- Home
- Uncategorized
- Arca Durga
Arca Durga
Dalam perjalanan panjang sejarah Jepara, Arca Durga menjadi salah satu penanda penting tentang lapisan spiritual dan kebudayaan yang pernah hidup di kawasan Muria. Sosok Durga dalam tradisi Hindu dikenal sebagai perwujudan kekuatan ilahi, istri atau Cakti dari Dewa Siwa, yang juga dikenal dengan nama Dewi Parwati atau Dewi Uma. Dalam berbagai kisah mitologi, Durga sering dipahami sebagai sosok yang memiliki daya pelebur dan penghancur, tetapi sekaligus hadir sebagai pelindung umat manusia dari kekuatan jahat yang mengganggu kehidupan.
Arca yang dihadirkan dalam narasi TATAH 2026 ini merupakan Arca Durga Mahisasuramardini. Secara visual, Durga digambarkan duduk di atas seekor lembu setelah berhasil mengalahkan raksasa bernama Asura yang menjelma dalam wujud lembu atau mahisa. Karena itulah sosok ini dikenal sebagai Mahisasuramardini, yakni Durga sang penakluk Mahisa. Dalam citra tersebut, Durga bukan hanya tampil sebagai dewi yang anggun, tetapi juga sebagai simbol keberanian, ketegasan, dan kekuatan untuk menundukkan kekacauan.
Arca ini digambarkan memiliki delapan tangan. Enam tangan memegang berbagai senjata, sementara dua tangan lainnya memegang kepala Asura dan ekor Mahisa. Senjata-senjata yang tampak dalam penggambaran tersebut antara lain cakram, pedang, anak panah dan busur, sangka atau kerang, perisai, serta kalung mutiara atau baju zirah. Setiap unsur visual ini tidak hadir sebagai hiasan semata, melainkan menyimpan makna. Senjata-senjata itu melambangkan kekuatan, kebijaksanaan, perlindungan, serta kemampuan untuk mengalahkan musuh atau kekuatan negatif.
Secara material, arca ini dari batu kapur dengan dimensi sekitar 18 x 15 x 29 cm. Meski ukurannya tidak besar, arca ini menyimpan makna yang luas. Ia tidak hanya berbicara tentang bentuk dan pahatan, tetapi juga tentang sistem kepercayaan, cara masyarakat masa lampau memahami dunia, serta bagaimana simbol-simbol spiritual diwujudkan melalui media rupa.

Dalam konteks sejarah Jepara, kehadiran Arca Durga memperlihatkan bahwa kawasan ini tidak hanya dikenal melalui tradisi ukir kayu, tetapi juga memiliki hubungan panjang dengan tradisi pahat, simbol, dan spiritualitas yang jauh lebih tua. Sebelum ukiran Jepara dikenal sebagai identitas kota, wilayah Muria telah menjadi ruang kebudayaan yang menyimpan jejak Hindu-Buddha, kerajaan, ritus, serta bentuk-bentuk visual yang berkaitan dengan keyakinan masyarakat pada zamannya.
Arca Durga juga memperkaya pembacaan terhadap Jepara sebagai wilayah yang terbentuk dari banyak lapisan budaya. Dalam perjalanan sejarahnya, Jepara tidak berdiri dari satu sumber tunggal. Ia tumbuh melalui pertemuan berbagai pengaruh spiritualitas Jawa kuno, Hindu-Buddha, Islam pesisir, jaringan maritim, kolonialisme, hingga modernitas. Setiap lapisan meninggalkan jejak, baik dalam bentuk artefak, aksara, motif, maupun cara masyarakat membangun identitasnya.
Dalam Pameran TATAH 2026, Arca Durga ditempatkan dalam bagian Lini Masa Jepara, sehingga kehadirannya menjadi pintu untuk memahami akar sejarah yang lebih dalam. Ia membantu pengunjung melihat bahwa seni ukir Jepara bukan peristiwa yang berdiri sendiri, melainkan tumbuh dari tanah yang sejak lama akrab dengan pahatan, simbol, mitologi, dan nilai spiritual.
Arca ini juga dapat dibaca melalui kerangka besar “Suluk – Sulur – Jepara”. Sebagai suluk, Arca Durga mengajak kita menelusuri perjalanan spiritual masyarakat masa lalu, ketika bentuk-bentuk visual digunakan untuk menghadirkan makna perlindungan, kekuatan, dan kemenangan atas kejahatan. Sebagai sulur, ia menunjukkan bahwa jejak kebudayaan terus menjalar dari masa ke masa, dari batu ke kayu, dari arca ke ornamen, dari simbol religius ke bahasa rupa yang terus berkembang dalam seni ukir Jepara.
Kekuatan Arca Durga terletak pada kemampuannya menyatukan dua hal: keindahan bentuk dan kedalaman makna. Ia adalah artefak yang berbicara tentang keberanian menghadapi kekacauan, tentang perlindungan terhadap kehidupan, dan tentang nilai spiritual yang pernah menjadi bagian penting dari masyarakat di kawasan Muria.
Melalui Arca Durga, TATAH 2026 mengajak pengunjung untuk melihat Jepara bukan hanya sebagai kota ukir, tetapi sebagai ruang peradaban yang panjang. Di dalamnya terdapat jejak kerajaan, keyakinan, mitologi, seni pahat, dan kemampuan manusia untuk mengubah batu menjadi tanda kebudayaan.
Arca Durga mengingatkan bahwa pahatan bukan hanya soal membentuk material. Pahatan adalah cara manusia menanamkan nilai ke dalam benda. Dari batu yang dipahat, kita dapat membaca keberanian, perlindungan, dan ingatan tentang dunia spiritual yang pernah hidup di tanah Jepara.


