- Home
- Uncategorized
- Proses Kreatif Mengukir Karya Jepara dari Awal hingga Akhir
Proses Kreatif Mengukir Karya Jepara dari Awal hingga Akhir
Di Desa Sukodono, Kecamatan Tahunan, Jepara, seni ukir tidak sekadar hidup sebagai keterampilan teknis, tetapi sebagai bagian dari laku hidup. Tradisi ini diwariskan dari generasi ke generasi, bukan hanya melalui tangan, tetapi juga melalui nilai, doa, tata rasa, dan cara memandang dunia. Roni, salah seorang pengukir Jepara, menjelaskan dengan rinci tahapan mengukir yang ia pelajari sejak kecil. Tahapan yang hingga kini menjadi dasar dalam setiap karyanya.
Menurut Roni, proses mengukir tidak bisa dipisahkan dari filosofi dan kearifan lokal para leluhur masa lalu. Tradisi yang tumbuh sejak masa Japara lama ini bukan hanya metode kerja, tetapi rangkaian ajaran dan laku yang membentuk karakter seorang pengukir. Inilah yang membuat ukiran Jepara memiliki “ruh” yang khas, berbeda dari daerah lain.

Pemaknaan ini sejalan dengan gagasan kuratorial TATAH: Suluk – Sulur – Japara, sebuah pendekatan yang membaca seni ukir sebagai pengetahuan visual dan laku batin. Seperti suluk dalam tradisi Jawa yang berisi piwulang tentang etika dan tata hidup, proses mengukir dipahami sebagai perjalanan nilai. Sementara sulur, elemen visual paling mendasar dalam ukiran Jepara menjadi struktur yang menata ritme, kesinambungan dan keseimbangan dalam sebuah karya.
1. Menggambar : Menentukan Jalan Cerita Sebuah Karya
Tahap pertama selalu dimulai dari gambar. Bagi Roni, gambar bukan sekadar sketsa, melainkan penentuan jalan cerita sebuah karya. Pada tahap ini, ritme, arah, harmoni dan rasa ditata sejak awal.
Dalam kerangka Suluk Sulur Japara, menggambar dipahami sebagai momen suluk, saat pengukir menetapkan niat, menata batin dan membangun fondasi rasa sebelum memasuki proses teknis.

2. Ngeblat atau Ngemal : Mentransfer Gagasan ke Kayu
Setelah sketsa matang, pengukir memindahkan pola ke permukaan kayu melalui proses ngeblat atau ngemal. Tahap ini memastikan bentuk tetap presisi, tidak melenceng dari konsep awal. Pada titik ini, kayu mulai diberi identitas, sulur-sulur bentuk pertama mulai tumbuh mengikuti garis pola.

3. Mbukak’i atau Bladogi : Menentukan Struktur Dasar
Tahap berikutnya, mbukak’i atau bladogi, adalah proses membentuk struktur dasar ukiran. Garis besar dan volume dibangun dengan kasar, memberi fondasi awal sebelum detail masuk.
“Awalnya selalu garis besar dulu, biar nanti detailnya bisa mengikuti,” ujar Roni.
Tahap ini adalah fase mengenali karakter kayu, membaca arah serat dan melihat bagaimana bentuk dapat tumbuh secara alami, mirip cara sulur menjalar dalam estetika ukiran Jepara.
4. Ngelemahi : Memberi Kedalaman dan Membangkitkan Kehidupan
Setelah struktur dasar terbentuk, pengukir memasuki tahap ngelemahi, yaitu memberi kedalaman dan menata ruang. Inilah titik ketika ukiran mulai tampak hidup.

Ngelemahi menentukan seberapa tinggi bentuk menonjol, seberapa dalam ruang tenggelam dan bagaimana cahaya bergerak di permukaan kayu. Tahap ini mencerminkan logika visual Jepara: keseimbangan, kesinambungan dan ritme bidang.
5. Ngekol dan Nyoret : Menyempurnakan Detail Halus
Tahap ngekol dan nyoret adalah proses menghidupkan detail-detail kecil:
- urat daun
- lekuk halus
- tekstur kelopak
- garis kecil yang tampak seperti tulisan tangan
Pada tahap ini, teknik dan rasa bersatu. Detail bukan hanya persoalan visual, tetapi bagian dari laku estetik yang menjadi identitas pengukir Jepara.
6. Ngelusi : Sentuhan Akhir yang Menghadirkan Jiwa
Tahap terakhir adalah ngelusi, sentuhan akhir yang memperhalus seluruh bentuk. Alat harus diasah tajam agar hasilnya bersih dan tidak merusak serat kayu. Setelah itu dilakukan pengamplasan dan persiapan finishing.

Menurut Roni, inilah tahap ketika karya benar-benar memperlihatkan jiwanya. Detail halus, kedalaman dan keseimbangan bertemu menjadi satu tubuh visual yang utuh.
Tradisi yang Tak Lekang oleh Waktu
Dari seluruh penjelasan Roni, tampak jelas bahwa seni ukir Jepara adalah perjalanan panjang yang tidak bisa tergesa-gesa. Setiap tahap memiliki fungsi, nilai dan tata laku tersendiri, sebuah bentuk suluk dan sulur yang terwujud dalam kayu.

Inilah yang menjadi dasar konsep TATAH, Suluk – Sulur – Japara. bahwa seni ukir Jepara adalah gabungan antara teknik, ajaran, sejarah silang budaya dan identitas estetik yang dijaga melalui laku jiwa.
Bagi Roni, setiap tahapan adalah warisan. Melalui setiap pahatan, ia tidak hanya membentuk kayu, tetapi juga merawat laku, nilai, dan napas leluhur agar tetap hidup dan relevan dalam zaman modern.


