- Home
- Uncategorized
- Transformasi Lotus dalam Ukiran Jepara
Transformasi Lotus dalam Ukiran Jepara
Dalam pameran TATAH 2026 di Museum Nasional Indonesia, motif lotus menjadi kunci pembacaan sejarah visual Jepara. Namun lotus yang dihadirkan bukan sekadar ornamen dekoratif, melainkan hasil transformasi simbolik yang panjang. Dari padma dalam tradisi Hindu menuju sulur sebagai bahasa rupa khas Jepara.
Pembacaan ini disampaikan oleh Dr. Akhmad Nizam, S.Sn., M.Sn., akademisi dan pengajar kriya di Institut Seni Indonesia Yogyakarta, sekaligus tim riset Tatah 2026. Dalam kajiannya, Nizam menempatkan motif Mantingan sebagai prototype penting bagi lahirnya sulur-sulur Jepara.

Lotus Mantingan
Nizam menegaskan perlunya ketepatan istilah. Motif yang dominan di Mantingan kerap disalahartikan sebagai teratai (water lily). Padahal, yang dimaksud adalah lotus, daun dan bunganya muncul di atas air dengan batang yang tumbuh dari dasar.
“Lotus di Mantingan itu jelas padma, bukan teratai,” jelas Nizam.
Penegasan ini penting karena padma dalam tradisi Hindu merujuk pada simbol-simbol ketuhanan. Kehadirannya di konteks arsitektur Islam seperti Masjid Mantingan, menjadi penanda perjumpaan simbolik yang berani dan kompleks.
Keberanian Simbolik di Mantingan
Kehadiran padma di Masjid Mantingan Jepara memunculkan pertanyaan: mengapa simbol ketuhanan Hindu dipahatkan di masjid? Jawabannya tidak berhenti pada penolakan atau penerimaan mentah, melainkan pada adaptasi dan transformasi.
Nizam menjelaskan bahwa padma di Mantingan mengalami perlakuan khusus: pangkal tumbuhnya diolah, ujung ornamen diberi tunas, dan ikonografi ketuhanan Hindu diredam melalui stilisasi.
“Lotus di Mantingan sudah tidak bisa dimaknai sama dengan padma Hindu,” ungkapnya.
Transformasi inilah yang memungkinkan simbol lama hidup kembali dalam konteks baru.

Mantingan sebagai Prototype Sulur
Dari padma yang distilisasi, lahirlah sulur, pola spiral yang menggulung, berulang dan berkesinambungan. Bagi Nizam, Motif Mantingan adalah prototype awal dari proses ini.
“Lotus itu distilisasi menjadi sulur-sulur spiral menggulung ke kanan, ke kiri, lalu berulang,” jelasnya.
Medalion-medalion Mantingan memperlihatkan sulur yang melingkar sebagai adaptasi visual yang lebih canggih, sekaligus menunjukkan pengaruh Islam dalam pengolahan ornamen.
Dari Simbol ke Bahasa Rupa Jepara
Transformasi padma menjadi sulur menandai pergeseran dari simbol ke bahasa rupa. Sulur tidak lagi membawa makna teologis tunggal, melainkan menjadi pola estetis yang lentur, mudah beradaptasi, diwariskan dan dikembangkan.
Di sinilah sulur menjadi identitas visual Jepara. Hadir dalam ukiran tumbuh-tumbuhan, stilisasi low relief dan komposisi yang menekankan kesinambungan.
Melalui pembacaan padma, lotus, sulur, TATAH 2026 menampilkan seni ukir Jepara sebagai hasil negosiasi simbolik yang cerdas. Mantingan menjadi titik tolak, sementara sulur menjadi bahasa yang terus hidup menjembatani tradisi lama dengan konteks baru.
Dengan demikian, sulur bukan sekadar motif. Ia adalah jejak transformasi, bukti bagaimana Jepara mengolah simbol menjadi bahasa rupa yang berkelanjutan.


