Pameran TATAH 2026 Jadi Ruang Apresiasi Seni Ukir Jepara

JEPARA – Sebuah pameran dapat berakhir ketika ruangnya ditutup dan karya-karyanya diturunkan. Namun, perjumpaan yang lahir di dalamnya dapat bergerak lebih jauh. Ia tinggal dalam ingatan pengunjung, membuka percakapan baru, serta mempertemukan masyarakat dengan pengetahuan, kehidupan, dan manusia di balik sebuah karya seni ukir.

Malam Apresiasi Seniman Ukir Tatah 2026

Perjalanan tersebut tampak dalam Pameran Seni Ukir TATAH 2026: Suluk–Sulur–Jepara. Hingga Senin, 27 Juli 2026, pameran yang berlangsung di Museum Nasional Indonesia itu telah dikunjungi 68.242 orang. Capaian tersebut memperlihatkan besarnya perhatian publik sekaligus menunjukkan bahwa seni ukir Jepara masih memiliki ruang yang luas untuk dikenali, dirasakan, dibicarakan, dan dilestarikan bersama.

Sejak dibuka pada 29 April 2026, TATAH menghadirkan seni ukir bukan hanya sebagai hasil akhir dari pekerjaan tangan. Pameran ini membawa publik memasuki perjalanan yang lebih panjang, mulai dari pengetahuan mengenai kayu, ketekunan para seniman dan pengukir, tradisi keluarga yang diwariskan antargenerasi, hingga cara Jepara mempertahankan identitasnya di tengah perubahan zaman.

Di dalam ruang pamer, ukiran hadir sebagai sebuah bahasa. Setiap pahatan membawa jejak tangan, pengalaman, dan pengetahuan yang tidak selalu tercatat dalam tulisan. Melalui karya-karya tersebut, pengunjung diajak mengenal Jepara bukan hanya sebagai daerah penghasil furnitur, tetapi juga sebagai ruang kebudayaan yang terus tumbuh dan membentuk dirinya.

Malam Apresiasi Seniman Ukir Tatah 2026 Di Pendopo Kartini Jepara

Penghargaan bagi Penjaga Pengetahuan Ukir

Perjalanan Pameran TATAH 2026 kemudian dibawa kembali ke Jepara melalui Malam Penganugerahan Pameran Seni Ukir TATAH 2026 yang diselenggarakan di Pendopo R.A. Kartini pada Senin, 27 Juli 2026.

Acara tersebut menjadi ruang penghormatan bagi para pelaku yang selama ini bekerja dan tumbuh di dalam ekosistem seni ukir. Pemerintah Kabupaten Jepara memberikan penghargaan kepada 38 penerima dari sejumlah kategori, meliputi maestro, seniman, artisan, asisten pengukir, pelestari budaya, akademisi, komunitas, serta mitra yang turut menjaga keberlangsungan seni ukir Jepara.

Seni ukir tidak pernah lahir dari satu tangan saja. Di balik sebuah karya terdapat proses panjang yang melibatkan perancang, seniman, pengukir, artisan, penyedia bahan, keluarga, komunitas, peneliti, dan berbagai pihak yang menjaga agar keterampilan serta pengetahuan tersebut dapat terus diteruskan.

Seniman Ukir Jepara Yang Terlibat Di Pameran Tatah 2026

Malam penganugerahan menjadi pengingat bahwa orang-orang di balik sebuah karya perlu mendapatkan ruang untuk dikenal dan dihargai. Mereka bukan sekadar pihak yang mengerjakan kayu, melainkan penjaga keterampilan, penyimpan pengetahuan, dan bagian penting dari perjalanan kebudayaan Jepara.

Pada kesempatan tersebut, Pemerintah Kabupaten Jepara juga menyerahkan bantuan program Kartu Mebel Jepara secara simbolis kepada pekerja di sektor mebel dan ukir. Program ini menunjukkan bahwa pembicaraan mengenai pelestarian seni ukir tidak dapat dipisahkan dari keberadaan dan keberlanjutan hidup para pelakunya.

Pameran sebagai Fondasi Perjalanan Berikutnya

Bupati Jepara Witiarso Utomo melihat penyelenggaraan pertama TATAH sebagai langkah awal yang perlu diteruskan dan dikembangkan.

“Pameran TATAH yang pertama ini menjadi fondasi untuk gelaran-gelaran berikutnya,” ujar Witiarso Utomo dalam sambutannya.

Sebagai penyelenggaraan pertama, TATAH tentu masih memiliki ruang untuk dievaluasi dan dikembangkan. Namun, pertemuan antara seniman, pengukir, pemerintah, peneliti, komunitas, dan masyarakat luas telah membuka kemungkinan bagi perjalanan yang lebih panjang.

Bupati Jepara Witiarso Utomo Memberiikan Sambutan Di Pendopo Kartini Jepara

Penyelenggaraan berikutnya diharapkan dapat menjangkau lebih banyak pelaku seni ukir, termasuk para pengukir dari desa-desa yang selama ini belum banyak memperoleh panggung. Pemerintah Kabupaten Jepara juga menyatakan dukungannya terhadap gagasan Trilogi Pameran TATAH sebagai bagian dari upaya memperkuat literasi, dokumentasi, dan apresiasi terhadap seni ukir.

Dengan demikian, TATAH tidak berhenti sebagai sebuah agenda pameran. TATAH dapat berkembang menjadi ruang bersama untuk menemukan talenta baru, mempertemukan generasi, membaca perubahan, serta membangun kembali hubungan antara masyarakat Jepara dan tradisi ukirnya.

Hendra Ketua Dpd Himki Jepara Raya

Menemukan Talenta dan Menghidupkan Ekosistem

Direktur TATAH, Veronica Rompies, menjelaskan bahwa TATAH hadir sebagai penghubung antara para maestro, seniman, pengukir, dan masyarakat. Sebuah pameran memang tidak dapat menyelesaikan seluruh persoalan dalam dunia ukir dalam satu waktu. Namun, pameran dapat menjadi pintu untuk memperkenalkan para pelakunya kepada publik dan menghidupkan kembali percakapan mengenai ekosistem seni ukir Jepara.

“TATAH menjadi satu spirit,” ungkap Veronica.

Direktur Tatah 2026 Veronica Rompies Sambutan Di Pendopo Kabupaten Jepara

Spirit tersebut diwujudkan dengan memberikan ruang kepada seniman, mencari talenta-talenta yang belum banyak dikenal, serta mempertemukan para pelaku ukir dengan masyarakat yang lebih luas.

Pada penyelenggaraan TATAH berikutnya, kesempatan bagi para seniman direncanakan akan dibuka lebih luas. Seniman dapat mengirimkan karya untuk mengikuti proses seleksi dan kurasi. Kolaborasi dengan seniman dari luar Jepara juga akan dikembangkan agar karya para pengukir Jepara dapat berjumpa dengan pendekatan, gagasan, disiplin, dan jaringan yang lebih beragam.

Langkah tersebut bukan untuk melepaskan seni ukir dari akarnya, melainkan untuk memperluas ruang pertumbuhannya. Tradisi dapat terus menjaga pengetahuan yang diwariskan dari generasi sebelumnya, sekaligus membuka kemungkinan baru melalui pertemuan dengan generasi dan disiplin yang berbeda.

Regenerasi Dimulai dari Ruang Belajar

Keberlangsungan seni ukir Jepara pada akhirnya bergantung pada hadirnya generasi berikutnya. Regenerasi tidak cukup dilakukan ketika seseorang telah memasuki usia dewasa. Kedekatan dengan seni ukir perlu dibangun sejak dini melalui keluarga, lingkungan, sekolah, dan berbagai ruang kebudayaan.

Sekretaris Daerah Kabupaten Jepara, Ary Bachtiar, menegaskan pentingnya proses regenerasi tersebut.

“Regenerasi harus dilakukan secara berkelanjutan,” ujarnya.

Pengenalan terhadap seni ukir dapat dimulai melalui kegiatan sederhana, seperti mewarnai motif ukir pada jenjang pendidikan anak usia dini. Pada jenjang berikutnya, seni ukir dapat diperkenalkan melalui muatan lokal, kegiatan ekstrakurikuler, serta pembelajaran yang lebih mendalam.

Upaya tersebut tidak hanya berkaitan dengan lahirnya pengukir-pengukir baru. Pendidikan mengenai seni ukir juga dapat menumbuhkan kesadaran bahwa ukiran merupakan bagian dari sejarah, pengetahuan, cara hidup, dan identitas masyarakat Jepara.

Ketika generasi muda memahami proses, nilai, serta orang-orang di balik sebuah karya, mereka tidak lagi melihat ukiran hanya sebagai ornamen. Mereka dapat mengenalnya sebagai pengetahuan hidup yang memiliki hubungan langsung dengan tempat mereka tumbuh.

Sutrisno Jepara Carver Menerima Piagam Dari Bupati Jepara

Perjalanan yang Belum Selesai

Lebih dari 68 ribu kunjungan menjadi sebuah capaian penting. Namun, angka bukanlah akhir dari perjalanan TATAH. Nilai yang lebih besar terdapat pada percakapan yang berhasil dibuka, para pelaku seni ukir yang mulai dikenal, serta tumbuhnya perhatian baru terhadap keberlanjutan seni ukir Jepara.

Pameran TATAH 2026 masih dapat dikunjungi di Museum Nasional Indonesia hingga 2 Agustus 2026. Kesempatan tersebut menjadi ruang bagi masyarakat untuk melihat secara langsung bahwa sebuah ukiran tidak hanya dibentuk oleh kayu dan alat tatah.

Di dalamnya terdapat waktu, ketekunan, pengalaman, pengetahuan, dan tangan-tangan manusia yang terus menjaga warisan Jepara.

Ketika ruang pamer akhirnya ditutup, kerja untuk merawat seni ukir justru memasuki tahap berikutnya. Sebab, TATAH bukan hanya tentang karya yang telah dipamerkan, melainkan juga tentang pengetahuan, perjumpaan, dan kemungkinan baru yang dapat terus ditumbuhkan setelahnya.

Sorotan Rekomendasi