ukir Jepara tidak hanya menghadirkan keindahan pada permukaan benda, tetapi juga mampu menyampaikan gagasan tentang hidup, perubahan, dan daya bertahan. Melalui lotus yang menjalar, karya ini menghadirkan pesan bahwa setiap pertumbuhan membutuhkan perjalanan dari ruang yang gelap menuju terang, dari tekanan menuju keluasan, dari akar menuju bunga.

Jalar

There is a life force that moves slowly, not always visible, yet constantly searching for a way to grow. Jalar begins from an observation of the lotus, which starts at the bottom of the water, pushes through mud and water, and reaches the surface to bloom. This process of growth becomes the basis for reading the work, not only as visual form, but also as a metaphor for journey, endurance, and transformation.

The sofa Jalar is a work by Apeep Qimo and Sutrisno, created in 2026. It uses teak wood and measures 269 x 106 x 117 cm. In its form, the work appears as furniture whose body is filled with carvings of lotus, leaves, and creeping tendrils. Teak wood is not only the structure; it becomes a space where ornament grows, moves, and forms a narrative.

Visually, the work presents gradual movement. At the lower part, the carved forms appear denser, tighter, and heavier. From there, the tendrils lengthen, cross one another, and move upward into a composition that is more open and lighter. This arrangement creates the impression of plant growth from a dark space toward a wider realm. That vertical movement becomes the core of the work’s visual language.

Among the creeping tendrils appear leaves and lotus flowers in various phases. Some are still buds; others have already bloomed. These forms emphasize the life cycle as part of the composition. The lotus does not appear as one completed form, but as a process that keeps changing: from bud to bloom, from root to surface, from density to openness.

The depth of the carving is processed to create layers of space. The relief is not only on the surface, but is made in levels that produce a three-dimensional effect. Cavities, shadows, curves, and overlapping forms build a movement that is not static. We can feel as if the ornament is growing and spreading, like the life force of the lotus constantly seeking space.

The main idea of Jalar is transformation. The work reflects a journey from a base condition that is dark, heavy, and hidden toward a state that is brighter, more open, and in bloom. In this reading, the lotus becomes a symbol of the ability to endure and to move beyond one’s point of origin. It grows from mud, but does not stop there. It rises to the surface and brings forth beauty.

The visual inspiration for the work has a strong connection to the relief tradition of Mantingan Mosque. In Mantingan ornament, vegetal motifs do not function only as decoration. They also hold meanings of growth, purity, and the continuity of life. Plant forms, tendrils, and flowers become symbolic languages linking nature, spirituality, and carving skill.

Yet, as in the philosophy of Tunjung Tanpa Telaga, the element of water is not shown directly. The lotus is present, but its pond is not depicted. The absence of water opens room for interpretation. It shows that what is being emphasized is not the place where the lotus grows, but its life force and process of reaching upward. In other words, the work does not show the lotus’s environment literally, but captures the spirit of its growth.

In this work, ornamental tradition does not stop as a quotation from the past. Tendril and lotus forms are reworked into the complete structure of the piece. Ornament is not merely attached to furniture; it becomes part of the work’s body itself. It creeps across the backrest, arms, and wooden structure, uniting function, form, and meaning.

The presence of the seat element wrapped in fabric creates a contrast with the complex wood carving. The fabric feels soft and calm, while the carving around it appears alive and moving. This combination makes Jalar not only a display of technical mastery, but also an example of balance between density and openness, ornament and function, movement and stillness.

Teak wood as the main material gives strength to the work. Its solid nature allows for deep and intricate carving. In the hands of the carvers, teak wood becomes a network of tendrils, leaves, and flowers that feels organic. A hard material is made to seem flexible, flowing, and alive.

Within TATAH 2026 at the National Museum of Indonesia, Jalar invites us to read carving as a process of growth. It shows that Jepara woodcarving does not only present beauty on the surface of objects, but can also convey ideas of life, change, and endurance. Through the creeping lotus, the work delivers a message that every growth requires a journey from darkness toward light, from pressure toward spaciousness, from root toward flower.

Sorotan Rekomendasi