• Home
  • Uncategorized
  • Dr. Akhmad Nizam : Membaca Stilisasi Mantingan dalam Tradisi Ukir Jepara

Dr. Akhmad Nizam : Membaca Stilisasi Mantingan dalam Tradisi Ukir Jepara

Dalam rangkaian riset program TATAH 2026, salah satu fokus penting adalah membaca kembali warisan visual dan sistem pengetahuan yang tertanam dalam situs-situs bersejarah Jepara, terutama Kompleks Masjid dan Makam Mantingan. Di sinilah banyak ukiran batu yang menjadi fondasi estetika Jepara menemukan bentuk awalnya. Untuk memahami struktur visual, filosofi serta strategi artistik yang bekerja dalam relief-relief ini, tim riset melibatkan sejumlah akademisi seni rupa, salah satunya Dr. Akhmad Nizam, M.Sn. dari Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta.

Sebagai akademisi seni rupa yang lama meneliti hubungan antara bentuk, budaya dan konteks religi, Dr. Nizam memberikan penjelasan mendalam tentang salah satu aspek penting seni ukir Mantingan. Dimana kemampuan para empu mengolah larangan religius menjadi kreativitas visual yang cemerlang. Hal ini terutama berkaitan dengan larangan menggambarkan makhluk bernyawa secara langsung dalam tradisi Islam.

“Memang ada yang menjelaskan bahwa dilarang menggambarkan makhluk yang bernyawa di dalam Islam,” ujar Dr. Nizam dalam salah satu sesi wawancara. “Menggambarkan makhluk bernyawa di masjid tentu tidak pantas. Nah, seniman di Mantingan berhasil mengatasi itu melalui stilisasi”, ungkapnya.

Membaca Stilisasi Mantingan Dalam Tradisi Ukir Jepara

Stilisasi: Ketika Batas Menjadi Sumber Kreativitas

Menurut Dr. Nizam, para seniman Mantingan yang membuat artefak waktu ini tidak melihat larangan tersebut sebagai hambatan, melainkan sebagai ruang untuk bereksperimen. Mereka tidak menghilangkan sepenuhnya bentuk-bentuk fauna, seperti singa, burung atau gajah. Tetapi mengolahnya sedemikian rupa melalui teknik stilization atau penyederhanaan dan penyamaran bentuk.

Dalam stilisasi ini, objek makhluk hidup tidak digambarkan secara realistis atau figuratif. Sebaliknya, bentuk-bentuk itu muncul melalui rangkaian motif tumbuh-tumbuhan, sulur, lung-lungan, kelopak dan elemen dekoratif yang tampaknya abstrak.

“Objeknya disamarkan,” jelas Dr. Nizam. “Ia tampak seperti rangkaian tumbuhan, tetapi ketika dilihat dari konturnya, kita sadar: ‘Oh, ini membentuk singa,’ atau ‘Ini membentuk burung.’”

Inilah kecerdasan visual para empu Mantingan klala itu, mereka menempatkan religiusitas sebagai bingkai nilai, namun tidak melepaskan kreativitas. Dengan memahami batasan, mereka mengolahnya menjadi peluang untuk menciptakan bahasa visual baru yang khas Jepara. Teknik stilisasi ini bukan hanya solusi artistik, tetapi juga menjadi jejak sejarah mengenai tingkat pengetahuan dan kepekaan budaya para perajin masa itu.

Mantingan sebagai Ruang Dialog Budaya

Apa yang ditemukan di Mantingan bukan sekadar ukiran batu, tetapi rekaman perjumpaan budaya. Di sana, terlihat bagaimana Islam pesisir, tradisi Jawa, jejak Hindu–Buddha dan pengaruh Tionghoa saling bertemu. Warisan itu kini dibaca kembali melalui pendekatan Suluk – Sulur – Japara, yang menempatkan ukiran sebagai praktik yang menggabungkan laku batin (suluk), struktur visual dan komposisi (sulur), serta identitas Japara sebagai ruang silang budaya.

Dr. Akhmad Nizam

Stilisasi Mantingan menunjukkan:

Dengan kata lain, Mantingan adalah arsip terbuka, tempat kita dapat melihat bagaimana masyarakat Jepara mengolah perjumpaan nilai, keyakinan dan estetika menjadi tradisi visual yang bertahan hingga sekarang.

Jejak Stilisasi dalam Seni Ukir Jepara Masa Kini

Teknik stilisasi dari Mantingan bukan hanya warisan sejarah, ia mengalir ke dalam praktik seni ukir Jepara masa kini. Para pengukir kontemporer, baik sadar maupun tidak, masih mempraktikkan prinsip yang sama, memadukan bentuk tumbuhan, sulur atau ragam hias untuk menyamarkan atau memodifikasi objek tertentu. Ini membuktikan bahwa stilisasi bukan sekadar strategi visual masa lalu, tetapi sebuah identitas estetika yang tumbuh dan diwariskan.

Dalam konteks TATAH 2026, penjelasan Dr. Nizam memperkuat pemahaman bahwa tradisi ukir Jepara tidak dapat dilepaskan dari kedalaman spiritual, kecerdasan teknis dan kepekaan budaya. Stilisasi Mantingan adalah bukti bahwa seni tidak pernah berdiri sendiri. Ia lahir dari dialog antara nilai dan bentuk, antara batas dan kreativitas, antara tradisi dan interpretasi.

Sorotan Rekomendasi