Mengukir Ketekunan dalam “Akar 1000”

Di sebuah rumah di Desa Mangunan, Kecamatan Tahunan Kabupaten Jepara, berdiri sebuah karya ukir yang tampak seperti jalinan akar yang saling bertaut dan menembus kayu jati. Karya itu diberi judul “Akar 1000”, sebuah karya yang lahir dari proses panjang, ketekunan dan keinginan kuat untuk menghadirkan sesuatu yang berbeda dari tradisi ukir yang selama ini dikenal.

Karya tersebut dibuat oleh Zabidi, seorang pengukir kelahiran Kecamatan Batealit, Jepara. Perjalanan hidupnya sebagai seniman tidak berjalan lurus, melainkan melalui berbagai pengalaman yang membentuk cara pandangnya terhadap seni ukir.

“Saya lahir di Jepara, tepatnya di desa kecil di Kecamatan Batealit,” ujar Zabidi saat menceritakan latar belakangnya. Masa mudanya dihabiskan dengan berkelana ke berbagai kota sebelum akhirnya kembali menempuh pendidikan.

Zabidi Seniman Ukir Jepara Akar 1000 Pameran Tatah

Setelah sempat merantau ke Jakarta, Blora, hingga Jawa Timur, ia kembali melanjutkan pendidikan di Tulungagung. Zabidi kemudian sempat kuliah di Surabaya sebelum akhirnya pindah ke Yogyakarta dan belajar di Institut Seni Indonesia Yogyakarta.

Pengalaman belajar seni, terutama di bidang logam, kelak memberi pengaruh pada cara ia bekerja dan bereksperimen dengan material.

Sepulang dari Yogyakarta, Zabidi kembali ke Jepara dan mencoba mengikuti jejak industri mebel yang menjadi identitas kota tersebut. Namun seiring waktu, ia merasa pendekatan itu belum sepenuhnya sesuai dengan apa yang ingin ia lakukan.

Ia kemudian mulai memikirkan sebuah karya yang benar-benar berbeda dari bentuk ukiran yang lazim ditemui.

“Dari kecil sampai saya sudah punya cucu, kalau pameran dari Jepara itu yang ditampilkan biasanya relief atau kaligrafi. Saya berpikir, kok Jepara yang sudah mendunia hanya seperti itu saja,” katanya.

Dari kegelisahan itulah gagasan untuk membuat karya yang tidak biasa mulai muncul.

Berawal dari Sebuah Tunggak

Inspirasi awal karya Akar 1000 datang dari sebuah tunggak kayu yang ia temukan di rumah seorang teman. Tunggak itu awalnya hanya setinggi sekitar 50 sentimeter.

Zabidi kemudian membelinya dan memanfaatkan kayu tersebut sebagai kaki meja. Pada tahap awal, karya itu memang difungsikan sebagai perabot dengan tambahan daun meja transparan yang diberi lampu dari dalam.

Namun sebuah komentar dari seorang kolektor membuatnya berpikir ulang.

“Ada yang bilang, ini luar biasa, tapi sayangnya difungsikan sebagai perabot,” kenangnya.

Sejak saat itu ia memutuskan untuk melanjutkan karya tersebut sebagai karya seni murni. Ia menambahkan komponen demi komponen hingga akhirnya terbentuk struktur tinggi yang menyerupai jalinan akar.

Proses pengerjaan karya ini dimulai pada 2014. Bagian dasar setinggi sekitar 50 sentimeter saja membutuhkan waktu satu tahun pengerjaan penuh.

Setelah itu, karya tersebut terus berkembang hingga mencapai bentuk akhirnya pada 2021.

“Kalau dihitung totalnya sekitar dua tahun delapan bulan pengerjaan serius,” kata Zabidi.

Seluruh proses dilakukan sendiri tanpa bantuan orang lain. Material yang digunakan adalah kayu jati yang diukir secara manual.

Menariknya, ia tidak menggunakan sketsa atau gambar awal dalam proses pengerjaan.

“Karena sudah ada di kepala. Saya ambil pahat, saya pukul, langsung jalan,” ujarnya.

Selain menggunakan pahat ukir tradisional, Zabidi juga bereksperimen dengan berbagai alat untuk menjangkau bagian dalam kayu yang sulit dijangkau.

Ia bahkan membuat sendiri mata bor panjang yang tidak tersedia di pasaran.

“Kalau di toko panjangnya cuma sekitar 12 sentimeter. Saya butuh yang 30 sentimeter, jadi saya buat sendiri,” katanya.

Pengalamannya mempelajari logam di ISI Yogyakarta membantu proses tersebut, karena ia memahami karakter material yang digunakan untuk membuat alat-alat itu.

Melawan Rasa Jenuh

Menurut Zabidi, tantangan terbesar dalam mengerjakan karya ini bukan pada desainnya, melainkan pada kemampuan untuk bertahan dari rasa jenuh.

“Desainnya sebenarnya sederhana. Yang sulit itu menahan rasa jenuh dan tetap istiqomah mengerjakannya,” ujarnya.

Semakin dalam bagian yang diukir, semakin sulit pula proses pengerjaannya. Pada suatu titik, ia bahkan sempat merasa hampir tidak mampu menyelesaikan karya tersebut.

Namun setelah melewati berbagai tahap, karya itu akhirnya selesai dan berdiri sebagai satu kesatuan yang terdiri dari tiga komponen utama.

Judul Akar 1000 dipilih bukan untuk menunjukkan jumlah akar secara harfiah, melainkan sebagai tema yang menggambarkan kompleksitas bentuk yang muncul dari kayu tersebut.

Zabidi sengaja memilih nama itu agar tidak terikat pada hitungan yang pasti.

“Kalau saya menulis ‘1000 akar’, berarti harus benar-benar ada seribu. Tapi kalau ‘Akar 1000’, itu tema. Bisa seribu, bisa lebih,” jelasnya.

Ia bahkan meyakini jumlah jalinan akar dalam karyanya kemungkinan jauh lebih dari seribu.

Harapan bagi Seni Ukir Jepara

Di akhir percakapan, Zabidi menyampaikan pandangannya tentang masa depan seni ukir Jepara.

Menurutnya, kota ini dikenal dunia karena mebel dan ukiran, tetapi perkembangan seni ukir sebagai ekspresi artistik masih perlu perhatian lebih.

“Jepara itu mendunia, tapi kalau dilihat kebanyakan masih kursi, meja, almari. Padahal pengukir di Jepara banyak sekali,” katanya.

Karena itu ia memilih membuat karya yang benar-benar berbeda, bukan hanya dari segi bentuk, tetapi juga tingkat kesulitannya.

“Saya ingin membuat sesuatu yang belum pernah dibuat orang,” ujarnya.

Melalui Akar 1000, Zabidi menghadirkan bukan hanya sebuah karya ukir, tetapi juga sebuah cerita tentang ketekunan, kesabaran, dan keberanian untuk keluar dari pola yang sudah ada. Sebuah sikap yang terus menjadi bagian dari perjalanan panjang seni ukir Jepara.

Karya Akar 1000 ini bias anda saksikan secara langsung di Pameran Seni Ukir TATAH : Suluk – Sulur – Jepara di Museum Nasional Indonesia ruang Temporer A, mulai dari 29 April – 5 Juli 2026.

Sorotan Rekomendasi