- Home
- Uncategorized
- Momentum Kebangkitan Seni Ukir: Peran Rumah Kartini dalam Pameran TATAH 2026
Momentum Kebangkitan Seni Ukir: Peran Rumah Kartini dalam Pameran TATAH 2026
Pameran TATAH 2026 menjadi sebuah tonggak sejarah baru bagi ekosistem seni ukir di Jepara. Muhammad Mirza Syarif, selaku Ketua Rumah Kartini, memandang pameran ini sebagai momentum krusial untuk melakukan rebranding dan membangkitkan kembali kebanggaan masyarakat terhadap warisan ukir Jepara. Menurutnya, pameran ini bukan sekadar tempat untuk memajang karya seni.
“Kami melihatnya bukan sekadar pajangan karya, melainkan ruang pembuktian bahwa ukir Jepara masih bernapas dan terus berevolusi mengikuti zaman,” ungkap Mirza.
Ia menegaskan bahwa ukiran bukan sekadar komoditas, melainkan ciri khas dan jati diri asli Jepara yang harus dijaga.
Menjadi Jembatan Penghubung Ekosistem Seni
Keterlibatan Rumah Kartini dalam perhelatan ini merupakan sebuah langkah yang sangat relevan. Sejak didirikan pada tahun 2008, komunitas ini memang telah memfokuskan diri sebagai penggiat kesenian, sejarah dan budaya. Dalam Pameran Tatah 2026, Rumah Kartini mengambil peran strategis sebagai mitra pemerintah yang bertindak sebagai jembatan.
“Kami berperan sebagai jembatan yang menghubungkan berbagai elemen masyarakat, mulai dari para periset, lembaga atau organisasi, pengukir, kurator dan juga pemerintah,” jelas Mirza.

Rumah Kartini turut andil dalam mengorganisasikan ide, mengembangkan konsep pameran dan yang terpenting adalah memastikan narasi sejarah serta budaya di balik setiap karya ukir dapat tersampaikan dengan baik kepada publik.
Kolaborasi Tiga Pilar yang Unik
Hal yang paling disoroti dari persiapan TATAH 2026 adalah terciptanya kolaborasi yang belum pernah terjadi sebelumnya. Mirza menyebutkan bahwa sinergi antara komunitas budaya, seniman dan pemerintah dalam pameran ini adalah sesuatu yang baru dan sangat unik.
Ia menyadari betul bahwa ekosistem seni tidak mungkin bisa berjalan sendiri. “Seniman butuh di-blow up, pemerintah bisa memiliki regulasi dan dukungan infrastruktur dan komunitas seperti kami ini memberikan napas sosialnya,” paparnya.
Mirza optimis, jika ketiga elemen ini bisa terus sinkron, Jepara akan mengukuhkan posisinya sebagai pusat seni ukir dunia yang hebat dan tak tergoyahkan.

Mewariskan Filosofi pada Generasi Baru
Pada akhirnya, Rumah Kartini menaruh harapan besar terhadap dampak edukasi dari pameran ini. Harapan utamanya adalah menumbuhkan kembali rasa kepemilikan dari berbagai rentang generasi terhadap seni ukir Jepara.
Lebih dari sekadar apresiasi visual, publik diajak untuk menyelami kedalaman makna di balik setiap karya.
“Kami ingin publik paham dan mengerti bahwa di balik sebuah tatahan, ada filosofi mendalam, yaitu kerja keras dan sejarah panjang yang layak untuk terus dipelajari dan dipertahankan,” tutup Mirza.
TATAH 2026 adalah pameran seni berbasis sejarah berskala nasional yang diinisiasi oleh HIMKI Jepara Raya. Penyelenggaraannya merupakan hasil kerjasama dengan Pemerintah Kabupaten Jepara, Komunitas Rumah Kartini, kurator profesional, seniman, pelaku usaha ukir dan furnitur serta elemen masyarakat luas. Rencananya, pameran akbar ini akan mengambil tempat di Museum Nasional Indonesia pada April bulan ini.


