- Home
- Uncategorized
- Menggali Fondasi TATAH 2026: Riset, Kartini dan Peran Perempuan dalam Seni Ukir Jepara
Menggali Fondasi TATAH 2026: Riset, Kartini dan Peran Perempuan dalam Seni Ukir Jepara
JEPARA – Pameran seni tidak sekadar memajang karya indah, tetapi juga harus dibangun di atas fondasi riset yang kuat. Hal inilah yang diyakini oleh Susi Ernawati Susindra, Tim Riset dalam Pameran TATAH 2026. Pihaknya menegaskan bahwa riset adalah kunci untuk membentuk jiwa pameran, menentukan alur cerita dan membangun kredibilitas penyelenggaraan.
Susi menceritakan bahwa melacak sejarah seni ukir Jepara bukanlah tugas yang mudah. Referensi yang valid sangat langka. Untuk spesialisasinya dalam mengkaji peran R.A. Kartini, ia bahkan harus menelusuri literatur berbahasa Belanda di DBNL (Digital Bibliotheek voor de Nederlandse Letteren), perpustakaan digital literatur Belanda, yang memuat catatan dari tahun 1800-an. Selain itu, ia juga dibantu oleh penelitian-penelitian dari CIFOR (Center for International Forestry Research) terkait perkembangan mebel di Jepara.

Namun, temuan dari riset ini sangat mengejutkan. Ternyata, banyak karya ukir luar biasa dari Jepara bersifat sangat eksklusif dan tidak diketahui masyarakat luas. “Karyanya Ibu Kartini juga orang-orang tidak tahu kreasi-kreasi beliau, jadi tidak ada di pasaran,” ungkap Mbak Susi. Bahkan, ornamen di Masjid Mantingan yang menurutnya adalah “museum ukir Nusantara”, bentuknya tidak banyak beredar di masyarakat umum.
Pameran TATAH 2026 bertujuan untuk membuka tabir eksklusivitas tersebut. “Melalui pameran kita kenalkan kembali. Seperti memberi pengetahuan baru ke masyarakat, ‘Seperti ini lho ukiran Jepara yang sudah teman-teman lewatkan,'” tuturnya.
Kartini dan Pemberdayaan Usia Belia
Selain karya pameran, TATAH 2026 juga akan meluncurkan sebuah buku yang komprehensif. Di dalam buku tersebut, Susi menyumbangkan tulisan khusus mengenai seni, perempuan dan pemberdayaan.
Salah satu fakta menarik yang akan diangkat adalah kiprah R.A. Kartini. “Menarik sekali bahwa Ibu Kartini itu melakukannya (pemberdayaan) ketika masih remaja, belasan tahun. Hasilnya dipamerkan ke Belanda tahun 1898, sebelum kenal Stella, Abendanon dan sahabat pena lainnya,” jelas Mbak Susi, panggilan akrabnya.
Kartini memilih Desa Blakang Goenoeng (sekarang Mulyoharjo) sebagai pilot project untuk pemberdayaan masyarakat lokal yang dampaknya sangat signifikan. Fakta bahwa gerakan sebesar itu dilakukan oleh seorang remaja belasan tahun adalah sebuah narasi yang menurut Susi, harus diketahui oleh publik.
Perspektif Gender dalam Seni Ukir
Susi juga menghadirkan perspektif gender dalam memandang seni ukir Jepara. Ia memaparkan bahwa peran perempuan dalam ekosistem ukir Jepara sangatlah besar, tidak hanya di masa lalu melalui Kartini dan Rukmini, tetapi juga hingga saat ini.
“Saat ini perempuan-perempuan Jepara juga masih berdaya dan mereka jadi pendukung aktif dalam seni ukir di Jepara. Ada pengusaha perempuan, desainer ukir perempuan, belum lagi banyak sekali pekerjaan yang mengkaryakan perempuan,” ujarnya.
Dalam proses risetnya yang melibatkan wawancara langsung dengan seniman, Susi menemukan sebuah kesamaan yang puitis antara pengalaman Kartini di masa lalu dengan pengalamannya saat ini. Ketika ia bertanya kepada seorang seniman bagaimana ia bisa menciptakan ukiran yang sangat kecil dan rumit, jawabannya adalah, “Saya membuat saja Mbak, saya seperti melihat ada di situ.”
Jawaban ini mengingatkan Susi pada catatan Kartini saat bertanya hal serupa kepada pengrajin di eranya, yang dijawab dengan, “Dari hati kami, Bendoro.” Hal ini membuktikan bahwa bagi seniman Jepara, seni ukir bukan sekadar teknik, melainkan proses intuitif yang mengalir dari dalam hati.
Melalui Pameran dan Buku TATAH 2026, Susi berharap masyarakat luas akan menyadari bahwa Jepara adalah kota seniman sejati dengan keterampilan warisan (skill heritage) yang luar biasa. “Pesan sesungguhnya dari kami adalah ingin memperlihatkan kembali kejayaan seni ukir Jepara,” pungkasnya.
TATAH 2026 Diselenggarakan di Museum Nasional Indonesia
Sebagai informasi bahwa pameran TATAH 2026 ini merupakan program bersama dari HIMKI Jepara Raya bekerjasama dengan berbagai pihak. Diantaranya adalah pemerintah Kabupaten Jepara, Komunitas Rumah Kartini, para kurator seni professional, pelaku usaha seni ukir dan furniture, seniman dan berbagai elemen organisasi dan elemen masyarakat. Rencananya, pameran berskala nasional yang mengangkat seni dan berbasis sejarah ini akan diselenggarakan di Museum Nasional Indonesia pada April mendatang.


