- Home
- Uncategorized
- Profil Tim Riset Dr. Akhmad Nizam, M.Sn.
Profil Tim Riset Dr. Akhmad Nizam, M.Sn.
Dr. Akhmad Nizam, M.Sn. adalah akademisi seni rupa dan peneliti kriya yang aktif mengkaji hubungan antara artefak, sejarah visual dan praktik budaya Nusantara. Ia merupakan dosen dan pengajar di Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta, serta menjabat sebagai Koordinator Program Studi Kriya, sebuah posisi strategis dalam pengembangan pendidikan kriya di tingkat nasional.
Latar akademiknya berfokus pada seni kriya, dengan perhatian khusus pada seni ukir, artefak tradisi dan transformasi bahasa visual dari masa ke masa. Selain kegiatan pengajaran, Nizam juga aktif dalam riset, penulisan akademik, serta keterlibatan sebagai reviewer penelitian nasional, memperkuat posisinya sebagai pengkaji seni kriya berbasis metodologi ilmiah.
Dalam konteks TATAH 2026, Dr. Akhmad Nizam terlibat sebagai bagian dari tim riset, dengan fokus kajian pada artefak-artefak sejarah Jepara, khususnya yang berkaitan dengan situs Mantingan. Ia menyoroti artefak sebagai simpul penting untuk membaca perjumpaan budaya Hindu, Islam dan tradisi lokal yang membentuk karakter seni ukir Jepara.
Salah satu perhatian utamanya adalah relief dan ornamen Mantingan yang menunjukkan dualitas bahasa visual figuratif dan vegetal yang menyimpan pertanyaan historis sekaligus membuka ruang tafsir baru. Bagi Nizam, artefak tidak sekadar benda masa lalu, melainkan sumber pengetahuan yang hidup dan relevan untuk membaca praktik seni hari ini.
Pendekatan riset yang ia lakukan menempatkan artefak sebagai basis pengetahuan visual, bukan hanya sebagai objek museum. Perspektif ini sejalan dengan semangat TATAH 2026 yang membaca seni ukir Jepara sebagai proses panjang adaptasi, stilisasi dan transformasi budaya lintas zaman.
Melalui keterlibatannya dalam TATAH 2026, Dr. Akhmad Nizam berkontribusi memperkuat fondasi riset pameran, memastikan bahwa karya dan artefak yang ditampilkan tidak hanya menarik secara visual, tetapi juga memiliki kedalaman historis dan kejelasan narasi. Perannya menegaskan TATAH 2026 sebagai pameran seni ukir berbasis riset yang menghadirkan Jepara bukan sekadar sebagai pusat keterampilan, tetapi sebagai ruang produksi pengetahuan kriya yang berkelanjutan.


