- Home
- Uncategorized
- Mukha Moksha
Mukha Moksha
Setiap perubahan budaya tidak selalu berarti kehilangan. Ada masa ketika sebuah bentuk mencapai puncaknya, lalu tidak benar benar lenyap, melainkan hadir kembali dengan wajah yang baru. Gagasan inilah yang dibaca melalui karya Mukha Moksha, sebuah karya yang menempatkan cermin bukan hanya sebagai benda reflektif, tetapi juga sebagai ruang untuk melihat kembali sejarah, peralihan zaman, dan kesinambungan pengetahuan visual Jepara.
Mukha Moksha merupakan karya Hendro dan Wafi yang dibuat pada tahun 2026. Karya ini menggunakan material kayu jati dengan dua bagian ukuran, yaitu 185 x 52 x 90 cm dan 155 x 190 x 12 cm. Karya ini ditampilkan di Museum Nasional Indonesia Jakarta dalam Pameran TATAH 2026 yang berlangsung mulai 29 April 2026 sampai 5 Juli 2026. Secara visual, karya ini hadir sebagai rangkaian cermin dan meja dengan ukiran kayu jati yang sangat padat, rumit, dan megah.

Karya ini mengeksplorasi gaya ukiran pada masa peralihan dari era Majapahit menuju era Demak. Peralihan tersebut menandai perubahan besar dari lanskap kebudayaan Jawa Hindu menuju Jawa Islam. Namun perubahan itu tidak berlangsung dengan cara memutus sepenuhnya bentuk lama. Jejak Majapahit masih terasa dalam susunan ornamen, sementara pengaruh Demak mulai tampak melalui bentuk arsitektural dan pilihan simbol yang lebih dekat dengan ruang Islam pesisir.
Pada karya ini, bentuk sulur gelung yang dinamis dan patra masih sangat dominan. Sulur besar tampak bergerak dari pusat komposisi, kemudian menjalar keluar menjadi variasi bentuk yang lebih kecil. Gerak ukiran ini menghasilkan kesan hidup, berlapis, dan terus bertumbuh. Karakter ukiran yang rumit dan detail menunjukkan kedekatan dengan gaya Majapahit, terutama melalui komposisi yang cenderung simetris, penuh ornamen, dan memiliki pusat visual yang kuat.
Frame cermin pada Mukha Moksha mengambil bentuk bernuansa Persia, mengingatkan pada gaya pintu Masjid Mantingan. Bentuk lengkung pada bagian dalam cermin memberi kesan arsitektural yang kuat, seolah cermin ini menjadi pintu menuju ruang ingatan. Cermin tidak hanya memantulkan wajah, tetapi juga mengajak kita melihat bagaimana sejarah budaya Jepara terbentuk dari pertemuan banyak pengaruh.
Bagian puncak karya ini memasukkan bentuk hiasan puncak atap masjid atau mustaka Mantingan. Kehadiran mustaka memberi penekanan spiritual pada susunan karya. Ia berdiri di bagian atas sebagai penanda arah, kehormatan, dan hubungan dengan tradisi arsitektur Islam di Jepara. Unsur ini memperlihatkan bagaimana warisan Mantingan menjadi sumber penting dalam pembacaan visual karya.
Pada bagian meja, kaki kaki karya dibuat dengan detail yang tidak kalah rumit. Ukirannya mikro, njlimet, dan memperlihatkan ketelitian tinggi. Di ujung kakinya terdapat bentuk jaladwara bergaya candi yang pada asalnya berfungsi sebagai saluran air. Unsur jaladwara ini juga masih tersisa di kompleks Masjid Mantingan. Kehadirannya dalam karya memperlihatkan bagaimana unsur candi dan unsur masjid dapat bertemu dalam satu bahasa bentuk.
Pertemuan antara sulur gelung Majapahit, bentuk Persia, mustaka Mantingan, dan jaladwara bergaya candi menjadikan Mukha Moksha sebagai karya yang membaca sejarah melalui lapisan visual. Tidak ada satu pengaruh yang berdiri sendiri. Semuanya saling menyusup, berkelindan, dan membentuk wajah baru. Di sinilah karya ini menjadi penting, karena ia tidak hanya mengulang ornamen lama, tetapi juga menafsirkan proses perubahan budaya.

Judul Mukha Moksha terinspirasi dari fase penting peralihan Majapahit ke Demak sekitar abad ke 14 M. Peristiwa itu sering dikaitkan dengan sengkalan Sirna Ilang Kertaning Bumi, yang berarti tahun 1400 Saka dan kerap dimaknai sebagai runtuhnya Kerajaan Majapahit. Namun karya ini menawarkan pembacaan yang berbeda. Perubahan tersebut tidak dilihat semata sebagai keruntuhan, tetapi sebagai moksa, yaitu hilang karena telah mencapai puncaknya.
Kata mukha berarti wajah. Dengan demikian, Mukha Moksha dapat dibaca sebagai wajah baru dari sesuatu yang telah mencapai puncak. Sebuah kebudayaan tidak benar benar musnah ketika bentuk lamanya berubah. Ia dapat muncul kembali dalam wujud lain, dalam bahasa baru, dan dalam susunan simbol yang berbeda. Syaratnya, kita mampu bercermin pada sejarah dan pengetahuan sebelumnya.
Cermin dalam karya ini menjadi simbol yang tepat. Ia mengembalikan pandangan kepada diri, tetapi juga membuka ruang untuk membaca masa lalu. Ketika kita berdiri di hadapan cermin ini, yang terlihat bukan hanya bayangan tubuh, melainkan juga lapisan sejarah yang dipahat pada kayu jati di sekelilingnya. Ukiran menjadi bingkai bagi refleksi, sementara refleksi menjadi jalan untuk memahami kesinambungan budaya.
Kayu jati memberi kekuatan dan wibawa pada karya ini. Material tersebut memungkinkan detail ukiran yang dalam, rumit, dan tahan lama. Di tangan Hendro dan Wafi, kayu jati diolah menjadi struktur yang memadukan fungsi, simbol, dan sejarah. Setiap sulur, patra, lengkung, mustaka, dan jaladwara menjadi bagian dari narasi tentang perubahan yang tidak terputus.
Mukha Moksha mengajak kita memahami bahwa budaya Jepara tumbuh melalui peralihan, bukan pemutusan. Dari Majapahit ke Demak, dari candi ke masjid, dari ornamen lama ke wajah baru, selalu ada jejak yang berlanjut. Karya ini menjadi pengingat bahwa sejarah tidak hanya tersimpan dalam teks, tetapi juga dalam bentuk, ukiran, cermin, dan cara kita menatap kembali masa lalu untuk mengenali wajah kebudayaan hari ini.


