- Home
- Uncategorized
- Mengurung Nafsu
Mengurung Nafsu
Nafsu dalam diri manusia kerap hadir seperti kekuatan liar yang tidak mudah ditundukkan. Ia dapat bergerak diam diam, tumbuh bersama keinginan, lalu mendorong manusia untuk melampaui batas. Karya Mengurung Nafsu membaca persoalan itu melalui bahasa ukir Jepara, dengan menghadirkan macan sebagai simbol dorongan batin yang buas dan teratai sebagai lambang keindahan duniawi yang memikat.
Karya macan kurung ini dibuat oleh Apeep Qimo, Saniman, dan Rokhani pada tahun 2026. Menggunakan material kayu jati utuh berukuran 83 x 35 cm, karya ini Macan Kurung ini merupakan salah satu bentuk kreatif khas Jepara yang telah diwariskan turun temurun. Melalui karya ini, tradisi tersebut tidak hanya dihadirkan sebagai keterampilan ukir, tetapi juga sebagai ruang perenungan tentang pengendalian diri.
Secara visual, karya ini menampilkan bentuk vertikal menyerupai kurungan. Sulur sulur kayu menjulur dari bagian bawah menuju ke atas, membentuk jeruji alami yang mengelilingi sosok macan di bagian dalam. Pada tubuh karya, sulur itu tidak berhenti sebagai garis pembatas, tetapi tumbuh menjadi ornamen yang hidup. Di beberapa bagian, bentuk daun dan bunga teratai muncul sebagai puncak dari gerak sulur yang menjalar. Dari bawah hingga ke atas, karya ini seperti memperlihatkan perjalanan ukiran yang bergerak, bertumbuh, lalu mencapai keindahan.
Menurut penjelasan Apeep Qimo, karya ini bercerita tentang sulur lotus. Prosesnya dimulai dari pengukiran sulur bagian bawah hingga ke atas, kemudian membentuk jeruji yang tersusun menjadi bunga lotus yang indah. Di dalamnya, macan menggambarkan nafsu, sedangkan lotus menjadi lambang keindahan duniawi. Dari pertemuan dua simbol itu lahirlah gagasan Mengurung Nafsu, yaitu usaha manusia untuk menahan dorongan liar dalam dirinya di tengah daya tarik dunia yang mempesona.

Macan Kurung sendiri merupakan salah satu produk kreatif khas Jepara. Belum diketahui secara pasti kapan karya ini pertama kali diciptakan, namun diperkirakan telah ada sebelum masa Kartini. Macan Kurung ini diwariskan dari generasi ke generasi dengan pakem tertentu. Salah satu pakem pentingnya adalah bahwa Macan Kurung dibuat dari satu balok kayu utuh yang dipahat tanpa sambungan atau tempelan. Dari satu tubuh kayu, pengukir menciptakan macan, kurungan, rantai, bandul, dan unsur unsur pendukung lain dalam satu kesatuan bentuk.
Bentuk utama Macan Kurung biasanya berupa seekor macan atau harimau yang salah satu kakinya dirantai dengan bandul bola besi, lalu ditempatkan di dalam kurungan. Selain macan, sering pula hadir unsur lain seperti burung, garuda, ular, atau naga. Unsur unsur tersebut memperkaya narasi visual karya, sekaligus menunjukkan bahwa Macan Kurung tidak sekadar menampilkan binatang yang terpenjara, tetapi juga menggambarkan pertarungan simbolik antara kekuatan, kebebasan, penjagaan, dan pengendalian.
Pada masa Kartini, salah satu pengukir Macan Kurung yang dikenal adalah Singo Wiryo. Ia tinggal di Desa Belakang Gunung, Jepara ( sekarang Desa Mulyoharjo) sebuah wilayah yang hingga kini dikenal sebagai desa para pengukir. Banyak pengrajin di daerah tersebut memiliki kemampuan tinggi dalam membuat ukiran dan patung dengan mutu craftsmanship yang kuat. Dari lingkungan seperti inilah tradisi Macan Kurung terus hidup, diwariskan, dan dikembangkan.
Makna Macan Kurung sangat erat dengan ajaran kehidupan masyarakat Jawa. Dalam pandangan Jawa, manusia selalu hidup bersama berbagai dorongan nafsu. Terdapat empat jenis nafsu yang kerap disebut, yaitu amarah, aluamah, mutmainah, dan sufiyah. Keempatnya menyertai perjalanan manusia dan memengaruhi cara seseorang berpikir, bersikap, serta bertindak. Nafsu tidak selalu dapat dihapus, tetapi perlu dikenali, dijaga, dan dikendalikan.
Macan dalam karya ini menjadi representasi dari kekuatan nafsu tersebut. Ia buas, kuat, dan selalu memiliki kehendak untuk lepas. Sekalipun telah dirantai dan dikurung, macan tetap menyimpan tenaga untuk memberontak. Gambaran ini dekat dengan kehidupan manusia. Seseorang dapat berusaha menahan diri, tetapi dorongan dalam dirinya tetap dapat muncul kapan saja. Karena itu, pengendalian nafsu bukan pekerjaan sekali selesai, melainkan laku yang terus menerus dijalani.
Teratai dalam karya ini menghadirkan lapisan makna lain. Bunga teratai sering dibaca sebagai simbol keindahan, kemurnian, dan daya tarik dunia. Dalam Mengurung Nafsu, lotus menjadi gambaran keindahan duniawi yang memikat manusia. Ia indah, tetapi sekaligus dapat menjadi ujian. Di sinilah karya ini menemukan ketegangannya. Macan sebagai nafsu berada di dalam kurungan sulur yang tumbuh menuju lotus, seolah memperlihatkan bahwa manusia selalu berada di antara dorongan batin dan pesona dunia.
Kekuatan karya ini terletak pada cara tradisi lama diolah kembali menjadi pembacaan yang segar. Pakem Macan Kurung tetap terasa, tetapi bahasa bentuknya diperluas melalui susunan sulur dan lotus yang membentuk jeruji alami. Kayu jati tidak hanya menjadi material, melainkan tubuh yang menyimpan cerita. Setiap lekuk, lubang, dan rongga memberi kesan bahwa ukiran ini lahir dari kesabaran, ketelitian, dan penguasaan teknik yang tinggi.
Di rangkaian TATAH 2026, Mengurung Nafsu menjadi karya yang membawa kita pada perenungan tentang diri. Ia mengingatkan bahwa seni ukir Jepara tidak hanya berbicara tentang keindahan bentuk, tetapi juga tentang nilai hidup. Melalui macan, kurungan, sulur, dan teratai, karya ini menghadirkan pesan sederhana namun dalam. Manusia perlu mengenali nafsunya, menahannya, dan mengendalikannya agar tidak dikuasai oleh kekuatan liar yang ada di dalam dirinya.


