Menjaga Nyala Ukir Jepara: Kisah Roni dari Sukodono

Di sebuah desa yang denyut hidupnya ditandai oleh ritme ketukan palu dan aroma serbuk kayu, perjalanan seorang pengukir bernama Roni bermula. Desa Sukodono, Kecamatan Tahunan, Jepara, tempat ia lahir dan tumbuh, bukan hanya ruang tinggal, tapi ruang belajar yang diam-diam membentuk jalan hidupnya sebagai pengukir. Di sini, seni ukir bukan sekadar pekerjaan, namun bisa dikatakan sebagai bahasa sehari-hari, tradisi yang diwariskan tanpa perlu diminta, sebuah laku hidup yang menyatu dengan keseharian warganya.

Kisah Roni Dari Sukodono Sebagai Pengukir Jepara Sejak Kecil

Roni adalah bagian dari generasi yang tumbuh ketika hampir setiap anak mengenal tatah. Tahun 70–80-an menjadi masa ketika seni ukir masih dianggap kewajiban moral dan bagian dari jati diri komunitas. “Mengukir itu seperti keharusan,” kenangnya. Setiap anak di desanya, lelaki maupun perempuan dipastikan pernah merasakan bagaimana kayu menjawab setiap ketukan tangan mereka. Bukan karena tuntutan ekonomi, tetapi karena tradisi yang begitu kuat mengalir di dalam komunitas.

Tradisi yang Membentuk Identitas

Pada masa itu, seni ukir tidak dipandang sebagai profesi yang mengejar penghasilan. Ia adalah bagian dari identitas sosial. Anak-anak mengenal ukiran seperti mereka mengenal permainan. Meniru gerakan para tetua, melihat bagaimana bentuk-bentuk bunga dan daun muncul dari balok kayu, hingga akhirnya mereka mampu menciptakan karya pertama mereka sendiri. Dari lingkungan itulah, Roni perlahan menemukan jalannya.

Meskipun belajar sejak kecil, titik perubahan dalam perjalanannya muncul saat memasuki SMIK (sekarang SMK Negeri 2 Jepara). Di sekolah inilah ia mulai memahami bahwa mengukir tidak hanya tentang palu dan tatah. Ada wawasan lebih luas yang menunggu untuk digali, bahwa ornamen bukan sekadar bentuk estetik, tetapi menyimpan makna filosofis dari para pendahulu yang merumuskan motif-motif tersebut.

Pengukir Jepara Roni Dari Desa Sukodono

“Setiap ornamen itu ternyata syarat dengan makna,” ujar Roni. Dari bunga hingga sulur, dari makara hingga lung-lungan, setiap motif menyimpan jejak nilai, sejarah dan kosmologi yang diwariskan oleh para empu terdahulu.

Melanjutkan Studi, Membuka Ruang Ekspresi Baru

Perjalanan Roni tak berhenti di SMIK. Ia melanjutkan pendidikan ke Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta, keputusan yang semakin memperkaya perspektifnya. Di kampus seni itu, ia mendalami seni rupa murni, belajar tentang teori seni modern dan membuka diri terhadap kemungkinan-kemungkinan baru dalam ekspresi visual.

Baginya, pengalaman di ISI bukan sekadar menambah keterampilan, tetapi membuka pintu ke cara pandang lain tentang seni ukir. Ia menyadari bahwa ukiran tradisional yang ia pelajari sejak kecil dapat berkembang lebih jauh. Bukan hanya mereproduksi motif lama, tetapi membuka ruang eksplorasi, menghadirkan bentuk-bentuk baru dan mengekspresikan gagasan personal.

Proses Mengukir Kayu

“Ternyata kita bisa lari ke mana pun,” tuturnya. Seni ukir tidak hanya terpaku pada pola tradisional, tetapi mampu menjadi medium ekspresi artistik yang luas. Dari sinilah ia semakin bersemangat mengeksplorasi hubungan antara tradisi dan kebaruan.

Antara Tradisi, Eksplorasi dan Kesadaran Filosofis

Dari perjalanan panjangnya, Roni memandang seni ukir sebagai ruang dialog antara masa lalu dan masa kini. Tradisi memberinya akar pengetahuan, teknik, rasa dan nilai. Sementara pendidikan formal memberinya sayap kemerdekaan berpikir, keberanian bereksperimen dan kemampuan membaca seni dari perspektif lebih luas.

Mas Roni Seniman Ukir Sukodono Tahunan Jepara

Ukiran baginya bukan hanya soal keindahan visual, tetapi juga perpaduan antara teknik, filosofi, laku batin dan pengalaman personal. Setiap pahatan menjadi hasil dari pertemuan antara tangan yang terlatih sejak kecil, wawasan yang terus berkembang dan pandangan hidup yang ia temukan sepanjang perjalanannya.

Menjaga Tradisi, Menyongsong Masa Depan

Sebagai pengukir Jepara, Roni memikul warisan yang panjang. Namun ia tidak berhenti menjadi pewaris. Ia menjadi penjaga, pengembang dan penafsir ulang tradisi tersebut. Melalui karya-karyanya, ia membawa jejak Sukodono, spirit Jepara dan semangat pembaruan yang muncul dari perjalanan intelektual dan kreatifnya.

Di tengah perubahan zaman, Roni adalah gambaran bagaimana tradisi tetap hidup, bukan dengan membekukannya, tetapi dengan mengolahnya menjadi relevan, segar dan penuh kemungkinan.

Sorotan Rekomendasi