Pameran TATAH 2026 Catat 2.639 Pengunjung dalam Delapan Hari

JAKARTA – Sejak dibuka untuk umum pada 30 April 2026 hingga 7 Mei 2026, pameran seni ukir berbasis riset dan sejarah TATAH 2026: Suluk – Sulur – Jepara telah dikunjungi sebanyak 2.639 pengunjung.

Pameran yang berlangsung di Museum Nasional Indonesia, tepatnya di Ruang Temporer A, ini menghadirkan perjalanan panjang seni ukir Jepara melalui karya, arsip, riset, dan narasi sejarah. Melalui TATAH 2026, pengunjung diajak melihat seni ukir Jepara bukan hanya sebagai karya visual, tetapi juga sebagai bagian dari identitas budaya yang terus hidup dan berkembang.

Pameran Tatah 2026 Catat 2.639 Pengunjung Dalam Delapan Hari

Direktur TATAH, Veronica Rompies, mengatakan sejak awal pihaknya meyakini bahwa TATAH 2026 akan mendapat perhatian masyarakat karena menghadirkan pendekatan yang berbeda. Tidak hanya menampilkan keindahan karya ukir, pameran ini juga membawa pengunjung untuk memahami sejarah, proses kreatif, hingga nilai budaya yang melekat dalam seni ukir Jepara.

“Sejak awal kami percaya TATAH akan menjadi pameran yang menarik bagi masyarakat karena menghadirkan sesuatu yang berbeda, yakni menampilkan keindahan seni ukir Jepara sekaligus perjalanan sejarah, riset, dan nilai budaya di baliknya. Namun demikian, antusiasme masyarakat yang hadir tetap melampaui apa yang kami bayangkan. Dalam waktu sepekan, jumlah pengunjung telah mencapai 2.639 orang,” ujar Veronica.

Ia berharap pameran ini dapat menjadi ruang belajar budaya yang terbuka bagi masyarakat luas, sekaligus memperkenalkan seni ukir Jepara secara lebih utuh.

“Kami berharap melalui pameran ini publik dapat lebih mengenal, memahami, dan mempelajari seni ukir Jepara secara lebih menyeluruh. Tidak hanya menikmati karya secara visual, tetapi juga memahami sejarah, proses, serta pengetahuan budaya yang hidup di dalam seni ukir Jepara. Harapannya, masyarakat juga bisa semakin dekat dengan salah satu kekayaan budaya Nusantara ini,” lanjutnya.

Selama masa kunjungan, berbagai elemen masyarakat hadir ke museum, mulai dari anak-anak, pelajar, mahasiswa, hingga masyarakat umum. Tidak hanya pengunjung dari Indonesia, pameran ini juga menarik perhatian warga negara asing yang datang ke Museum Nasional Indonesia.

Pelajar Mengunjungi Pameran Tatah Di Museum Nasional

Di dalam pameran, pengunjung dapat menyaksikan berbagai materi mengenai perjalanan budaya Jepara, mulai dari lini masa Jepara, era Kalinyamat, perempuan dan seni ukir, ekosistem ukir Jepara, hingga karya maestro dan seniman ukir Jepara. Beberapa karya dan materi yang dihadirkan antara lain Prasasti Candi Angin, Arca Durga, panel ukiran Mantingan, Jung Jepara, Batik Kartini, alat tatah, hingga karya-karya kontemporer.

Pengunjung asal Jakarta, Yanli Rahmad, mengaku terpukau dengan karya berjudul “Mengurung Nafsu”. Menurutnya, pameran ini memberikan pengalaman menarik karena pengunjung dapat melihat perjalanan sejarah Jepara hingga perkembangan karya kontemporer saat ini.

“Bagusnya dari pameran ini kita bisa melihat sejarah Jepara, bagaimana Jepara berkembang dari masa awal hingga sekarang dengan karya-karya yang bersifat kontemporer. Salah satu yang saya sukai adalah karya Mengurung Nafsu. Sangat luar biasa bagaimana sepotong kayu bisa menghadirkan bentuk seekor macan di dalamnya,” ujar Yanli.

Kesan positif juga disampaikan Mayadina, akademisi dari Unisnu Jepara. Ia menyebut salah satu karya favoritnya adalah “Taman Laut” karya seniman Suhartono, yang dibuat selama 13 tahun.

“Saya sangat senang menyaksikan pameran TATAH 2026. Salah satu karya favorit saya adalah Taman Laut karya Suhartono yang dibuat selama 13 tahun. Menurut saya itu adalah hasil dari kesabaran dan kecermatan yang luar biasa. Harapannya, ukiran Jepara bisa terus dipamerkan dan diperkenalkan kepada masyarakat luas, baik di Indonesia maupun di berbagai negara,” ungkap Mayadina.

Sementara itu, pengunjung asal Prancis, Reynalds Deforges, menilai pameran ini sebagai pengalaman yang menarik untuk mengenal budaya Indonesia lebih dekat.

Pameran Tatah Di Museum Nasional Jakarta

“Saya menemukan pameran ini sangat indah. Ada banyak karya berbeda yang bisa dilihat di sini. Ini menjadi pengalaman yang menyenangkan untuk mempelajari budaya Indonesia,” katanya.

Melalui TATAH 2026, seni ukir Jepara ditampilkan sebagai warisan budaya yang hidup, tidak hanya melalui keindahan bentuknya, tetapi juga lewat sejarah, pengetahuan, keterampilan, dan perjalanan panjang masyarakat Jepara dalam menjaga tradisi ukir hingga hari ini.

Bagi masyarakat yang ingin mengenal Jepara dari sisi yang lebih luas, TATAH 2026 menjadi kesempatan untuk melihat bagaimana seni ukir tidak hanya hadir sebagai karya yang indah, tetapi juga sebagai jejak sejarah, pengetahuan, dan identitas budaya yang terus hidup.

Pameran TATAH 2026: Suluk – Sulur – Jepara masih dapat dikunjungi di Museum Nasional Indonesia, Ruang Temporer A, hingga 5 Juli 2026.

Sorotan Rekomendasi