- Home
- Uncategorized
- Taman Laut
Taman Laut
Laut Jepara tidak hanya menyimpan lanskap alam, tetapi juga ingatan masa kecil, pengalaman tubuh, dan kesadaran tentang ekosistem yang harus dijaga. Dari ingatan itulah karya Taman Laut lahir. Karya seniman ukir Suhartono Kasari ini dibuat pada tahun 2013 menggunakan material kayu jati dengan ukuran 200 x 62 x 15 cm. Karya ini turut ditampilkan di Museum Nasional Indonesia Jakarta dalam Pameran TATAH 2026 yang berlangsung mulai 29 April 2026 sampai 5 Juli 2026.
Dalam karya ini, Suhartono menghadirkan dunia bawah laut melalui bahasa ukir yang sangat halus, detail, dan presisi. Pada bidang kayu jati, ia membangun suasana laut yang dipenuhi berbagai biota, mulai dari terumbu karang, ikan, lobster, ikan badut, lionfish, hingga sekawanan ikan yang bergerak dalam irama yang padat. Setiap bagian diolah dengan perhatian tinggi, sehingga permukaan kayu tidak lagi terasa sebagai bidang datar, melainkan seperti ruang hidup yang penuh gerak.
Kehalusan menjadi kekuatan utama karya ini. Detail kecil tidak diperlakukan sebagai tambahan, tetapi sebagai inti dari keseluruhan komposisi. Ikan ikan kecil, tekstur karang, lekuk tubuh biota, hingga pergerakan kawanan ikan dipahat dengan ketelitian yang memperlihatkan kesabaran panjang seorang pengukir. Untuk menghasilkan tingkat detail seperti ini, Suhartono bahkan menggunakan alat alat khusus yang dibuat sesuai kebutuhan pengerjaan. Ia memesan sendiri alat tersebut agar setiap bentuk dapat dicapai dengan ketepatan yang diinginkan.

Karya Taman Laut berangkat dari memori masa kecil Suhartono yang sering bermain dan menyelam di Laut Jepara. Pengalaman langsung dengan laut memberi dasar emosional yang kuat pada karya ini. Ia tidak hanya membayangkan laut sebagai pemandangan, tetapi mengenalnya sebagai ruang yang pernah disentuh, dilihat, dan dialami. Karena itu, ukiran biota laut dalam karya ini terasa hidup, seperti lahir dari ingatan yang dekat dan personal.
Namun karya ini tidak berhenti pada kenangan indah. Di balik visual laut yang ramai dan memikat, tersimpan keresahan atas rusaknya ekosistem di banyak perairan Indonesia. Keindahan laut yang dulu menjadi ruang bermain dan menyelam kini menghadapi ancaman kerusakan. Terumbu karang, ikan, dan berbagai kehidupan laut yang dahulu tampak subur perlahan menjadi bagian dari ingatan yang perlu dijaga. Karya ini membawa kesadaran bahwa laut bukan hanya sumber keindahan, tetapi juga ruang kehidupan yang rentan.
Suhartono memvisualkan keresahan itu dengan cara yang tidak langsung menggurui. Ia tidak menampilkan kehancuran secara kasar, tetapi menghadirkan kembali keindahan laut dalam bentuk yang penuh daya tarik. Dengan begitu, kita diajak terlebih dahulu merasakan kekayaan kehidupan laut, sebelum menyadari pentingnya menjaga kelestariannya. Keindahan dalam karya ini menjadi jalan untuk membangun kepedulian.
Ukiran tiga dimensi pada karya ini memberi pengalaman visual seolah kita sedang menyelam ke dalam laut. Lapisan karang, ikan yang berenang, serta berbagai bentuk biota disusun dengan kedalaman yang membuat mata bergerak dari satu bagian ke bagian lain. Ada kesan ruang yang bertingkat, dari bagian depan yang menonjol hingga bagian belakang yang lebih dalam. Komposisi ini membuat karya terasa dinamis, tidak diam, dan seolah memiliki arus.
Kayu jati menjadi medium yang menarik untuk menghadirkan dunia laut. Material yang berasal dari daratan diolah menjadi gambaran kehidupan bawah air. Dari kayu yang keras, Suhartono menciptakan bentuk ikan yang lentur, karang yang berongga, dan gerak biota yang ringan. Pertemuan antara material kayu dan tema laut ini memperlihatkan kemampuan seni ukir Jepara dalam melampaui batas bentuk. Kayu tidak hanya menjadi bahan, tetapi menjadi ruang imajinasi.
Karya ini juga memperlihatkan bahwa seni ukir membutuhkan hubungan erat antara tangan, alat, dan waktu. Pahat yang tajam bukan sekadar alat kerja. Ia menjadi simbol ketelitian, kesabaran, dan ketekunan. Dalam karya seperti Taman Laut, setiap sentuhan pahat menentukan hidup tidaknya bentuk. Kesalahan kecil dapat mengubah karakter visual, sementara ketepatan tangan mampu menghadirkan detail yang seolah bernapas.
Melalui Taman Laut, Suhartono Kasari memperlihatkan bahwa ukiran Jepara tidak hanya mampu menggambarkan motif tradisi, tetapi juga dapat merespons persoalan lingkungan dan ingatan personal. Karya ini menjadi pertemuan antara memori masa kecil, kecakapan teknik, dan pesan ekologis. Ia mengajak kita melihat laut sebagai warisan yang harus dirawat, bukan hanya untuk hari ini, tetapi juga untuk generasi mendatang.
Pada akhirnya, Taman Laut adalah karya tentang keindahan yang mengandung peringatan. Ia memperlihatkan betapa kayanya kehidupan laut, sekaligus mengingatkan bahwa kekayaan itu dapat hilang bila tidak dijaga. Dari setiap ikan, karang, dan lekuk pahatan, kita membaca pesan sederhana namun penting. Laut adalah ruang hidup bersama, dan merawatnya adalah bagian dari tanggung jawab kebudayaan.
Taman Laut
The sea of Jepara holds not only natural landscapes, but also childhood memories, bodily experience, and an awareness of ecosystems that must be protected. From those memories, Taman Laut was born. This work by the carver Suhartono Kasari was created in 2013 using teak wood and measures 200 x 62 x 15 cm. It is also presented at the National Museum of Indonesia in Jakarta as part of TATAH 2026, which runs from April 29 to July 5, 2026.
In this work, Suhartono presents the underwater world through a carving language that is extremely refined, detailed, and precise. On the teak wood surface, he builds a seascape filled with various forms of marine life, from coral reefs, fish, lobsters, clownfish, lionfish, to schools of fish moving in dense rhythm. Every part is handled with great care, so the wooden surface no longer feels like a flat field, but like a living space full of motion.
Refinement is the main strength of this work. Small details are not treated as additions, but as the core of the entire composition. Tiny fish, coral textures, the curves of marine bodies, and the movement of schools of fish are carved with a precision that reveals the long patience of a carver. To achieve such detail, Suhartono even uses special tools made to suit the needs of the work. He ordered the tools himself so that each form could be achieved with the exactness he desired.
Taman Laut emerges from Suhartono’s childhood memories of often playing and diving in the sea of Jepara. Direct experience with the sea gives the work a strong emotional foundation. He does not imagine the sea only as scenery, but knows it as a space he once touched, saw, and experienced. For this reason, the carved marine life in the work feels alive, as though born from memory that is close and personal.
Yet the work does not stop at beautiful memory. Behind the lively and captivating image of the sea lies anxiety over the damage to ecosystems in many Indonesian waters. The beauty of the sea that once became a place for playing and diving now faces the threat of destruction. Coral reefs, fish, and the many forms of marine life that once seemed abundant are slowly becoming memories that need to be protected. The work carries the awareness that the sea is not only a source of beauty, but also a vulnerable space of life.
Suhartono visualizes that anxiety without directly preaching. He does not show destruction harshly, but brings back the beauty of the sea in a form full of attraction. In doing so, we are first invited to feel the richness of marine life before becoming aware of the importance of preserving it. Beauty in this work becomes a path toward care.
The three-dimensional carving in this work creates the visual experience of diving into the sea. Layers of coral, swimming fish, and many forms of marine life are arranged with depth that moves the eye from one part to another. There is a sense of tiered space, from protruding foreground elements to deeper background parts. This composition makes the work feel dynamic, not still, and as if it contains a current.
Teak wood is an interesting medium for presenting the marine world. A material that comes from land is transformed into an image of underwater life. From hard wood, Suhartono creates flexible fish forms, porous coral, and the light movement of marine life. This meeting between wood as material and sea as theme shows the capacity of Jepara carving to move beyond formal boundaries. Wood becomes not just material, but a space of imagination.
The work also shows that carving requires an intimate relationship between hand, tool, and time. A sharp chisel is not merely a working instrument. It becomes a symbol of precision, patience, and perseverance. In a work such as Taman Laut, every touch of the chisel determines whether a form feels alive. A small mistake can change the visual character, while the accuracy of the hand can create details that seem to breathe.
Through Taman Laut, Suhartono Kasari shows that Jepara carving is not only able to depict traditional motifs, but can also respond to environmental concerns and personal memory. The work becomes a meeting of childhood memory, technical skill, and ecological message. It invites us to see the sea as an inheritance that must be cared for, not only for today, but also for future generations.
Ultimately, Taman Laut is a work about beauty that contains a warning. It shows how rich marine life is, while also reminding us that such richness can disappear if it is not protected. From every fish, coral, and carved curve, we read a simple but important message: the sea is a shared living space, and caring for it is part of our cultural responsibility.


