- Home
- Uncategorized
- Nagasajodo
Nagasajodo
Batik tidak hanya hadir sebagai kain berhias motif, tetapi juga sebagai ruang ingatan yang menyimpan cerita tentang keluarga, pengetahuan, status sosial, dan hubungan Jepara dengan dunia perdagangan. Melalui warna, garis, dan simbol yang tertata di atas kain, kita dapat mengetahui bagaimana kehidupan masyarakat pada masa lalu dibentuk oleh alam, keterampilan tangan, dan tata nilai yang hidup di dalam lingkungan bangsawan.
Karya Nagasajodo merupakan batik tulis karya Rumah Kartini dan Nurrohmad yang dibuat pada tahun 2015. Berukuran 212 x 111 cm, karya ini menghadirkan kembali ingatan tentang Batik Kartini melalui motif Nogo Sajodo, yaitu motif dua naga yang saling berhadapan dalam susunan yang kuat, seimbang, dan penuh makna.
Pada abad ke 17, Jepara tidak hanya dikenal sebagai kota pelabuhan dan pusat pertemuan budaya, tetapi juga sebagai wilayah yang memiliki komoditas penting dalam jaringan perdagangan. Selain cokelat, kopi, dan karet, terdapat komoditas yang dikenal sebagai emas biru, yaitu indigo. Tanaman ini tumbuh subur di wilayah pesisir, termasuk di Jepara, dan menjadi bahan penting dalam proses pewarnaan batik tradisional.
Indigo menghasilkan warna biru nila yang khas dan cerah. Warna ini tidak muncul secara instan, melainkan melalui proses pengolahan yang panjang. Tanaman direndam semalaman, kemudian diolah kembali hingga menghasilkan warna yang sempurna. Dari proses tersebut, batik tidak hanya menjadi hasil seni, tetapi juga hasil pengetahuan tentang alam, kesabaran, dan keterampilan mengolah bahan alami.
Dalam sejarah Batik Kartini, peran Ibu Ngasirah sangat penting. Ia mengajarkan pengetahuan dan keterampilan membatik kepada putri putrinya, yaitu Kartini, Kardinah, dan Roekmini. Melalui bimbingan seorang ibu, keterampilan membatik tidak hanya diwariskan sebagai teknik, tetapi juga sebagai bagian dari pendidikan rasa, ketekunan, dan kehalusan budi.
Batik yang dibuat dan dikenakan oleh Kartini memiliki hubungan erat dengan pewarna alami dari nila. Pilihan warna ini memperlihatkan kedekatan batik dengan lingkungan Jepara sebagai wilayah pesisir yang menghasilkan indigo. Warna biru bukan hanya unsur visual, tetapi juga jejak ekonomi, perdagangan, dan pengetahuan lokal yang tumbuh dari tanah Jepara.

Salah satu motif penting dalam tradisi tersebut adalah Nogo Sajodo. Motif ini menggambarkan dua naga yang saling berhadapan, dengan kepala yang bertemu dalam komposisi yang kuat. Kehadiran dua naga menciptakan kesan keseimbangan, kewibawaan, dan kekuatan. Dalam budaya Jawa, naga kerap dikaitkan dengan kekuasaan, penjagaan, kebesaran, dan hubungan antara dunia manusia dengan kekuatan kosmis.
Pada masanya, motif Nogo Sajodo bukanlah motif umum yang dapat dipakai oleh siapa saja. Motif ini memiliki kedudukan khusus dan hanya digunakan oleh kalangan bangsawan. Hal tersebut menunjukkan bahwa batik tidak hanya berfungsi sebagai kain penutup tubuh, tetapi juga sebagai penanda status sosial. Motif, warna, dan cara pemakaiannya dapat menunjukkan kedudukan seseorang dalam struktur masyarakat.
Kekuatan karya ini terletak pada kemampuannya menghadirkan kembali lapisan sejarah yang sering luput dari perhatian. Di dalamnya terdapat cerita tentang Jepara sebagai penghasil indigo, tentang perempuan yang mewariskan keterampilan membatik, tentang Kartini dan saudari saudarinya, serta tentang motif bangsawan yang menyimpan simbol kekuasaan. Semua unsur tersebut bertemu dalam satu bidang kain.
Batik tulis juga memiliki kedekatan dengan laku yang teliti dan sabar. Setiap garis dibuat melalui proses manual, membutuhkan ketekunan, pengendalian tangan, dan kepekaan terhadap bentuk. Dalam hal ini, Nagasajodo tidak hanya memperlihatkan motif, tetapi juga memperlihatkan cara kerja yang sejalan dengan tradisi seni Jepara, yaitu menghargai detail, proses, dan kedalaman makna.
Kehadiran Nagasajodo dalam TATAH 2026 memperluas pembacaan tentang Jepara. Jepara tidak hanya berbicara melalui kayu dan tatah, tetapi juga melalui kain, warna nila, dan motif yang diwariskan dalam lingkungan keluarga bangsawan. Dari karya ini, kita dapat melihat bahwa identitas Jepara dibangun oleh banyak tangan dan banyak medium, termasuk tangan perempuan yang menjaga pengetahuan membatik dari ruang domestik menuju ruang kebudayaan.
Nagasajodo menjadi pengingat bahwa batik adalah arsip yang hidup. Ia menyimpan jejak alam melalui indigo, jejak keluarga melalui peran Ibu Ngasirah, jejak Kartini melalui praktik membatik, dan jejak kekuasaan melalui motif naga. Pada sehelai kain, sejarah Jepara tidak hanya terlihat, tetapi juga terasa sebagai warisan yang terus bergerak dari masa lalu menuju masa kini.


