- Home
- Uncategorized
- Di Balik Ketukan Palu, Kisah Proses Berkarya Seniman Jepara
Di Balik Ketukan Palu, Kisah Proses Berkarya Seniman Jepara
Proses Kreatif Para Seniman Menuju TATAH 2026
Suara ketukan palu dan gesekan tatah tradisional kembali menggema di salah satu gudang produksi ukir di Desa Senenan, Kecamatan Tahunan, Jepara. Di tempat inilah para seniman dan pengukir Jepara tengah menyiapkan karya untuk TATAH 2026, sebuah pameran besar yang menjadi simbol perjalanan panjang seni ukir Jepara menuju masa depan.

Tahap Pemahatan: Garis Mulai Berubah Menjadi Bentuk
Proses kreatif kali ini telah memasuki tahap pemahatan, ketika desain yang semula berupa garis dan rancangan mulai berubah menjadi bentuk kasar di permukaan kayu. Sejak awal, pengerjaan dilakukan dengan penuh ketelitian, kesadaran, dan rasa hormat terhadap filosofi di balik setiap langkah.
Dimulai dari perancangan desain, pemilihan kayu terbaik, proses nglemahi (menyiapkan permukaan), hingga masuk pada tahap mbukak’i. Yakni fase ketika bentuk awal ukiran mulai muncul perlahan.

Kolaborasi Seniman Harmoni dalam Sebuah Panel Ukir
Salah satu karya berupa panel dinding (wall panel) berukuran 2,6 x 2,2 meter yang dikerjakan oleh tujuh seniman ukir Jepara. Mereka bekerja dalam harmoni, memadukan keahlian, ketelitian dan filosofi yang diwariskan secara turun-temurun. Setiap garis, lekuk dan pahatan memiliki peran dalam membangun cerita besar yang akan dipresentasikan pada pameran mendatang.

Mengukir Sebagai Proses Spiritual dan Emosional
“Dalam setiap coretan tatah, kami tidak hanya membentuk kayu, tapi juga membangun kembali jati diri Jepara,” ujar salah satu seniman. Bagi mereka, mengukir bukan sekadar keterampilan teknis, melainkan proses spiritual sebuah pertemuan antara rasa, kesabaran, pengalaman dan keyakinan. Kayu menjadi medium yang menyampaikan pesan, doa dan keindahan.

Ketekunan yang Tak Terburu Waktu
Tahapan pengerjaan masih akan berlanjut beberapa bulan ke depan. Setiap proses memerlukan waktu panjang, ketelitian tinggi, dan kolaborasi erat antar seniman. Proses ukir Jepara dikenal tidak hanya karena hasilnya yang indah, tetapi juga karena filosofi ketekunan, kesabaran dan kejujuran yang menyertainya. Nilai-nilai inilah yang membuat karya ukiran Jepara memiliki makna yang begitu dalam.

Merayakan Laku, Struktur, dan Identitas Khas Jepara
Program TATAH kini memfokuskan diri pada tiga pilar besar:
- Suluk – laku batin, nilai, piwulang, dan etika kerja para pengukir
- Sulur – struktur visual utama yang menata ritme dan alur komposisi ukiran
- Japara – identitas estetika yang lahir dari silang sejarah dan tradisi lokal
TATAH bukan sekadar pameran seni. Ia adalah upaya membaca ulang seni ukir Jepara sebagai pengetahuan visual yang bertumbuh dari pengalaman, tradisi, sejarah budaya, serta dialog panjang antarperadaban.

Dialog antara Masa Lalu dan Masa Kini
Dalam konteks itu, proses penciptaan panel ukir besar ini memiliki makna luas. Hal ini bukan hanya karya estetika, tetapi dialog antara masa lalu dan masa kini. Antara warisan leluhur dan interpretasi kreatif generasi penerus. Melalui tangan para seniman lokal, Jepara menyampaikan pesan kepada dunia bahwa seni ukir adalah bahasa yang terus hidup dan berkembang.
Mengukir Peradaban di Kota Ukir Dunia
Sebuah karya besar memerlukan waktu. Namun bagi para seniman Jepara, waktu adalah bagian dari ritme alami dalam berkarya. Setiap detik di bengkel ukir adalah bentuk penghormatan kepada leluhur, kepada kayu, dan kepada budaya yang telah mengangkat Jepara menjadi “Kota Ukir Dunia”.

TATAH 2026 hadir untuk menegaskan hal itu, bahwa di tengah arus modernitas, Jepara tetap menjadi rumah bagi tangan-tangan yang tidak hanya mengukir kayu, tetapi juga mengukir peradaban.


