- Home
- Uncategorized
- Akar Biota Laut
Akar Biota Laut
Ada karya yang membuat kayu seolah kehilangan sifat diamnya. Pada Akar Biota Laut, tunggak kayu jati berubah menjadi lanskap kehidupan bawah laut yang padat, bergerak, dan penuh detail. Ikan, karang, flora laut, dan berbagai bentuk biota hadir dalam susunan tiga dimensi yang membuat karya ini terasa seperti potongan ekosistem laut yang dibekukan dalam kayu.
Akar Biota Laut merupakan karya Suhud yang dibuat pada tahun 2001. Karya ini menggunakan material kayu jati dengan ukuran 225 x 80 x 197 cm. Karya ini turut ditampilkan di Museum Nasional Indonesia Jakarta dalam Pameran TATAH 2026 yang berlangsung mulai 29 April sampai 5 Juli 2026.

Suhud dikenal di kalangan pengukir Jepara sebagai sosok yang konsisten menghadirkan karya ukir dengan pendekatan berbeda. Dalam banyak karyanya, perhatian utama selalu terletak pada ketepatan anatomi objek. Ia tidak hanya memahat bentuk secara umum, tetapi berusaha menangkap struktur, gerak, dan karakter objek yang diukir. Karena itu, karya karyanya sering terasa hidup dan realistis.
Karya bertema biota laut ini berasal dari tunggak atau akar kayu berukuran besar. Material tersebut kemudian dimiringkan untuk menciptakan bentuk yang lebih dinamis dan menjulang. Pilihan untuk memiringkan tunggak kayu menjadi bagian penting dari komposisi, karena membuat karya tidak terasa statis. Tubuh kayu tampak seperti bergerak, seolah menjadi arus, karang, atau bongkah kehidupan laut yang tumbuh ke berbagai arah.
Pendekatan visual tiga dimensi dalam karya ini memperlihatkan konsistensi Suhud dalam menjaga ketepatan anatomi. Prinsip tersebut telah ia tekuni sejak mulai mengukir saat masih duduk di kelas 3 sekolah dasar. Pengalaman panjang itu tampak pada cara ia membentuk ikan, tekstur karang, dan unsur flora fauna laut dengan detail yang kuat. Setiap bagian tidak dibuat sekadar menyerupai, tetapi diusahakan mendekati bentuk dan struktur aslinya.
Proses pengerjaan karya ini memakan waktu hampir dua tahun dan melibatkan dua orang pengukir lainnya. Waktu yang panjang tersebut menunjukkan tingkat kerumitan karya. Pada bidang yang padat, setiap detail harus diperhitungkan. Ikan yang satu harus memiliki ruang dengan ikan lainnya, karang harus menjadi latar sekaligus penopang, dan keseluruhan bentuk harus tetap menyatu sebagai satu ekosistem visual.
Dalam karya ini, detail menjadi bahasa utama. Sisik ikan, sirip, mata, lekuk tubuh, permukaan karang, hingga rongga rongga kecil di antara bentuk dikerjakan dengan ketelitian tinggi. Dari dekat, kita dapat membaca kesabaran tangan pengukir. Dari jauh, keseluruhan karya tampak sebagai komposisi besar yang hidup dan kompleks. Hubungan antara detail kecil dan bentuk besar inilah yang memberi kekuatan pada Akar Biota Laut.
Karya ini juga memperlihatkan idealisme Suhud dalam berkarya. Ia tidak hanya mengejar hasil visual yang menarik, tetapi juga mencari kepuasan batin. Baginya, karya harus menghadirkan sesuatu yang unik, berbeda, dan belum banyak dijumpai di lingkungan sosialnya. Sikap ini menunjukkan bahwa seni ukir tidak selalu harus mengikuti pola yang sudah mapan. Ia dapat menjadi ruang eksplorasi, pencarian, dan keberanian untuk menciptakan kemungkinan baru.
Prinsip Suhud dalam berkarya dirangkum dalam pesan bahwa jika berkarya jangan setengah setengah. Kualitas harus diutamakan terlebih dahulu, bukan semata mata uangnya. Pandangan ini terasa kuat dalam Akar Biota Laut. Karya sebesar dan serumit ini tidak mungkin lahir dari proses yang tergesa. Ia membutuhkan ketekunan, kesabaran, ketelitian, dan keyakinan bahwa kualitas adalah inti dari martabat seorang pengukir.

Kayu jati dalam karya ini menjadi medium yang sangat penting. Sebagai material yang kuat, padat, dan tahan lama, kayu jati memungkinkan pengerjaan bentuk yang kompleks. Di tangan Suhud, tunggak kayu tidak dibiarkan menjadi bentuk alam yang mentah, tetapi diolah menjadi dunia baru. Akar dan tubuh kayu berubah menjadi karang, arus, gerak ikan, dan kehidupan laut yang tersusun dalam satu lanskap tiga dimensi.
Akar sebagai asal material juga memberi makna tersendiri. Akar biasanya tersembunyi di bawah tanah, sementara biota laut hidup di bawah permukaan air. Keduanya sama sama berada di ruang yang tidak selalu terlihat. Dalam karya ini, Suhud membawa dua dunia tersembunyi itu ke permukaan. Akar kayu dan kehidupan laut dipertemukan dalam satu karya yang dapat dilihat, diraba secara visual, dan direnungkan.
Akar Biota Laut menjadi bukti bahwa seni ukir Jepara memiliki kemampuan menjangkau tema yang luas. Tidak hanya flora klasik, sulur, atau ornamen tradisional, tetapi juga dunia bawah laut yang kompleks. Melalui karya ini, Suhud menunjukkan bahwa keterampilan ukir dapat digunakan untuk menghadirkan realisme, membangun ruang tiga dimensi, dan menyampaikan kekaguman terhadap kehidupan alam.
Pada akhirnya, Akar Biota Laut adalah karya tentang ketelitian dan kesungguhan. Ia memperlihatkan bagaimana seorang pengukir mengubah tunggak kayu menjadi dunia yang penuh kehidupan. Dari setiap ikan, karang, dan lekuk pahatan, kita membaca dedikasi Suhud terhadap kualitas, anatomi, dan kejujuran proses. Karya ini tidak hanya menampilkan keindahan biota laut, tetapi juga menegaskan nilai penting dalam seni ukir Jepara, yaitu berkarya dengan sepenuh hati.


