- Home
- Uncategorized
- Merawat Kearifan Lokal Melalui Ukiran untuk Pameran TATAH
Merawat Kearifan Lokal Melalui Ukiran untuk Pameran TATAH
Di sebuah sudut Desa Sukodono, Kecamatan Tahunan, Jepara, tinggal seorang seniman ukir yang dikenal luas karena ketekunan, ketelitian, dan kedalaman makna di setiap karyanya. Ia adalah Roni, seorang pengukir yang tidak hanya mewarisi keterampilan leluhur, tetapi juga menjaga nilai-nilai batin dan budaya yang menjadi ruh dari tradisi ukir Jepara. Di ruang berkaryanya yang sederhana, Roni berbagi pandangannya mengenai pameran TATAH, Suluk – Sulur – Japara dan nilai apa saja yang ingin ia pertahankan melalui karya-karyanya.

Lebih dari Sekadar Pameran
Bagi Roni, TATAH bukan sekadar ruang memamerkan hasil akhir. Ia menggambarkannya sebagai proses melaku, atau perjalanan panjang yang tidak hanya dimulai dari sepotong kayu dan berakhir menjadi ukiran, tetapi juga proses pembelajaran batin dan penghayatan nilai-nilai lama yang diwariskan para empu ukir.
“Kalau kita gali lebih jauh, proses mengukir itu panjang. Bukan sekadar menggambar di kayu lalu memahatnya,” ujar Roni. “Ada kearifan-kearifan lokal yang dulu dijaga oleh para leluhur kita. Dari sebelum memulai pekerjaan, sampai setelah menyelesaikannya.”
Pandangan ini selaras dengan konsep kuratorial Suluk – Sulur – Japara, yang memandang seni ukir bukan hanya sebagai keterampilan teknis, tetapi sebagai bentuk pengetahuan dan laku hidup. Sama seperti suluk dalam tradisi sastra Jawa yang mengajarkan piwulang melalui simbol dan laku batin, Roni melihat bahwa mengukir juga memiliki ajaran-ajarannya sendiri.

Di sisi lain, konsep Sulur sebagai struktur visual paling fundamental dalam ukiran Jepara, menjadi gambaran bagaimana nilai, teknik dan rasa disatukan dalam satu tubuh komposisi. Bagi Roni, tradisi mengukir selalu menuntut kesinambungan, ritme dan ketertiban yang berkembang dari generasi ke generasi.
Selamatan Wiwitan: Memulai dengan Niat
Salah satu tradisi yang Roni coba pertahankan ialah selamatan wiwitan, ritual sederhana sebelum memulai pekerjaan untuk memanjatkan doa dan menetapkan niat baik. Ia menekankan bahwa meskipun ritual ini tidak lagi dilakukan secara saklek seperti dulu, esensinya tetap ia jaga.
“Intinya kan berdoa, berniat. Dalam agama apa pun niat itu penting. Orang Jawa itu memulai sesuatu selalu dengan niat yang bersih,” katanya. “Saya mencoba menerjemahkan tradisi ini ke masa kini. Tidak harus seperti dulu persis, tapi esensinya tetap saya pegang.” Jelasnya.

Doa yang bagi Roni menjadi bentuk suluk kecil, memberikan ketenangan dan keterhubungan batin sebelum tangan mulai bekerja menatah permukaan kayu.
Selamatan Pungkasan: Menghormati Proses yang Usai
Selain wiwitan, Roni juga mengenal selamatan pungkasan, bentuk rasa syukur setelah karya selesai. Ia memandangnya sebagai cara menghormati proses panjang yang telah ia jalani, bukan hanya merayakan hasil akhir.
“Setelah pekerjaan selesai, biasanya ada selamatan pungkasan. Itu cara mbah-mbah kita menghargai proses dan hasil kerja,” ungkapnya.

Dalam kerangka Suluk – Sulur – Japara, penghargaan terhadap proses ini adalah cermin dari bagaimana seni ukir Jepara memandang dunia, tidak terburu-buru, penuh perenungan dan menjunjung keteraturan serta ketekunan.
Belajar dari Mbah-Mbah Pengukir
Roni menyadari bahwa tradisi para empu masa lalu tidak sesederhana yang tampak dari luar. Ia mengatakan bahwa di balik ukiran yang indah terdapat nilai hidup, etika kerja dan kedalaman spiritual yang turut membentuk kualitas setiap karya.
“Saya belajar banyak dari cara kerja mbah-mbah kita. Ternyata semua itu tidak sesimpel kelihatannya,” tuturnya.

Melalui karya-karyanya untuk TATAH, Suluk- Sulur – Japara, Roni berharap dapat menghidupkan kembali ruh tradisi itu menggabungkan teknik, nilai, rasa dan laku jiwa yang telah menjadi identitas seniman ukir Jepara sejak berabad-abad.
Bagi Roni, mengukir bukan hanya menghasilkan bentuk, tetapi menjaga sulur-sulur pengetahuan, merawat ajaran leluhur dan memastikan warisan budaya Jepara tetap tumbuh dan relevan di zaman modern.


