Kursi Portugis

Sebuah kursi dapat menyimpan lebih dari sekadar fungsi. Pada bentuk, material, ukiran, dan cara duduk yang dibawanya, tersimpan jejak perjumpaan budaya yang panjang. Di Jepara, furnitur bukan hanya bagian dari kebutuhan rumah tangga, tetapi juga menjadi saksi bagaimana kota ukir ini menerima pengaruh dari berbagai bangsa, lalu mengolahnya melalui kecakapan tangan para perajin lokal.

Kursi Portugis merupakan karya Wafi berukuran 55 x 56 x 138 cm dengan material kayu jati kombinasi rotan. Karya ini menghadirkan kembali jejak hibridisasi budaya yang pernah tumbuh di Jepara, terutama ketika kota ini menjadi ruang pertemuan bangsa bangsa dari jalur perdagangan laut.

Secara visual, kursi ini memiliki sandaran tinggi dengan bentuk melengkung pada bagian atas. Rangka kayunya tampil gelap, kokoh, dan berkesan klasik. Bagian puncak sandaran dipenuhi ukiran padat, sementara bagian dudukan dan sandaran tengah menggunakan anyaman rotan. Perpaduan kayu jati dan rotan membuat kursi ini terasa kuat sekaligus ringan, mewah sekaligus akrab dengan iklim tropis.

Jepara dalam sejarahnya sebagai kota pelabuhan membuka peluang hadirnya berbagai bangsa untuk melakukan transaksi ekonomi, politik, dan negosiasi budaya. Salah satu bangsa yang memberi pengaruh penting adalah Portugis. Kehadiran mereka di kawasan pesisir Nusantara membawa perubahan pada berbagai aspek kehidupan, mulai dari bahasa, seni, arsitektur, kuliner, hingga perlengkapan rumah tangga.

Furnitur menjadi salah satu bentuk percampuran budaya yang paling mudah dikenali. Kursi, meja, lemari, dan perlengkapan rumah lainnya tidak hanya dipakai untuk memenuhi kebutuhan domestik, tetapi juga menunjukkan selera, status sosial, dan cara hidup. Dalam ruang rumah bergaya Eropa di Jepara, kursi semacam ini diperkirakan hadir sebagai bagian dari tata ruang khusus yang memperlihatkan pengaruh luar dalam kehidupan masyarakat setempat.

Kursi Portugis Jepara

Model kursi ini memperlihatkan perpaduan antara ukiran kayu, anyaman rotan, dan teknik pelapisan furnitur atau upholstery. Gaya tersebut ditemukan pada masa VOC di Jepara, namun diperkirakan telah hadir lebih awal sejak masa Portugis sekitar tahun 1590 an, sebelum wilayah ini berada di bawah kekuasaan Vereenigde Oostindische Compagnie. Salah satu ciri yang menonjol adalah bentuk kaki yang menyerupai kaki kuda.

Dalam perkembangannya, bentuk kursi ini mengalami perubahan tanpa meninggalkan struktur dasarnya. Gaya bubutan pada kaki dan rangka memperlihatkan pengaruh Eropa, sementara motif flora menunjukkan kecenderungan ragam hias Belanda dengan gaya Nationale Stijl. Daun, bunga, dan sulur suluran hadir sebagai elemen dekoratif yang memperhalus tubuh kursi sekaligus memperlihatkan kemampuan pengukir Jepara dalam mengolah bidang kayu.

Kursi ini juga menyimpan jejak akulturasi dengan budaya Tiongkok. Unsur tersebut tampak dari bentuk kaki kuku kuda yang dikenal dalam tradisi furnitur masa Dinasti Ming, sekitar tahun 1368 sampai 1644. Ketertarikan bangsa Belanda terhadap ragam hias Tiongkok ikut membawa pengaruh itu ke dalam desain furnitur kolonial. Di Jepara, berbagai pengaruh tersebut tidak diterima secara mentah, melainkan diolah kembali melalui keterampilan lokal.

Ukiran pada kursi ini cenderung bersifat dua dimensi dengan bentuk sulur, daun, dan bunga. Ornamen tersebut menciptakan ritme visual pada keseluruhan karya. Anyaman rotan pada sandaran dan dudukan memberi keseimbangan antara keindahan dan kenyamanan. Sementara kayu jati sebagai material utama menegaskan kekuatan, daya tahan dan karakter khas furnitur Jepara.

Kursi Portugis mengajak kita membaca furnitur sebagai arsip kebudayaan. Pada satu benda, kita dapat menemukan jejak Portugis, Belanda, Tiongkok, dan Jepara. Semua pengaruh itu menyatu dalam bentuk kursi yang fungsional, dekoratif, dan simbolik. Ia menunjukkan bahwa benda rumah tangga pun dapat menjadi ruang pertemuan sejarah.

Dihadirkan dalam TATAH 2026, karya ini memperluas cara kita memahami seni ukir Jepara. Ukiran tidak hanya hidup pada panel, relief, atau ornamen besar, tetapi juga hadir dalam benda domestik yang dekat dengan kehidupan sehari hari. Kursi Portugis menjadi penanda bahwa Jepara pernah menjadi kota kosmopolitan, tempat pertemuan bangsa bangsa meninggalkan jejak pada kayu, rotan, bentuk dan fungsi.

Sumber rujukan

Van de Gein M dan kawan kawan, Domestic Interiors at Cape and Batavia 1602 sampai 1795, Den Haag, Zwolle, 2002.

Septi I dan Sachari A, Pergeseran Gaya Estetis Mebel di Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat, ITB Journal of Visual Art and Design, volume 1 nomor 1, 2007.

Iswahyudi, Paradigma Pendidikan Desain di Indonesia, Cakrawala Pendidikan, Tahun XXII nomor 3, 2003.

Portuguese Chair

A chair can hold more than function. In its form, material, carving, and the way of sitting it carries, there are traces of a long cultural encounter. In Jepara, furniture is not only part of household need, but also a witness to how this city of carving received influences from many nations and then transformed them through the skilled hands of local artisans.

Kursi Portugis is a work by Wafi, measuring 55 x 56 x 138 cm, made from teak wood combined with rattan. This work brings back traces of cultural hybridization that once grew in Jepara, especially when the city became a meeting space for nations connected through maritime trade routes.

Visually, the chair has a high backrest with a curved form at the top. Its wooden frame appears dark, solid, and classical. The crest of the backrest is filled with dense carving, while the seat and middle backrest use woven rattan. The combination of teak and rattan makes the chair feel both strong and light, luxurious yet familiar to a tropical climate.

Jepara, in its history as a port city, opened opportunities for various nations to engage in economic transactions, political relations, and cultural negotiations. One nation that gave important influence was Portugal. The Portuguese presence in the coastal areas of Nusantara brought changes to various aspects of life, from language, art, architecture, and cuisine to household furnishings.

Furniture became one of the most recognizable forms of cultural mixture. Chairs, tables, cabinets, and other household items were used not only to meet domestic needs, but also to show taste, social status, and ways of living. In European-style domestic spaces in Jepara, chairs like this are believed to have appeared as part of a special spatial arrangement reflecting outside influence in local life.

This chair model shows a blend of woodcarving, woven rattan, and furniture layering or upholstery techniques. This style was found during the VOC period in Jepara, but is thought to have appeared earlier, since the Portuguese era around the 1590s, before the region came under the Vereenigde Oostindische Compagnie. One prominent feature is the shape of the legs, which resembles horse legs.

In its development, the form of the chair changed without abandoning its basic structure. The turned style of the legs and frame shows European influence, while the floral motifs show a tendency toward Dutch ornament in the Nationale Stijl. Leaves, flowers, and tendrils appear as decorative elements that soften the body of the chair while showing the ability of Jepara carvers to work the wooden surface.

The chair also preserves traces of acculturation with Chinese culture. This element can be seen in the hoof-shaped legs known in Ming Dynasty furniture tradition, around 1368 to 1644. Dutch interest in Chinese decorative forms helped carry this influence into colonial furniture design. In Jepara, these various influences were not received raw, but reworked through local skill.

The carving on this chair tends to be two-dimensional, with forms of tendrils, leaves, and flowers. These ornaments create a visual rhythm across the work. The woven rattan on the backrest and seat offers a balance between beauty and comfort. Meanwhile, teak as the main material affirms the strength, durability, and distinct character of Jepara furniture.

Kursi Portugis invites us to read furniture as a cultural archive. In a single object, we can find traces of Portugal, the Netherlands, China, and Jepara. All these influences merge in a chair that is functional, decorative, and symbolic. It shows that household objects can also become spaces where history meets.

Presented in TATAH 2026, this work expands the way we understand Jepara carving. Carving does not live only in panels, reliefs, or large ornaments; it also appears in domestic objects close to everyday life. Kursi Portugis becomes a marker that Jepara was once a cosmopolitan city, a place where encounters among nations left traces on wood, rattan, form, and function.

References

Van de Gein M. and colleagues, Domestic Interiors at Cape and Batavia 1602 to 1795, The Hague, Zwolle, 2002.

Septi I. and Sachari A., Pergeseran Gaya Estetis Mebel di Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat, ITB Journal of Visual Art and Design, volume 1 number 1, 2007.

Iswahyudi, Paradigma Pendidikan Desain di Indonesia, Cakrawala Pendidikan, Year XXII number 3, 2003.

Sorotan Rekomendasi