• Home
  • Uncategorized
  • Menapaki Jejak Ukiran Jepara, Catatan Perjalanan Riset Pameran TATAH

Menapaki Jejak Ukiran Jepara, Catatan Perjalanan Riset Pameran TATAH

Pagi itu, udara Jepara terasa segar, memanggil kami untuk segera menapaki jalan-jalan desa yang menyimpan jejak panjang tradisi ukir kayu. Tim Riset dan Tim Kurator Pameran TATAH 2026 memulai langkah pertama menuju sebuah tujuan istimewa ke kediaman Roni, seorang perajin ukir yang telah menorehkan namanya di kancah seni rupa Jepara.

Roni Wood Carver: Menyentuh Filosofi dari Serpihan Kayu

Desa Sukodono menyambut kami dengan suasana hangat. Di halaman rumah sederhana yang dipenuhi aroma serbuk kayu, berdirilah Roni Wood Carver. Begitu kami melangkah masuk, pandangan langsung disambut oleh deretan karya yang memukau. Sebuah keris ukir kayu raksasa berdiri gagah, kursi yang dibuat seperti karakter mantan Presiden Joko Widodo, deretan lukisan ukir yang bercerita tentang kisah-kisah klasik, serta sketsa-sketsa motif ukiran yang memenuhi dinding.

Mas Roni 2

Roni menjelaskan satu per satu karya tersebut. Setiap guratan ukiran bukan sekadar ornamen, melainkan sarat makna, ada kisah leluhur, doa, dan nilai yang ingin ia wariskan. Tim kurator pun aktif berdialog, menanyakan ragam motif, teknik, hingga filosofi yang mendasari setiap pahatan. Roni menuturkan bahwa setiap lekukan kayu adalah hasil kontemplasi panjang, di mana tangan dan pikiran harus seirama dengan napas kayu itu sendiri.

Mas Roni Seniman Ukir Sukodono

Tak puas hanya melihat hasil akhir, Roni mengajak kami berjalan ke brak atau bengkel kerja yang berjarak tak jauh dari rumahnya. Di sana, suara pahat yang bertemu serat kayu berpadu dengan aroma khas kayu jati yang baru dipotong. Kami menyaksikan langsung proses lahirnya karya, dari balok kayu polos menjadi motif ukiran yang hidup dan produk karya kontemporer yang berani.

Tim Riset Dan Tim Kurator Tatah 2026 Berkunjung Ke Senuiman Ukir Sukodono Jepara

Rumah Produksi Pak Giyono: Ketelatenan yang Mengukir Waktu

Langkah kami berikutnya membawa kami ke rumah produksi Giyono, masih di sekitar kawasan Sukodono. Begitu memasuki halaman depan, mata kami langsung tertuju pada deretan relief dedaunan yang khas Jepara. Motifnya rumit, dengan detail yang membuat kami tertegun.

Riset Dan Kunjungan Seniman Ukir Jepara

Di tengah obrolan santai, Arif Akhyat menunjukkan kekagumannya pada salah satu ukiran relief dengan ukuran yang tak begitu besar, diameter hanya sekitar 30 cm. Ternyata, karya itu dibuat oleh Pak Giyono saat ia masih berusia 16 tahun, ketika menempuh pendidikan di SMIK Jepara. Detail dan presisi ukiran pada usia semuda itu menjadi bukti bakat luar biasa yang sudah terasah sejak dini. “Untuk membuat ukiran seperti ini, dibutuhkan bukan hanya keterampilan, tapi juga kesabaran yang nyaris tak terbatas,” ujar Giyono sambil tersenyum.

Melihat Kreasi Ukir Kayu Jepara

Petilasan Mbah Tunggul Wulung: Jejak Spiritual di Tengah Desa

Perjalanan berlanjut menuju Petilasan Mbah Tunggul Wulung, sebuah lokasi yang menyimpan jejak sejarah spiritual di Desa Sukodono. Tempat ini menghadirkan suasana hening, seolah mengajak setiap pengunjung untuk menundukkan kepala dan merenung.

Petilasan Sukodono
Petilasan Mbah Tunggul Wulung Sukodono Jepara

Makam Mantingan dan Pameran Ratu Kalinyamat

Siang harinya, rombongan kami tiba di Komplek Makam Mantingan, salah satu situs bersejarah penting di Jepara. Di halaman depan Masjid Mantingan, sedang berlangsung Pameran Ratu Kalinyamat. Di sini, Tim Riset dan tim kurator disambut oleh deretan karya visual yang menceritakan perjalanan hidup dan perjuangan Ratu Kalinyamat, pahlawan perempuan Jepara yang melegenda.

Pameran Ratu Kalinyamat Di Mantingan

Nano Warsona, salah satu kurator ” TATAH 2026 “, dengan fasih memandu kami menyusuri pameran. Satu demi satu visual ia kupas, menghubungkannya dengan narasi sejarah yang kaya akan nilai kepemimpinan, keberanian, dan diplomasi.

Nano Warsono Bersama Tim Kurator Dan Tim Riset Berkunjung Di Pameran Ratu Kalinyamat Di Mantingan

Di dalam area masjid, Arif Akhyat memimpin penjelasan mengenai ukiran kuno Mantingan yang terukir di batu-batu dindingnya. Ia menyoroti keunikan motif dan kekhasan teknik yang berbeda dari ukiran kayu modern, sembari mencoba “membaca” makna yang tersirat dalam setiap ukiran. Kunjungan diakhiri dengan ziarah bersama ke Makam Sultan Hadlirin dan Ratu Kalinyamat, sebagai bentuk penghormatan terhadap warisan budaya yang kami telusuri.

Arif Akhyat Menunjuk Artefak Kuno Ukiran Mantingan
Arif Akhyat Memimpin Doa Bersama Di Makam Mantingan

Brak Patung Pak Zamroni: Tiga Dekade Mengukir Waktu

Perjalanan kami selanjutnya adalah menuju brak milik Zamroni, seorang seniman patung di Desa Mantingan. Suasana bengkel itu penuh kehidupan, balok-balok kayu setengah jadi, serpihan kayu di lantai dan aroma serbuk yang menguar di udara.

Kunjungan Tim Tatah 2026 Ke Seniman Patung Jepara

Tim kurator dan riset menggali banyak hal dari Zamroni, mulai dari pemilihan material kayu, pemilihan motif dan ornamen hingga segmentasi pasar yang menjadi sasaran karyanya. Dalam percakapan, terungkap bahwa Zamroni telah menekuni seni ukir patung selama lebih dari tiga dekade, mewarisi keterampilan ini dari ayahnya. Ia bercerita tentang berbagai pengalaman bekerja sama dengan pelanggan dari berbagai daerah.

Suwarno, salah satu kurator, bertanya tentang kendala teknis dan artistik dalam membuat patung yang rumit. Pak Zamroni menjawab dengan tenang bahwa setiap patung membawa tantangannya sendiri, mulai dari kesulitan menemukan kayu yang tepat hingga detail pengerjaan yang memerlukan ketelitian tingkat tinggi.

Refleksi untuk Pameran TATAH

Sehari penuh berkeliling Jepara telah membuka mata kami bahwa seni ukir di sini bukan sekadar kerajinan, tetapi bahasa visual yang memuat identitas, sejarah, dan spiritualitas. Dari keris raksasa Roni, relief dedaunan Giyono, ukiran batu Mantingan, hingga patung-patung monumental karya Zamroni semuanya adalah fragmen yang membentuk mozaik besar bernama Jepara.

Bagi pameran TATAH, temuan ini menjadi bahan bakar kreatif, bagaimana menghadirkan kekayaan visual dan filosofi ukir Jepara ke ruang pamer tanpa kehilangan kedalaman maknanya? Pertanyaan itu akan menjadi kompas kami menuju pameran berskala Nasional.

Jepara, dengan segala riuh pahat dan aroma kayunya, telah meninggalkan jejak yang sulit dihapus. Perjalanan ini bukan sekadar riset, tetapi juga ziarah kepada masa lalu, kepada para maestro, dan kepada ruh kebudayaan yang terus hidup di setiap lekuk kayu.

Tim kurator :

– Dr. Suwarno Wisetrotomo, M.Hum.

– Nano Warsono, S.Sn, M.A.

– Nurrohmad, Ssn

Tim Riset TATAH :

1. M. Afif. Isyarobbi, S.Sn.

2. Dr. Arif Akhyat, M.A.

3. Dr. Akhmad Nizam, M.Sn

4. Daniel Frits Maurits Tangkilisan, M.A.

5. Susi Ernawati, S.Pd.

Sorotan Rekomendasi