Ratu dari Pulau Muria

Karya Ratu dari Pulau Muria dibuat oleh Roni, Sutrisno, Mugi, dan Jokowi dengan material kayu jati berukuran 296 x 246 x 36 cm. Karya ini menghadirkan sosok Nyai Retno Kencono, yang dikenal dalam sejarah sebagai Ratu Kalinyamat, pemimpin perempuan dari Kerajaan Jepara yang memiliki pengaruh besar dalam perjalanan maritim Nusantara.

Ratu Kalinyamat dikenal sebagai figur yang adil, tegas, dan jujur dalam bertutur kata. Kepemimpinannya tidak hanya dikenang melalui kekuasaan politik, tetapi juga melalui keberanian, kecerdasan, dan kemampuannya membaca arah zaman. Dari singgasananya di Kalinyamat, ia mengawasi kehidupan pelabuhan Jepara dan pergerakan kapal kapal yang hilir mudik di Selat Muria. Selat ini pada masanya menjadi jalur penting bagi perdagangan, pelayaran, dan hubungan antarkerajaan.

Jepara pada masa Ratu Kalinyamat bukanlah kota yang sunyi. Ia tumbuh sebagai kota pelabuhan yang ramai, terbuka, dan strategis. Kapal kapal dari berbagai tempat datang membawa komoditas, pengetahuan, keterampilan, dan keyakinan. Dari Tiongkok, Arab, hingga Eropa, banyak bangsa hadir dan singgah di Jepara. Mereka tidak hanya melakukan perdagangan, tetapi juga terlibat dalam pertukaran budaya yang memberi warna pada kehidupan masyarakat pesisir.

Keterbukaan Jepara terhadap dunia luar membuat kota ini berkembang sebagai ruang perjumpaan. Di pelabuhan, barang dagangan berpindah tangan. Di bengkel dan ruang kerja, keterampilan dipertukarkan. Dalam kehidupan sosial, ajaran agama, pengetahuan, serta teknik pertukangan ikut menyebar. Dari proses inilah Jepara tumbuh sebagai wilayah yang adaptif, mampu menerima pengaruh luar, sekaligus mengolahnya menjadi bagian dari identitas lokal.

Peran Ratu Kalinyamat dalam sejarah maritim Nusantara juga tampak melalui keberaniannya menggerakkan armada laut Jepara. Ia pernah memerintahkan armada besar untuk membantu Kesultanan Aceh dalam upaya mengusir Portugis di Malaka. Tindakan ini menunjukkan bahwa kepemimpinannya tidak hanya terbatas pada wilayah Jepara, tetapi juga menjangkau kepentingan yang lebih luas dalam menjaga kedaulatan dan kekuatan maritim Nusantara.

Selain membantu Aceh, Ratu Kalinyamat juga mengirimkan bala ke Kerajaan Hitu. Langkah ini memperlihatkan adanya solidaritas antarkerajaan di Nusantara. Jepara pada masa itu tidak berdiri sendiri, melainkan menjadi bagian dari jaringan kekuatan pesisir yang saling terhubung. Hubungan tersebut dibangun melalui laut, armada, diplomasi, dan kesadaran bersama untuk menghadapi kekuatan asing.

Sebagai penguasa Kalinyamat, Ratu Kalinyamat menjadi simbol kepemimpinan perempuan yang kuat. Ia hadir dalam sejarah bukan sebagai tokoh pelengkap, melainkan sebagai pengambil keputusan yang menentukan arah politik, perdagangan, dan pertahanan maritim. Di tangannya, Jepara berkembang menjadi pusat peradaban yang dinamis dan berpengaruh.

Ratu Dari Pulau Muria

Karya berbahan kayu jati ini memberi ruang bagi kita untuk membaca kembali sosok Ratu Kalinyamat melalui bahasa rupa. Kayu jati, yang selama ini melekat dengan tradisi ukir Jepara, menjadi medium untuk menghadirkan ingatan tentang kekuasaan, keberanian, dan martabat seorang ratu dari Pulau Muria. Material ini menghubungkan sejarah kepemimpinan dengan tradisi kayu yang menjadi bagian penting dari identitas Jepara.

Melalui TATAH 2026, Ratu dari Pulau Muria mengingatkan kita bahwa Jepara tidak hanya dibentuk oleh para pengukir dan karya kayu, tetapi juga oleh tokoh besar yang pernah memimpin dari ruang pesisir. Ratu Kalinyamat menjadi penanda bahwa sejarah Jepara adalah sejarah tentang laut, perdagangan, diplomasi, perlawanan, dan kemampuan sebuah kota untuk berdiri sejajar dalam percaturan Nusantara.

Queen from Muria Island

The work Ratu dari Pulau Muria was created by Roni, Sutrisno, Mugi, and Jokowi using teak wood, with dimensions of 296 x 246 x 36 cm. This work presents the figure of Nyai Retno Kencono, known in history as Ratu Kalinyamat, a female ruler of the Jepara Kingdom who had great influence in the maritime history of Nusantara.

Ratu Kalinyamat is remembered as a just, firm, and honest figure in speech. Her leadership is remembered not only through political power, but also through courage, intelligence, and her ability to read the direction of her time. From her throne in Kalinyamat, she watched over the life of Jepara’s port and the movement of ships passing through the Muria Strait. At that time, the strait was an important route for trade, shipping, and relations between kingdoms.

Jepara during the time of Ratu Kalinyamat was not a quiet city. It grew as a busy, open, and strategic port city. Ships from many places arrived carrying commodities, knowledge, skills, and beliefs. From China, Arabia, and Europe, many nations came and stopped in Jepara. They did not only trade, but also took part in cultural exchange that colored the life of coastal communities.

Jepara’s openness to the outside world allowed the city to develop as a space of encounter. In the port, goods changed hands. In workshops and workspaces, skills were exchanged. In social life, religious teachings, knowledge, and craftsmanship techniques spread. Through this process, Jepara grew as an adaptive region, able to receive outside influences while transforming them into part of its local identity.

Ratu Kalinyamat’s role in Nusantara’s maritime history can also be seen through her courage in mobilizing Jepara’s naval fleet. She once ordered a large fleet to help the Aceh Sultanate in its effort to drive the Portuguese out of Malacca. This action shows that her leadership was not limited to Jepara, but extended to broader interests in preserving sovereignty and maritime power across Nusantara.

In addition to helping Aceh, Ratu Kalinyamat also sent troops to the Kingdom of Hitu. This step shows a sense of solidarity among kingdoms in Nusantara. Jepara at that time did not stand alone, but was part of an interconnected network of coastal powers. Those relationships were built through the sea, fleets, diplomacy, and a shared awareness of facing foreign power.

As the ruler of Kalinyamat, Ratu Kalinyamat became a symbol of strong female leadership. She appears in history not as a supporting figure, but as a decision-maker who shaped the direction of politics, trade, and maritime defense. In her hands, Jepara developed into a dynamic and influential center of civilization.

This teak wood work provides a space for us to reread the figure of Ratu Kalinyamat through visual language. Teak, long attached to Jepara’s carving tradition, becomes a medium for presenting the memory of power, courage, and the dignity of a queen from Muria Island. The material connects the history of leadership with the wood tradition that is an important part of Jepara’s identity.

Through TATAH 2026, Ratu dari Pulau Muria reminds us that Jepara was shaped not only by carvers and wooden works, but also by a great figure who once ruled from a coastal space. Ratu Kalinyamat stands as a sign that Jepara’s history is a history of the sea, trade, diplomacy, resistance, and the ability of a city to stand as an equal within the wider arena of Nusantara.

Sorotan Rekomendasi