Sebulan Berjalan, Pameran TATAH 2026 Catat 18.245 Kunjungan

Jakarta — Pameran Seni Ukir TATAH 2026: Suluk – Sulur – Jepara mendapat sambutan luar biasa dari masyarakat. Sejak dibuka untuk umum pada 30 April 2026, pameran yang berlangsung di Museum Nasional Indonesia ini telah mencatat 18.245 kunjungan hingga 30 Mei 2026.

Capaian tersebut menunjukkan tingginya minat masyarakat terhadap seni ukir Jepara sebagai salah satu warisan budaya Indonesia yang memiliki nilai sejarah, keterampilan, dan identitas yang kuat. Dalam kurun waktu satu bulan, belasan ribu pengunjung dari berbagai kalangan hadir untuk menikmati karya-karya ukir, dokumentasi sejarah, alat tatah tradisional, hingga berbagai narasi yang mengisahkan perjalanan panjang seni ukir Jepara dari masa ke masa.

Sebulan Berjalan, Pameran Tatah 2026 Catat 18.245 Kunjungan

Mengusung tema Suluk – Sulur – Jepara, Pameran TATAH 2026 tidak hanya menghadirkan keindahan karya seni ukir, tetapi juga mengajak pengunjung memahami proses kreatif, nilai budaya, dan semangat para perajin yang menjaga tradisi ukir tetap hidup hingga saat ini.

Direktur TATAH 2026, Veronica Rompies, mengatakan bahwa capaian 18.245 kunjungan dalam satu bulan menjadi bukti bahwa seni dan budaya masih mendapat tempat yang besar di hati masyarakat.

Menurut Veronica, tingginya antusiasme pengunjung menunjukkan bahwa masyarakat masih memiliki ketertarikan yang kuat terhadap budaya, khususnya seni ukir Jepara yang merupakan salah satu warisan penting Indonesia.

“Melalui TATAH 2026, kami ingin menghadirkan pengalaman yang lebih dekat dengan masyarakat. Tidak hanya menampilkan karya-karya ukir yang indah, tetapi juga memperkenalkan cerita, proses, pengetahuan, dan nilai-nilai budaya yang hidup di balik setiap karya. Kami ingin pengunjung memahami bahwa sebuah ukiran bukan hanya hasil akhir yang terlihat, melainkan buah dari keterampilan, ketekunan, dan tradisi yang diwariskan dari generasi ke generasi,” ujar Veronica.

Ia menambahkan, banyaknya pengunjung dari berbagai daerah bahkan mancanegara yang datang untuk menikmati pameran menjadi kebahagiaan tersendiri bagi penyelenggara.

“Hal ini menunjukkan bahwa ruang budaya dan museum masih memiliki peran penting sebagai tempat belajar, berbagi pengetahuan, dan mempertemukan masyarakat dengan warisan budayanya. Kami berharap TATAH 2026 dapat terus menjadi jembatan yang menghubungkan masyarakat dengan kekayaan budaya Indonesia sekaligus menginspirasi generasi muda untuk lebih mengenal, mencintai, dan menjaga warisan budaya bangsa,” tambahnya.

Apresiasi terhadap penyelenggaraan TATAH 2026 juga datang dari Novia Widyaningtyas, Staf Ahli Menteri Bidang Revitalisasi Industri Kehutanan pada Kementerian Kehutanan Republik Indonesia.

Novia menilai pameran ini memiliki peran penting dalam memperkenalkan sekaligus melestarikan seni ukir Jepara sebagai bagian dari sejarah dan kebudayaan Nusantara.

“Pameran ini sangat bagus, sangat penting, dan sangat inspiratif. Di sini kita bisa melihat bagaimana sejarah seni ukir, khususnya seni ukir Jepara, yang merupakan bagian penting dari sejarah Nusantara. Seni ukir Jepara harus terus dilestarikan karena menjadi bagian dari perkembangan budaya dan peradaban Indonesia,” ungkap Novia.

Ia juga berharap semakin banyak generasi muda yang tertarik untuk meneruskan tradisi ukir kayu Jepara di masa mendatang.

“Saya sangat senang apabila ada generasi penerus yang mau meneruskan dan melestarikan seni ukir kayu Jepara. Sekali lagi, selamat atas semangat yang luar biasa dan dedikasi yang tinggi untuk melestarikan seni ukir kayu Jepara. Semangat dan sukses selalu. Salam lestari,” ujarnya.

Pameran Seni Ukir Tatah 2026 Museum Nasional Indonesia

Kesan mendalam juga disampaikan oleh dua pengunjung mancanegara asal Manila, Filipina, yaitu Anna dan Christine, yang bahkan kembali datang untuk kedua kalinya ke pameran ini.

Menurut Anna, kekuatan utama TATAH 2026 terletak pada alur cerita yang dibangun secara runtut dan mudah dipahami oleh pengunjung.

“Kami datang kembali karena ingin memahami pameran ini lebih dalam. Setelah mendapatkan penjelasan dari pemandu, kami melihat bahwa seluruh pameran memiliki alur cerita yang sangat baik, mulai dari sejarah hingga perkembangan seni ukir Jepara masa kini. Semua tersusun dengan jelas dan menarik,” kata Anna.

Sementara itu, Christine mengaku takjub setelah mengetahui bahwa berbagai karya yang dilihatnya ternyata seluruhnya dibuat dari kayu.

“Awalnya saya mengira beberapa karya merupakan kombinasi kayu dan material lain. Setelah mendapat penjelasan, saya baru menyadari bahwa semuanya terbuat dari kayu. Terutama karya-karya berlapis yang ternyata diukir dari satu bagian kayu yang sama. Bagi saya itu sangat mengejutkan sekaligus mengagumkan,” ujar Christine.

Keduanya juga mengapresiasi bagaimana pameran ini tidak hanya berbicara tentang seni, tetapi juga tentang upaya pelestarian budaya dan lingkungan.

“Kami bisa melihat dedikasi, kerja keras, dan semangat masyarakat Indonesia dalam menjaga warisan budaya sekaligus lingkungan. Sangat menarik melihat keduanya bertemu dalam satu pameran,” tambah mereka.

Apresiasi serupa datang dari rombongan alumni SMIK Jepara (kini SMK Negeri 2 Jepara) yang berkesempatan mengunjungi pameran.

Salim, alumni SMIK Jepara angkatan 1991 yang kini berdomisili di Bekasi, berharap seni ukir Jepara semakin dikenal di tingkat internasional.

“Pameran ini sangat menarik dan perlu terus dipertahankan. Seni ukir Jepara harus semakin mendunia karena merupakan warisan budaya yang sangat berharga,” ujarnya.

Sementara itu, Bambang Sukoco, alumni SMIK Jepara yang kini tinggal di Tangerang Selatan, menegaskan bahwa seni ukir Jepara merupakan bagian dari budaya luhur bangsa Indonesia yang harus terus dijaga keberlangsungannya.

Pendapat serupa disampaikan Muraikan, yang menyebut pameran ini sebagai langkah nyata dalam melanjutkan warisan budaya para leluhur.

“Bagus, mantap. Ini adalah bentuk nyata untuk melanjutkan seni budaya warisan nenek moyang,” katanya.

Sedangkan Arif, pengunjung asal Kudus, mengaku kagum dengan keseluruhan penyajian pameran.

“Saya sangat kagum. Semoga kegiatan seperti ini terus dipertahankan agar bisa dinikmati dan diwariskan kepada anak cucu kita di masa depan,” ujarnya.

Menjelang akhir kunjungan, para alumni SMIK Jepara secara kompak menyampaikan pesan yang menggambarkan semangat mereka terhadap pelestarian budaya.

“Semangat Seni Jepara!”

Pameran Seni Ukir TATAH 2026 masih berlangsung hingga 5 Juli 2026 di Ruang Pamer Temporer A, Museum Nasional Indonesia, Jakarta. Dengan capaian 18.245 kunjungan dalam satu bulan pertama, pameran ini menunjukkan bahwa seni ukir Jepara tidak hanya menjadi kebanggaan masyarakat Jepara, tetapi juga mendapat perhatian luas dari masyarakat Indonesia hingga mancanegara.

TATAH 2026 menjadi bukti bahwa warisan budaya akan terus hidup ketika dirawat, dipelajari, dan diwariskan kepada generasi berikutnya.

Sorotan Rekomendasi