- Home
- Uncategorized
- Buku Tatah 2026: Rekonstruksi Jepara sebagai Pusat Pengetahuan
Buku Tatah 2026: Rekonstruksi Jepara sebagai Pusat Pengetahuan
Selain pameran, Tatah 2026 juga menyiapkan sebuah buku yang diposisikan bukan sebagai katalog karya, melainkan sebagai produk pengetahuan. Buku ini dirancang sebagai upaya akademik untuk merekonstruksi Jepara, bukan hanya sebagai wilayah produksi seni ukir, tetapi sebagai entitas intelektual, kultural dan sosial yang telah lama berinteraksi dengan dinamika global.
Pandangan tersebut disampaikan oleh Dr. Arif Akhyat, peneliti dan sejarawan budaya yang selama ini aktif mengkaji sejarah dan dinamika intelektual masyarakat Jawa, khususnya pada masa kolonial. Dalam Tatah 2026, ia terlibat sebagai bagian dari tim riset yang menyusun fondasi pengetahuan bagi pameran dan buku.
“Buku ini adalah upaya konstruktif akademik untuk menciptakan satu produk pengetahuan, yang merekonstruksi Jepara sebagai potensi baik potensi intelektual, kultural, sosial maupun ekonomi,” ungkap Arif Akhyat.

Buku sebagai Upaya Rekonstruksi, Bukan Dokumentasi
Menurut Arif, buku Tatah 2026 tidak dimaksudkan sebagai dokumentasi pameran, apalagi sekadar arsip visual. Buku ini menjadi medium untuk membaca kembali kesiapan kultural masyarakat Jepara dalam menghadapi proses globalisasi sejak masa kolonial.
“Buku ini ingin memberikan pemahaman bahwa Jepara bukan wilayah yang terbatas, tetapi memiliki kesiapan kultural untuk menghadapi globalisasi yang hadir bersamaan dengan kolonialisme,” jelasnya.
Dalam konteks ini, seni ukir dan kebudayaan Jepara dipahami sebagai bagian dari proses sejarah dunia, bukan fenomena lokal yang terisolasi.
SULUK – SULUR – JEPARA dalam Skala Makro
Tema SULUK – SULUR – JEPARA tetap menjadi pijakan konseptual buku Tatah. Namun, Arif menegaskan bahwa tema tersebut hanyalah bagian kecil dari keseluruhan proses besar Jepara.
“Tema Suluk–Sulur–Jepara itu sebenarnya hanya satu bagian kecil dari proses Jepara yang besar dan luas,” ujarnya.
Jepara, menurutnya, adalah kawasan dengan kompleksitas yang mencakup aspek ekonomi, politik, budaya, agama, hingga pemikiran tasawuf dan keagamaan. Sebuah kekhasan yang membedakannya dari wilayah Pantai Utara Jawa lainnya.
Karena itu, buku Tatah diarahkan mengikuti pola Suluk–Sulur–Jepara, tetapi dalam skala makro, agar mampu menunjukkan bagaimana Jepara menjadi bagian dari pembentukan pemikiran Jawa yang bersentuhan dengan modernitas.
“Buku ini diharapkan menjadi jendela bagaimana Jepara menjadikan Jawa sebagai bagian dari pemikiran-pemikiran modern dalam konteks lokal Jepara,” tambah Arif.
Sejarah sebagai Pintu Masa Depan Jepara
Buku Tatah 2026 secara tegas tidak diposisikan sebagai buku sejarah konvensional. Sejarah digunakan sebagai alat membaca masa depan, bukan sebagai tujuan akhir.
“Buku ini bukan sekadar buku sejarah, tetapi pintu gerbang untuk menentukan masa depan Jepara,” tegas Arif.
Dengan mengkaji sejarah Jepara, terutama pada periode prakolonial dan kolonial, buku ini berupaya merumuskan grand design bagi pengembangan Jepara ke depan. Di dalamnya terdapat dialog dan dialektika antar generasi, serta pembacaan atas produk budaya yang bersifat tangible maupun intangible.
Jepara sebagai Center of Excellence dan Produsen Pengetahuan
Salah satu poin penting yang ingin ditonjolkan buku Tatah adalah posisi Jepara sebagai center of excellence, sebuah wilayah yang tidak hanya menghasilkan produk, tetapi juga pengetahuan.
“Jepara ini adalah produsen pengetahuan yang unik dibandingkan wilayah-wilayah lain,” kata Arif.
Pengetahuan tersebut mencakup pemikiran tentang modernisme, intelektualitas, serta relasi global yang telah terbangun sejak masa kolonial. Jepara dipotret sebagai masyarakat yang responsif, dialektis, dan terbuka terhadap gagasan baru.
“Jepara bisa menjadi lesson learned bagaimana sebuah masyarakat berkembang dengan cepat, responsif, dan melahirkan pemikiran-pemikiran baru,” lanjutnya.
Arsip sebagai Basis Penulisan
Secara metodologis, buku Tatah 2026 bertumpu pada arsip kolonial, buku-buku sezaman dan sumber sekunder. Wawancara digunakan secara selektif, terutama ketika data tertulis tidak ditemukan.
“Sumber utama buku ini adalah arsip-arsip kolonial dan buku-buku sezaman. Wawancara dilakukan ketika data tidak ditemukan,”jelas Arif.
Bagi Arif, arsip tidak sekadar alat untuk menentukan fakta, tetapi sarana untuk menginterpretasi realitas sosial pada masa lalu.
“Sumber bukan hanya alat menentukan fakta, tapi cara membaca realitas sosial pada zamannya,” tambahnya.
Melalui buku Tatah 2026, Jepara dihadirkan bukan hanya sebagai kota ukir, tetapi sebagai ruang produksi pengetahuan dengan sejarah panjang dan kapasitas intelektual yang kuat. Buku ini menjadi bagian penting dari Tatah 2026. Sebuah upaya membaca masa lalu untuk merancang masa depan, dengan berpijak pada arsip, pengetahuan dan dialog lintas generasi.


