• Home
  • Uncategorized
  • Lewat Film Kartini, Pameran TATAH Angkat Pemikiran Kartini dan Identitas Jepara

Lewat Film Kartini, Pameran TATAH Angkat Pemikiran Kartini dan Identitas Jepara

JAKARTA – Film Kartini karya sutradara Hanung Bramantyo diputar dalam rangkaian Pameran TATAH di Ruang Teater Museum Nasional Indonesia, Jakarta, Sabtu, 11 Juli 2026. Pemutaran ini menjadi salah satu program pendukung Pameran TATAH: Suluk, Sulur, dan Jepara yang mengangkat seni ukir Jepara sebagai warisan budaya, pengetahuan, dan identitas masyarakat.

Pemutaran film ini terasa istimewa karena film Kartini yang ditayangkan bukan versi yang biasa dijumpai di platform digital. Film tersebut merupakan versi yang pernah diputar di markas besar Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), New York, Amerika Serikat.

Pemutaran Film Kartini Pameran Tatah

Melalui pemutaran film ini, sosok Kartini kembali dihadirkan bukan hanya sebagai tokoh emansipasi yang diperingati setiap tahun, tetapi juga sebagai pemikir muda yang memiliki keberanian, gagasan besar, dan pandangan jauh melampaui zamannya.

Setelah pemutaran film, acara dilanjutkan dengan sharing session bersama sutradara Hanung Bramantyo, keturunan Kartini yakni Joddy Mulyasetya Putra, Daniel Frits Maurits Tangkilisan, serta Apeep Qimo dari Rumah Kartini.

Joddy Mulyasetya Putra

Direktur TATAH, Veronica Rompies, menyampaikan bahwa pemutaran film Kartini dalam rangkaian Pameran TATAH diharapkan dapat membuat masyarakat melihat Kartini secara lebih luas. Menurutnya, Kartini tidak cukup hanya dikenang melalui peringatan tahunan, tetapi perlu dipahami melalui gagasan dan pemikirannya.

“Harapannya, orang bisa mengenal Kartini bukan hanya sekadar lewat peringatan yang dilakukan setiap tahun. Di sini kita bisa melihat lebih jauh lagi tentang gagasan dan pemikiran dia yang benar-benar out of the box,” ujar Veronica.

Veronica Rompies Sambutan Pemutaran Film Kartini

Veronica menyebut, film karya Hanung Bramantyo telah menghadirkan sebagian sisi penting Kartini, terutama dalam konteks emansipasi. Namun, ia juga berharap ke depan ada karya lain yang lebih banyak menonjolkan keberanian berpikir Kartini saat masih berusia muda.

Menurutnya, tulisan-tulisan Kartini menyimpan gagasan luar biasa yang masih relevan hingga hari ini. Karena itu, Kartini perlu lebih sering diperkenalkan melalui pemikirannya, bukan hanya melalui simbol atau peringatan seremonial.

“Saya berharap suatu saat ada versi yang lebih menonjolkan bagaimana gagasan-gagasan luar biasanya dan keberanian berpikirnya saat ia masih begitu muda,” ujarnya.

Sementara itu, Hanung Bramantyo menjelaskan bahwa surat-surat Kartini memiliki cakupan pemikiran yang sangat luas. Kartini tidak hanya berbicara tentang emansipasi perempuan, tetapi juga bagaimana emansipasi itu dapat menyentuh banyak bidang kehidupan.

Hanung Bramantyo Sutradara Film Kartini Di Event Tatah

Dalam film Kartini, Hanung memilih untuk memberi fokus pada aspek ekonomi. Menurutnya, dampak pemikiran Kartini dalam bidang ekonomi masih sangat relevan dengan situasi perempuan masa kini dan masa depan.

“Yang disertakan di film ini, saya memilih fokus pada ekonomi. Karena dampak Kartini sampai saat ini sangat relevan dengan situasi perempuan masa kini maupun proyeksi masa depan mereka,” kata Hanung.

Hanung menyampaikan bahwa selama ini Kartini lebih sering dikenal melalui peringatan Hari Kartini setiap 21 April yang identik dengan emansipasi dan perjuangan hak perempuan. Namun, ia melihat dampak konkret dari gagasan Kartini juga sangat kuat dalam aspek ekonomi.

Ia juga mengakui bahwa ada banyak sisi lain dari pemikiran Kartini yang menarik untuk diangkat, termasuk kritik Kartini terhadap sistem patriarki yang dibawa atas nama agama. Namun, tidak semua gagasan itu bisa dimasukkan ke dalam film karena keterbatasan medium dan kebutuhan cerita.

Hanung Bramantro Tatah Jepara

Menurut Hanung, film tidak bisa memuat seluruh pengetahuan sejarah secara penuh. Film memiliki tugas utama sebagai medium hiburan yang memberi rangsangan informasi kepada penonton. Dari situ, penonton diharapkan terdorong untuk mencari tahu lebih dalam melalui buku, arsip, catatan sejarah, dan sumber pengetahuan lainnya.

“Fungsi film seperti Kartini ini adalah memunculkan keinginan menggali lebih dalam,” jelas Hanung.

Ia menegaskan bahwa bioskop bukan tempat utama untuk mencari ilmu pengetahuan murni. Menurutnya, film tetap memiliki unsur dramatisasi, hiburan, visual, dan pilihan cerita. Karena itu, penonton tidak bisa menjadikan film sebagai satu-satunya pegangan untuk memahami sejarah.

Hanung menyebut, porsi pengetahuan dalam film biasanya hanya sebagian kecil. Namun, jika film mampu membuat penonton penasaran dan terdorong membaca lebih jauh, maka film tersebut telah menjalankan fungsinya dengan baik.

Dalam konteks Pameran TATAH, Hanung melihat pemutaran film Kartini memiliki ekosistem yang tepat. Penonton tidak hanya menonton film, tetapi juga dapat melihat pameran, mengenal seni tatah atau ukir, lalu terdorong untuk menggali literatur sejarah tentang Kartini dan Jepara.

“Ekosistemnya sudah bagus di sini, ada filmnya, lalu ada pemikiran Kartini dalam bentuk karya lain seperti seni tatah atau ukiran. Penonton keluar dari bioskop, melihat pameran, lalu tergerak menggali literatur sejarahnya,” ujarnya.

Selain membahas film, Hanung juga menyampaikan pandangannya tentang Jepara. Menurutnya, Jepara adalah kota yang memiliki karakter kuat dan identitas yang sangat spesifik. Jepara tidak seharusnya kehilangan bentuk aslinya karena terlalu mengikuti tren kota lain.

Hanung Bramantyo Mengikuti Gallery Tour Pameran Seni Ukir Tatah Jepara

Hanung menilai Jepara memiliki akar sejarah besar, mulai dari Ratu Kalinyamat hingga Kartini. Karena itu, Jepara semestinya tampil sebagai kota yang memiliki identitas otentik, bukan menjadi kota yang seragam dengan arus modernisasi di banyak tempat.

Ia mengaku merasa miris ketika banyak kota di Indonesia mulai kehilangan ciri khasnya. Rumah, bangunan, dan wajah kota semakin mirip satu sama lain. Padahal, setiap kota memiliki sejarah dan karakter yang seharusnya dirawat.

“Kenapa Jepara harus meniru Jakarta? Kenapa harus meniru tren kota-kota lain? Ini yang membuat saya miris, kota-kota di Indonesia termasuk Jepara mulai kehilangan bentuk spesifiknya,” kata Hanung.

Hanung Bramantyo Joddy Dan Apeep Qimo Dari Rumah Kartini Di Pameran Tatah Jepara

Hanung berharap, ketika orang datang ke Jepara dan melihat gerbang bertuliskan “Bumi Kartini”, mereka benar-benar dapat merasakan jejak Kartini. Bukan hanya membaca nama Kartini sebagai slogan, tetapi merasakan suasana, sejarah, dan roh kota yang pernah melahirkan pemikiran besar Kartini.

Menurutnya, Jepara sebagai rumah Kartini perlu dikembangkan sebagai kota sejarah yang imersif. Orang yang datang ke Jepara seharusnya dapat membayangkan di mana Kartini hidup, belajar, menulis surat, dan membangun gagasan-gagasannya.

“Mumpung pemerintah dan Kemendikbud saat ini sedang sangat getol melakukan revitalisasi budaya, saya berharap Jepara dikembalikan menjadi kota yang unik. Sebagai rumahnya Kartini, orang yang datang ke Jepara harusnya bisa merasakan auranya secara imersif,” ujarnya.

Hanung Bramantyo Dan Joddy Berkunjung Ke Pameran Tatah Museum Nasional Indonesia

Hanung menegaskan bahwa Jepara perlu kembali menjadi kota sejarah. Roh dan marwah Kartini, Ratu Kalinyamat, serta warisan seni ukir Jepara harus terus dipelihara agar tidak hilang ditelan modernisasi yang seragam.

Pemutaran film Kartini dalam rangkaian Pameran TATAH menjadi pengingat bahwa Jepara memiliki warisan yang besar. Kartini, seni ukir, sejarah perempuan, dan identitas budaya Jepara adalah kekuatan yang perlu terus dibaca ulang, dirawat, dan diwariskan kepada generasi berikutnya.

Sorotan Rekomendasi