- Home
- Uncategorized
- Tantu
Tantu
Ada karya yang berbicara tentang keterhubungan melalui bentuk yang menjalar, bertumpuk, dan saling mengikat. Tantu hadir sebagai karya yang membaca sulur bukan hanya sebagai ornamen, tetapi sebagai metafora tentang jalinan. Dalam bahasa Sanskerta, tantu merujuk pada benang atau serat, sesuatu yang dapat ditenun, disusun, dan dipertemukan hingga membentuk satu kesatuan yang utuh.
Tantu merupakan karya Apeep Qimo dan Wafi yang dibuat pada tahun 2026. Karya ini menggunakan material kayu jati dengan dua bagian ukuran, yaitu 100 x 60 x 227 cm dan 50 x 50 x 55 cm. Karya ini ditampilkan di Museum Nasional Indonesia Jakarta dalam Pameran TATAH 2026 yang berlangsung mulai 29 April 2026 sampai 5 Juli 2026.
Secara visual, karya ini hadir menyerupai meja rias dengan cermin dan tempat duduk kecil. Namun bentuknya tidak berhenti sebagai furnitur. Seluruh tubuh karya dipenuhi jalinan sulur yang tumbuh dari bawah ke atas, membentuk struktur yang menyerupai anyaman. Kayu jati diolah seolah menjadi serat yang lentur, bergerak, dan hidup. Dari material yang keras, lahir kesan lembut seperti tanaman yang terus merambat.
Gagasan tantu sebagai benang atau serat diterjemahkan melalui komposisi visual yang saling bertumpuk. Sulur sulur pada karya ini tidak berdiri sendiri, tetapi saling menyilang, saling menopang, dan membentuk jaringan yang utuh. Geraknya dinamis, seperti pertumbuhan yang berlangsung perlahan namun terus menerus. Dari bagian bawah, sulur itu menjalar menuju bagian atas, memberi kesan bahwa karya ini sedang tumbuh dan mengarah pada bentuk yang semakin terbuka.
Di sela sela jalinan sulur tersebut muncul elemen daun, bunga, dan buah yang menyerupai labu siam. Kehadiran unsur vegetal ini memperkaya lapisan visual karya. Bentuk buah, daun, dan bunga memberi tanda bahwa jalinan tersebut bukan sekadar pola, tetapi bagian dari kehidupan yang tumbuh. Ia membawa kesan organik, alami, dan dekat dengan bahasa alam.
Pada bagian cermin, sulur sulur membingkai bidang pantul dengan bentuk yang menjulang. Bagian atasnya membentuk puncak yang mengarah ke atas, seolah mempertemukan gerak tumbuh dengan ruang refleksi. Cermin dalam karya ini dapat dibaca sebagai ruang melihat diri, sementara sulur yang mengelilinginya menjadi simbol bahwa identitas selalu dibentuk oleh jalinan pengalaman, ingatan, dan relasi.

Bagian meja dan tempat duduk kecil juga mengikuti bahasa visual yang sama. Keduanya tidak dibuat polos, melainkan tetap dihidupkan oleh sulur, daun, bunga, dan buah. Dengan demikian, seluruh unsur karya terasa menyatu. Cermin, meja, dan tempat duduk tidak berdiri sebagai bagian terpisah, tetapi menjadi satu rangkaian yang terikat oleh bahasa ornamen yang sama.
Secara komposisi, karya ini disusun dengan kecenderungan simetris. Keseimbangan kiri dan kanan memberi rasa tertib, sementara sulur yang bergerak bebas memberi kesan hidup. Di sinilah kekuatan karya ini muncul. Ia mempertemukan keteraturan dan kebebasan, struktur dan gerak, pola dan pertumbuhan. Kecenderungan geometris dalam susunannya mengingatkan pada gaya arabes, yang menekankan pengulangan, ritme, dan kesinambungan bentuk.
Kedekatan karya ini dengan relief Masjid Mantingan terasa melalui penggunaan motif vegetal dan pola arabes. Masjid Mantingan dikenal sebagai salah satu sumber penting dalam perkembangan ornamen Jepara, terutama melalui bentuk lotus, sulur, dan ragam hias yang menunjukkan proses akulturasi visual. Pada Tantu, inspirasi itu tidak dihadirkan sebagai salinan, tetapi sebagai dasar untuk menciptakan bentuk baru.
Karya ini menggabungkan dua sumber visual yang berbeda. Di satu sisi terdapat sulur vegetal yang organik, lentur, dan tumbuh bebas. Di sisi lain terdapat pola arabes yang lebih terstruktur, berulang, dan ritmis. Pertemuan keduanya menghasilkan bentuk yang harmonis tanpa menghilangkan karakter masing masing. Sulur tetap terasa hidup, sementara arabes memberi kerangka yang menahan agar komposisi tidak kehilangan arah.
Melalui karya ini, ukiran Jepara ditampilkan sebagai proses penyusunan. Seperti benang yang ditenun menjadi kain, setiap sulur dalam Tantu menjadi bagian dari struktur yang lebih besar. Tidak ada satu elemen yang berdiri sendiri. Semua saling terhubung, saling mengisi, dan saling membentuk. Dari hubungan itu, lahir kesatuan visual yang kuat.
Kayu jati menjadi material yang penting dalam karya ini. Kekuatan kayu memungkinkan pengolahan bentuk yang rumit, sementara serat alaminya memberi kehangatan pada keseluruhan karya. Di tangan seniman Jepara ini, kayu jati tidak hanya dipahat menjadi ornamen, tetapi diubah menjadi bahasa tentang jalinan, pertumbuhan, dan keterhubungan.
Tantu mengajak kita membaca ukiran sebagai jaringan kehidupan. Setiap sulur adalah garis yang bergerak, setiap daun dan bunga adalah tanda pertumbuhan, setiap ruang kosong adalah jeda yang memberi napas. Karya ini memperlihatkan bahwa keindahan tidak hanya lahir dari kepadatan detail, tetapi juga dari kemampuan menyusun hubungan antarunsur menjadi satu pengalaman visual yang utuh.
Pada akhirnya, Tantu menjadi karya tentang penyatuan yang tenang. Ia tidak menghadirkan benturan, tetapi jalinan. Ia tidak menampilkan dominasi satu bentuk, tetapi keseimbangan antara unsur organik dan struktur geometris. Dari sulur, daun, bunga, buah, cermin, meja, dan tempat duduk, karya ini menunjukkan bahwa seni ukir Jepara terus dapat bertumbuh melalui pertemuan antara tradisi, material, dan gagasan baru.
Tantu
Some works speak about connectedness through forms that spread, overlap, and bind one another. Tantu appears as a work that reads tendrils not only as ornament, but as a metaphor for interweaving. In Sanskrit, tantu refers to a thread or fiber, something that can be woven, arranged, and brought together to form a complete whole.
Tantu is a work by Apeep Qimo and Wafi, created in 2026. It uses teak wood and consists of two measured parts: 100 x 60 x 227 cm and 50 x 50 x 55 cm. The work is presented at the National Museum of Indonesia in Jakarta as part of TATAH 2026, which runs from April 29 to July 5, 2026.
Visually, the work resembles a dressing table with a mirror and a small seat. Yet its form does not stop as furniture. The entire body of the work is filled with tendrils that grow from bottom to top, forming a structure resembling a weave. Teak wood is worked as if it were flexible fiber: moving, alive, and soft. From a hard material, an impression of softness emerges, like a plant that keeps climbing.
The idea of tantu as thread or fiber is translated through a visual composition that overlaps and interlaces. The tendrils in this work do not stand alone. They cross, support, and build a complete network. Their movement is dynamic, like a growth that unfolds slowly yet continuously. From the lower part, the tendrils move toward the top, giving the impression that the work is growing and opening into a broader form.
Between the woven tendrils appear leaves, flowers, and fruit resembling chayote. These vegetal elements enrich the visual layers of the work. The forms of fruit, leaves, and flowers show that the interlacing is not merely a pattern, but part of a growing life. It carries an organic, natural impression close to the language of nature.
In the mirror section, tendrils frame the reflective surface in an upward-reaching form. The top forms a peak that rises, as if joining the movement of growth with the space of reflection. The mirror in this work can be read as a space for seeing oneself, while the tendrils around it symbolize that identity is always formed by threads of experience, memory, and relationship.
The table and small seat also follow the same visual language. They are not left plain, but remain enlivened by tendrils, leaves, flowers, and fruit. In this way, all elements of the work feel united. The mirror, table, and seat do not stand as separate parts, but become one sequence bound by the same ornamental language.
Compositionally, the work tends toward symmetry. The balance of left and right gives a sense of order, while the freely moving tendrils give the impression of life. This is where the strength of the work appears. It brings together order and freedom, structure and movement, pattern and growth. The geometric tendency in its arrangement recalls the arabesque style, which emphasizes repetition, rhythm, and continuity of form.
The work’s closeness to the reliefs of Mantingan Mosque can be felt through its use of vegetal motifs and arabesque patterns. Mantingan Mosque is known as one of the important sources in the development of Jepara ornament, especially through lotus forms, tendrils, and decorative modes that show visual acculturation. In Tantu, that inspiration is not presented as a copy, but as a foundation for creating a new form.
The work combines two different visual sources. On one side are organic, flexible vegetal tendrils that seem to grow freely. On the other side are more structured, repeated, and rhythmic arabesque patterns. Their meeting produces a harmonious form without removing the character of either. The tendrils still feel alive, while the arabesque provides a framework that keeps the composition from losing direction.
Through this work, Jepara carving is presented as a process of arrangement. Like threads woven into cloth, every tendril in Tantu becomes part of a larger structure. No single element stands alone. All are connected, filling and shaping one another. From that relationship, a strong visual unity is born.
Teak wood is an important material in this work. Its strength allows for the creation of intricate forms, while its natural grain gives warmth to the whole. In the hands of these Jepara artists, teak wood is not only carved into ornament, but transformed into a language of weaving, growth, and connectedness.
Tantu invites us to read carving as a network of life. Every tendril is a moving line, every leaf and flower a sign of growth, and every empty space a pause that allows the work to breathe. It shows that beauty is born not only from dense detail, but also from the ability to arrange relationships among elements into one complete visual experience.
Ultimately, Tantu is a work about quiet unification. It does not present collision, but interlacing. It does not display the dominance of one form, but balance between organic elements and geometric structure. Through tendrils, leaves, flowers, fruit, mirror, table, and seat, the work shows that Jepara carving can continue to grow through encounters among tradition, material, and new ideas.


