• Home
  • Uncategorized
  • Jepara Sebagai Ruang Terbuka Budaya, Narasi Simbolik di Balik Motif Ukirnya

Jepara Sebagai Ruang Terbuka Budaya, Narasi Simbolik di Balik Motif Ukirnya

Kurator TATAH 2026 sekaligus akademisi Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta, Nur Rohmad, S.Sn., menegaskan bahwa Jepara adalah ruang budaya terbuka yang lahir dari proses panjang pertemuan berbagai peradaban. Menurutnya, karakter seni ukir Jepara tidak mungkin dipisahkan dari sejarah hibridisasi yang membentuk kecerdasan kolektif masyarakatnya.

Jepara Sebagai Ruang Terbuka Budaya, Narasi Simbolik Di Balik Motif Ukirnya

“Jepara adalah sebuah ruang yang terbuka, yang menjadi penanda bahwa Jepara terbentuk dari hibridisasi dan kemudian membentuk masyarakat yang cerdas,” ujar Nur Rohmad.

Sebagai akademisi dan praktisi kriya, ia melihat bahwa motif-motif ukiran Jepara menyimpan jejak keberlanjutan budaya dari masa Hindu-Buddha, Islam hingga modern. Pola-pola simbolik tersebut tidak hanya estetis, tetapi sarat dengan narasi spiritual dan kosmologis.

Nur Rohmad Bersama Suwarno Kunjungan Riset Di Pendopo Kabupaten Jepara

“Membicarakan motif berarti berbicara tentang kebudayaan Hindu-Buddha. Di dalamnya ada konteks ketuhanan, ada konsep kehidupan. Ada Kekala sebagai penanda waktu, ada Makara sebagai simbol awal kehidupan. Itu semua adalah pola Hindu-Buddha,” jelasnya.

Menurutnya, warisan visual itu tidak berhenti pada satu periode saja. Ketika Jepara memasuki era Islam, pola-pola tersebut tidak hilang, tetapi bertransformasi. Nilai dan simbol lama tetap dipertahankan, namun dikreasikan ulang untuk menyesuaikan perkembangan teologi dan kebutuhan zaman.

Nano Suwarno Bersama Nur Rohmad Dan Suwarno Usai Kunjungan Riset Di Jepara

“Pola-pola ini masih tetap dipakai. Kemudian dielaborasi, diinterpretasikan melalui bahasa-bahasa teologis. Dan teologi sangat mempengaruhi jejak kreatif masyarakat Jepara,” tambahnya.

Pemikiran Nur Rohmad memberikan perspektif penting dalam proses kuratorial TATAH 2026: bahwa ukiran Jepara bukan hanya karya teknis, melainkan bukti perjalanan panjang peradaban yang saling bertemu, berbaur dan melahirkan bentuk-bentuk baru yang tetap berakar pada kearifan tradisi.

Nur Rohmad Di Seniman Ukir Roni Sukodono

Sebagai dosen ISI Yogyakarta, Nur Rohmad telah lama berfokus pada kajian kriya, simbolisme visual, dan dinamika kebudayaan Nusantara. Keterlibatannya dalam TATAH 2026 memperkaya pendekatan akademis sekaligus memperkuat narasi historis bahwa Jepara layak dipandang sebagai pusat seni ukir dengan kedalaman filosofi yang jarang dimiliki daerah lain.

Sorotan Rekomendasi