• Home
  • Uncategorized
  • Suluk – Sulur – Jepara sebagai Jembatan Membaca Sejarah, Menyusun Masa Depan Ukiran Jepara

Suluk – Sulur – Jepara sebagai Jembatan Membaca Sejarah, Menyusun Masa Depan Ukiran Jepara

Tema “SULUK – SULUR – JEPARA” tidak hanya dimaksudkan sebagai penanda konseptual, namun tema ini sebagai titik tekan utama agar publik memahami betapa pentingnya seni ukir bagi Jepara, bukan pula sekadar sebagai produk, melainkan sebagai ekosistem budaya yang hidup.

Nano Warsono selaku kurator menegaskan bahwa judul besar TATAH dan rangkaian tema Suluk–Sulur–Jepara harus dibaca sebagai satu kesatuan.

“TATAH itu kita maknai sebagai tools, sebagai alat. Tapi Suluk, Sulur, Jepara itu adalah rangkaian asal-usulnya, narasi, produk budaya dan identitas sekaligus wadah ruang hidup,” jelas Nano.

Dalam kerangka ini, Jepara dipahami sebagai ruang yang melahirkan dan menopang ekosistem seni ukir yang memengaruhi kehidupan sosial, kultural dan ekonomi masyarakatnya.

“Jepara adalah ruang di mana ekosistem seni ukir itu tumbuh dan memengaruhi banyak masyarakat di dalamnya,” tambahnya.

Nano Warsono Kurator Seni Dari Sukodono Jepara Dan Akademisi Isi Jogja

Menekankan Pentingnya Seni Ukir bagi Jepara

Bagian terpenting yang ingin ditekankan Nano kepada publik adalah urgensi mengangkat kembali seni ukir Jepara sebagai tema utama pameran. Bukan sekadar untuk merayakan keindahan karya, tetapi untuk menyadarkan kembali posisi seni ukir dalam pembentukan identitas kota dan masyarakatnya.

“Kalau mau ditekankan, ya sepenting apa sih seni ukir ini di Jepara untuk diangkat kembali menjadi satu tema pameran,” ujarnya.

Melalui TATAH 2026, seni ukir diposisikan sebagai fondasi kebudayaan, sebuah praktik yang membentuk cara hidup, cara berpikir dan relasi sosial masyarakat Jepara dari masa ke masa.

Historis, Kontemporer atau Keduanya?

Menjawab pertanyaan tentang kecenderungan pameran, Nano menolak dikotomi antara historis dan kontemporer. TATAH 2026 memang memiliki basis sejarah yang kuat, tetapi tidak berhenti pada narasi masa lalu.

“Suluk Sulur Jepara ini mempunyai nilai historis, tetapi tidak berhenti pada narasi historis masa lalu saja,” ungkap Nano.

Sejarah justru ditarik ke konteks hari ini, dibaca ulang agar relevan dengan persoalan dan tantangan yang dihadapi seni ukir Jepara saat ini.

“Kita mencoba menarik narasi historis masa lalu itu ke konteks sekarang, sehingga sejarah bisa menjadi modalitas untuk menemukan diri kita,” lanjutnya.

Dengan cara ini, pameran TATAH 2026 berfungsi sebagai jembatan, menghubungkan masa lalu dengan masa kini, sekaligus membuka strategi ke depan bagi pengembangan seni ukir di Jepara.

Suluk – Sulur – Jepara Sebagai Jembatan Membaca Sejarah, Menyusun Masa Depan Ukiran Jepara

Sejarah sebagai Modal Pengetahuan

Nano menekankan bahwa sejarah dalam TATAH 2026 bukan sekadar arsip atau romantisasi, melainkan modal pengetahuan. Melalui pemahaman sejarah, publik diajak melihat seni ukir Jepara secara lebih utuh.

“Sejarah menjadi bridging, menjadi pengetahuan,” tegasnya.

Pameran ini juga berupaya membongkar persepsi sempit yang selama ini melekat pada Jepara.

“Seni ukir di Jepara itu bukan hanya perkara mebel yang diperjualbelikan,” kata Nano.

Di balik produk ekonomi tersebut, terdapat nilai-nilai lain yang selama ini jarang dimunculkan.

“Ada value, ada nilai filosofis, nilai sosial dan nilai-nilai lain yang sebenarnya sudah lama ada,” tambahnya.

Tim Kurator Tatah 2026 Di Galeri Pak Sukarno Jalan Pemuda Jepara

Membuka Perspektif Baru bagi Publik

Dengan pendekatan ini, TATAH 2026 diharapkan mampu membuka perspektif baru, baik bagi publik seni maupun masyarakat umum untuk melihat Jepara melampaui citra sebagai kota penghasil kerajinan semata.

“Ini penting untuk membuka perspektif baru bagi publik seni dan publik umum, supaya melihat Jepara lebih utuh,” ujar Nano.

Melalui tema “SULUK – SULUR – JEPARA”, pameran TATAH 2026 menempatkan seni ukir sebagai pengetahuan hidup, berakar pada sejarah, bergerak di masa kini dan menjadi pijakan untuk merancang masa depan.

Sorotan Rekomendasi