Geometrik Pattern

Ada karya yang kekuatannya tidak hadir melalui kerumitan sulur atau figur, melainkan melalui ketegasan bentuk, ritme pengulangan, dan jejak waktu pada permukaan kayu. Geometrik Pattern karya M. Chody menghadirkan sketsel atau pembatas ruangan sebagai objek yang tidak hanya berfungsi membagi ruang, tetapi juga menyimpan karakter visual yang kuat melalui susunan panel, garis, bidang, dan ornamen geometris.

Karya ini dibuat pada tahun 2002 dengan ukuran 150 x 56 x 252 cm. Geometrik Pattern turut dipamerkan di Museum Nasional Indonesia Jakarta dalam Pameran TATAH 2026 yang berlangsung mulai 29 April sampai 5 Juli 2026. Secara visual, karya ini menampilkan struktur kayu yang tegak, kokoh, dan berwibawa. Tubuh karya tersusun dari panel panel berulang yang membentuk komposisi ritmis. Pada setiap bidang, terdapat modul persegi yang dilengkapi tonjolan lingkaran di bagian tengah. Bentuk bentuk tersebut menciptakan kesan teratur, stabil, dan berlapis.

Sebagai sketsel, karya ini memiliki hubungan langsung dengan ruang. Ia dapat dibaca sebagai pembatas, tetapi juga sebagai penanda kehadiran. Ukurannya yang tinggi membuat karya ini berdiri seperti elemen arsitektural. Ia tidak hanya ditempatkan di dalam ruang, tetapi juga membentuk suasana ruang di sekitarnya. Ketegasan garis vertikal dan horizontal membuat karya terasa mantap, sementara pengulangan pola memberi irama yang menuntun pandangan dari atas ke bawah.

Kesan kuno menjadi salah satu kekuatan utama karya ini. Permukaan kayu menampilkan patina alami, jejak usia, serta perubahan warna yang memberi karakter autentik. Warna kayu yang tidak sepenuhnya seragam justru memperkuat rasa waktu. Pada bagian bagian tertentu, tampak kesan aus, lapuk halus, dan finishing yang arkaik. Semua itu membuat karya tidak terasa baru atau steril, melainkan seperti benda yang telah menyerap pengalaman panjang.

Detail sambungan yang terekspos turut memberi daya tarik tersendiri. Pada karya ini, konstruksi tidak disembunyikan sepenuhnya. Sambungan, paku, knop, bingkai panel, dan struktur tepi ikut menjadi bagian dari bahasa visual. Hal tersebut memperlihatkan bahwa kekuatan karya tidak hanya terletak pada ornamen, tetapi juga pada kejujuran struktur dan cara benda ini dibangun.

Pengulangan bentuk geometris menjadi inti dari komposisi Geometrik Pattern. Modul persegi yang tersusun dalam beberapa bagian menciptakan pola yang teratur. Di tengah bentuk bentuk tersebut, tonjolan lingkaran memberi aksen visual yang kuat. Perjumpaan antara persegi dan lingkaran menghadirkan keseimbangan antara bentuk yang tegas dan bentuk yang lebih lembut. Persegi memberi kesan stabil, sedangkan lingkaran memberi pusat perhatian.

Sketsel Kayu Jati Dengan Pola Geometris Dalam Pameran Tatah 2026

Permainan cahaya dan bayangan muncul dari kedalaman panel dan tonjolan ornamen. Ketika cahaya mengenai permukaan karya, bagian yang menonjol menangkap terang, sementara bagian cekung menyimpan bayangan. Efek ini membuat bidang kayu tidak terasa datar. Ritme geometris menjadi lebih hidup karena setiap modul memiliki kedalaman, tekstur, dan respons visual yang berbeda terhadap cahaya.

Berbeda dari ukiran Jepara yang sering dikenal melalui sulur floral yang rumit, karya ini memperlihatkan sisi lain dari kemampuan pengolahan kayu. M. Chody menempatkan kekuatan visual pada susunan bentuk yang tertib dan arkaik. Keindahan tidak dicapai melalui kepadatan ornamen yang menjalar, tetapi melalui keteraturan panel, keseimbangan bidang, dan kekuatan repetisi.

Sketsel ini juga memperlihatkan hubungan antara fungsi dan estetika. Sebagai pembatas ruangan, ia memiliki peran praktis. Namun melalui komposisi geometris, detail struktur, dan finishing yang kuat, fungsi tersebut berubah menjadi pengalaman visual. Karya ini tidak hanya memisahkan ruang, tetapi juga memperkaya ruang. Ia menjadi objek yang dapat dilihat dari dekat untuk menikmati detailnya, sekaligus dari jauh untuk menangkap keutuhan bentuknya.

Kaki, tiang sisi, dan puncak karya memberi kesan arsitektural yang kuat. Bagian atas dengan elemen tegak menyerupai penanda puncak membuat karya terasa seperti struktur bangunan kecil. Bagian bawahnya memberi kesan berat dan stabil, seolah seluruh bidang panel bertumpu pada fondasi yang kokoh. Dari sini, Geometrik Pattern dapat dibaca sebagai perabot, sketsel, sekaligus objek arsitektural.

Karya ini menunjukkan bahwa tradisi ukir Jepara tidak selalu harus dibaca melalui motif yang dekoratif dan organis. Ada pula bahasa bentuk yang lahir dari geometri, pengulangan, struktur, dan kesan arkaik. Dalam karya M. Chody, bentuk sederhana seperti persegi dan lingkaran dapat membangun karakter yang kuat ketika disusun dengan ritme yang tepat.

Geometrik Pattern menjadi pengingat bahwa kekuatan sebuah karya dapat muncul dari ketenangan bentuk. Ia tidak berteriak melalui keramaian ornamen, tetapi berbicara melalui susunan yang stabil, permukaan yang menua, dan detail yang menunjukkan ketelitian kerja. Dari sketsel ini, kita dapat membaca sisi lain seni ukir Jepara, yaitu kemampuan menghadirkan keindahan melalui struktur, repetisi, dan kedalaman rasa terhadap material kayu.

Sorotan Rekomendasi