- Home
- Uncategorized
- Kasuari
Kasuari
Dalam karya Kasuari, M. Chody tidak menghadirkan burung kasuari sebagai tiruan alam yang sepenuhnya naturalistik. Ia memilih jalan artistik yang lebih bebas, yaitu membaca bentuk kasuari melalui stilasi, deformasi, dan kesadaran komposisi. Dari pendekatan tersebut, kasuari tidak hanya tampil sebagai sosok burung, tetapi sebagai bentuk visual yang memadukan ingatan tentang alam, keterampilan ukir, dan keberanian mengolah kayu jati.
Kasuari merupakan salah satu karya M. Chody yang akan dipamerkan di Museum Nasional Indonesia Jakarta dalam Pameran TATAH 2026, yang berlangsung pada 29 April hingga 5 Juli 2026. Karya ini dibuat pada tahun 2000 menggunakan material kayu jati dengan ukuran 136 x 60 x 170 cm. Kehadirannya dalam pameran ini memperlihatkan salah satu sisi penting dari perjalanan seni ukir Jepara, ketika ukiran tidak hanya hadir sebagai ornamen, tetapi juga menjelma menjadi karya patung yang memiliki karakter ekspresif.
Secara visual, tubuh kasuari dalam karya ini diolah melalui penyederhanaan bentuk. Anatomi burung tidak digambarkan secara rinci seperti dalam pendekatan realis, melainkan dipadatkan menjadi struktur yang lebih simbolik. Bagian tubuh, kepala, kaki, dan terutama bulu diolah menjadi elemen visual yang ritmis. Setiap bagian tidak berdiri sendiri, tetapi membentuk komposisi yang menyatu.
Kekuatan utama karya ini terletak pada repetisi elemen bulu. Bulu kasuari tidak hanya dipahat sebagai tekstur, tetapi sebagai susunan bentuk yang berulang dan membangun irama. Pengulangan tersebut menciptakan kesan gerak, seolah tubuh burung memiliki energi yang terus mengalir. Dari repetisi itu, kasuari tetap terasa hidup meskipun bentuknya telah mengalami stilasi.
Stilasi yang dilakukan M. Chody memperlihatkan kesadaran bentuk yang kuat. Ia memahami bahwa dalam seni patung, bentuk tidak harus selalu menyerupai kenyataan secara langsung. Bentuk dapat dipilih, dipadatkan, dibelokkan, dan ditata ulang untuk menghadirkan ekspresi tertentu. Pada Kasuari, kita masih dapat mengenali sosok burung tersebut, tetapi sekaligus melihat kebebasan seniman dalam menafsirkan bentuknya.

Deformasi pada karya ini bukanlah penyimpangan tanpa arah, melainkan strategi artistik. Melalui perubahan proporsi dan pengolahan struktur tubuh, kasuari menjadi lebih kuat sebagai karya seni. Ia tidak lagi sekadar menggambarkan burung, tetapi menghadirkan watak, energi, dan keunikan kasuari melalui bahasa kayu.
Material kayu jati memberi dasar penting bagi karya ini. Kayu jati memiliki serat, kepadatan, dan warna yang memungkinkan pengolahan patung dengan daya tahan tinggi. Di tangan M. Chody, kayu tidak kehilangan karakternya. Serat dan warna alami tetap menjadi bagian dari pengalaman visual, sehingga karya terasa dekat dengan material asalnya.
Salah satu ciri khas yang menonjol dalam karya M. Chody adalah teknik pewarnaannya. Pada Kasuari, ia menggunakan perpaduan white wash dan warna transparan. Teknik ini menghadirkan kesan kuno dan terpatinasi, seolah karya telah melewati perjalanan waktu yang panjang. Namun warna tersebut tidak menutup karakter kayu, melainkan mempertegas tekstur, kedalaman, dan kehangatan materialnya.
Kesan patina memberi lapisan waktu pada karya ini. Permukaan yang tampak tua dan lembut membuat patung terasa seperti benda yang menyimpan sejarah. Di saat yang sama, pengolahan bentuk yang bebas membuatnya tetap terasa segar dan ekspresif. Pertemuan antara kesan arkaik dan keberanian bentuk inilah yang memberi kekuatan pada Kasuari.
Karya ini juga menunjukkan sisi lain dari seni ukir Jepara. Jepara sering dikenali melalui ornamen sulur, relief, dan furnitur berukir. Namun melalui Kasuari, M. Chody memperlihatkan bahwa kemampuan ukir Jepara juga dapat bergerak menuju patung artistik yang berdiri sebagai objek ekspresi. Ukiran tidak hanya menghias permukaan, tetapi membentuk tubuh, karakter, dan kehadiran.
Dalam pembacaan yang lebih luas, kasuari dapat dilihat sebagai simbol keberanian mengolah bentuk alam. Burung ini memiliki karakter kuat, tubuh khas, dan kesan eksotis. M. Chody tidak menirunya secara mentah, melainkan menangkap energi bentuknya lalu menerjemahkannya ke dalam bahasa kayu jati. Hasilnya adalah karya yang berbicara tentang alam, imajinasi, dan kepekaan seorang pengukir dalam menafsirkan objek.
Kasuari menjadi pengingat bahwa keindahan seni ukir tidak selalu lahir dari kerumitan ornamen yang padat. Ia juga dapat muncul dari keberanian menyederhanakan, mengulang, menata ritme, dan memberi karakter pada bentuk. Melalui karya ini, M. Chody menunjukkan bahwa kayu jati dapat menjadi medium untuk menghadirkan tafsir yang kuat terhadap alam, sekaligus memperlihatkan kedalaman rasa dan keterampilan dalam tradisi ukir Jepara.


