Jejak Dua Maestro dalam Menjaga Warisan Seni Ukir Jepara

JEPARA – Seni ukir Jepara telah melewati perjalanan panjang selama berabad-abad. Berawal dari jejak ukiran di Masjid Mantingan, keterampilan mengolah kayu menjadi karya seni ini terus berkembang hingga dikenal sebagai salah satu produk unggulan yang menembus pasar ekspor di lebih dari 100 negara. Di balik perjalanan tersebut, terdapat para maestro yang mendedikasikan hidupnya untuk menjaga keberlangsungan seni ukir Jepara.

Dua sosok di antaranya adalah Sutrisno dan Suhartono Kasari. Meski memiliki perjalanan dan pendekatan berkarya yang berbeda, keduanya mempunyai komitmen yang sama dalam mempertahankan seni ukir sebagai warisan budaya Jepara.

Sutrisno merupakan pemilik Jepara Carver, sebuah perusahaan sekaligus workshop seni ukir yang berlokasi di Desa Senenan, Jepara. Sementara itu, Suhartono Kasari adalah seniman ukir asal Kelurahan Demaan yang dikenal melalui karya relief dengan tingkat kerumitan dan detail tinggi.

Sutrisno Berbincang Di Workshop Jepara Carver, Senenan, Jepara
Sutrisno (kaos putih) berbincang di workshop Jepara Carver, Desa Senenan, dengan deretan ukiran kayu di sekelilingnya

Keduanya turut ambil bagian dalam Pameran TATAH 2026 bertajuk Suluk–Sulur–Jepara yang digelar di Museum Nasional Indonesia, Jakarta, beberapa waktu lalu. Pameran tersebut menjadi ruang bagi para seniman untuk memperlihatkan kekayaan teknik, kreativitas, serta nilai seni yang terkandung dalam tradisi ukir Jepara.

Sebagai lulusan Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta pada 1996, Sutrisno memiliki keahlian dalam pembuatan relief kayu dan patung tiga dimensi. Melalui Jepara Carver, ia mengembangkan berbagai karya, mulai dari relief artistik, furnitur untuk pasar ekspor, hingga dekorasi interior.

Potret Maestro Ukir Jepara Sutrisno
Potret Sutrisno duduk di kursi ukir kayu, dengan latar pintu gebyok berukir dan dinding bata merah.

Salah satu karya kolaborasinya yang menarik perhatian dalam Pameran TATAH 2026 adalah “Ratu dari Pulau Muria”. Kiprahnya dalam dunia seni ukir juga memperoleh apresiasi melalui penghargaan Maestro Artist Award yang diterimanya dari Bupati Jepara pada 2026.

Perjalanan Sutrisno mengenal seni ukir dimulai ketika usianya baru menginjak 10 tahun pada era 1980-an. Ia pertama kali belajar secara otodidak melalui keluarga dan lingkungan sekitarnya. Ketertarikannya kemudian membawanya menempuh pendidikan di sekolah kejuruan ukir kayu sebelum melanjutkan studi di ISI Yogyakarta.

Selama menjalani pendidikan, Sutrisno tidak hanya mempelajari teknik memahat, tetapi juga memperdalam pengetahuan mengenai anatomi, ornamen, tahapan pengerjaan karya, hingga manajemen seni. Bekal tersebut menjadi fondasi penting dalam mengembangkan usaha sekaligus memperluas pasar bagi karya-karyanya.

Sutrisno Memahat Relief Kayu Bermotif Dedaunan Di Workshopnya
Sutrisno sedang memahat relief kayu bermotif dedaunan dengan pahat, di meja kerja yang dipenuhi peralatan ukir.

“Manajemen seni itu kan kita harus bisa membuat pasar sendiri,” ujar Sutrisno. Pandangan tersebut terus menjadi prinsip yang dipegangnya dalam menjalankan usaha dan berkarya.

Berbeda dengan Sutrisno, perjalanan Suhartono Kasari dimulai dari peralatan yang sangat sederhana. Seniman kelahiran Demaan pada 1969 itu telah mengenal seni ukir sejak duduk di kelas 5 sekolah dasar. Karena keterbatasan alat, ia bahkan pernah menggunakan paku yang digepengkan dengan batu sebagai pengganti pahat.

Jejak Dua Maestro Dalam Menjaga Warisan Seni Ukir Jepara
Suhartono Kasari memahat kayu menggunakan ganden (palu kayu) dengan pencahayaan dramatis di ruang kerjanya.

Ketertarikannya terhadap seni ukir semakin tumbuh ketika ia sering menyaksikan Mbah Arsad, seorang maestro ukir legendaris asal Demaan, bekerja sepulang sekolah. Dari pengamatan sederhana tersebut, Suhartono mulai memahami bagaimana sebongkah kayu dapat diubah menjadi karya seni yang bernilai.

“Lihat saja, besok kamu akan bisa mengukir,” kenang Suhartono menirukan pesan Mbah Arsad. Kalimat sederhana itu terus membekas dalam ingatannya dan menjadi salah satu dorongan untuk mendalami keterampilan mengukir.

Potret Maestro Ukir Jepara Suhartono Kasari Asal Demaan Jepara
Potret Suhartono Kasari mengenakan blangkon batik, dengan latar dinding bata di workshopnya di Demaan Jepara.

Suhartono kemudian melanjutkan pembelajarannya di sekolah kejuruan ukir. Di sana, ia mempelajari desain, teknik ukir, serta penggunaan mesin pengolahan kayu. Keahliannya terus berkembang hingga ia dikenal sebagai seniman yang memiliki spesialisasi pada relief naratif, karya miniatur, dan ukiran berukuran kecil dengan detail yang rumit.

Sejumlah karya yang dihasilkannya antara lain “Taman Laut”,”Perang Jawa”, dan”Karno Tanding”. Melalui keterampilan tangannya, kayu jati diolah menjadi rangkaian adegan yang tampak hidup dan dinamis. Karya “Taman Laut” juga menjadi salah satu karya yang ditampilkan dalam Pameran TATAH 2026.

Untuk menghasilkan detail ukiran yang sangat halus, Suhartono bahkan membuat dan menempa sendiri sejumlah pahat khusus sesuai kebutuhan karyanya. Ketekunan tersebut mencerminkan kesungguhannya dalam mempertahankan kualitas dan karakter setiap karya yang dihasilkan.

Suhartono juga dikenal sebagai seniman yang teguh memegang idealisme. Baginya, berkarya bukan semata-mata untuk memenuhi permintaan pasar, melainkan juga menghadirkan sesuatu yang dapat dinikmati dan memberikan kebahagiaan bagi masyarakat.

“Yang penting saya menemukan sesuatu yang bisa untuk menyenangkan masyarakat banyak ketika melihat karya saya,” ungkap Suhartono.

Suhartono Kasari Mengukir Detail Halus Relief Kayu Dengan Bantuan Kaca Pembesar Dan Lampu Sorot.
Suhartono Kasari mengukir detail halus relief kayu dengan bantuan kaca pembesar dan lampu sorot.

Prinsip tersebut membuatnya tidak segan menolak pesanan yang dianggap tidak sesuai dengan visi berkaryanya. Ia tetap menghasilkan karya meskipun tidak sedang menerima pesanan, bahkan dengan memanfaatkan potongan-potongan kecil kayu yang tersisa.

Perbedaan perjalanan kedua maestro itu memperlihatkan beragam cara dalam menjaga keberlangsungan seni ukir Jepara. Sutrisno mengembangkan karya melalui pendidikan formal, pengelolaan usaha, dan perluasan pasar, sedangkan Suhartono menekankan ketekunan, eksplorasi teknik, serta kebebasan dalam mengekspresikan gagasan seni.

Keduanya dipertemukan dalam Pameran TATAH 2026 yang terselenggara melalui kolaborasi Himpunan Industri Mebel dan Kerajinan Indonesia (HIMKI) DPD Jepara Raya, Pemerintah Kabupaten Jepara, dan Rumah Kartini. Kehadiran mereka sekaligus memperlihatkan bahwa tradisi seni ukir Jepara tetap berkembang melalui berbagai pendekatan dan karakter senimannya.

Di luar aktivitas berkarya, kiprah Sutrisno juga menjangkau tingkat internasional. Ia terlibat dalam proyek restorasi enam pilar berukir di Masjid Istiklal, Sarajevo, Bosnia dan Herzegovina.

Bersama dua pengukir Jepara lainnya, Sutrisno dijadwalkan berangkat menuju Sarajevo pada 13 Oktober 2026. Proyek tersebut mencakup penggantian enam pilar yang mengalami kerusakan secara menyeluruh menggunakan kayu jati, serta penanganan bagian tangga dan sejumlah ornamen dinding masjid.

“Kalau pilar itu diganti total. Karena kalau ditambal, nanti karakter ukirannya berbeda,” jelas Sutrisno.

Kesempatan restorasi tersebut berawal dari kunjungan tim Jepara ke Bosnia dalam rangka menggalang dukungan bagi pengajuan seni ukir Jepara sebagai warisan budaya takbenda UNESCO. Dalam kunjungan itu, tim mengetahui adanya kerusakan pada sejumlah ukiran di Masjid Istiklal.

Masjid yang merupakan hadiah dari Presiden B.J. Habibie tersebut diketahui memiliki ukiran hasil karya para pengukir Jepara. Mengetahui kondisi tersebut, Lestari Moerdijat kemudian menawarkan dukungan pendanaan untuk pelaksanaan restorasi.

Selain membawa keterampilan ukir Jepara ke panggung internasional, Sutrisno juga memberikan perhatian terhadap regenerasi pengukir. Ia membuka workshop miliknya sebagai tempat belajar bagi puluhan anak dan remaja yang ingin mengenal serta mendalami seni ukir tanpa dipungut biaya.

Bagi Sutrisno, keberhasilan seorang seniman tidak hanya diukur dari karya yang dihasilkan, tetapi juga dari kemampuannya meneruskan pengetahuan dan keterampilan kepada generasi berikutnya.

Sementara itu, Suhartono terus menjaga keaslian karakter berkaryanya melalui ketekunan menciptakan relief yang kaya cerita dan detail. Konsistensinya menunjukkan bahwa seni ukir Jepara tidak hanya memiliki nilai ekonomi, tetapi juga menyimpan ekspresi budaya dan kreativitas yang perlu dipertahankan.

Sutrisno dan Suhartono Kasari menjadi gambaran dua perjalanan berbeda yang bermuara pada tujuan yang sama, yakni menjaga seni ukir Jepara agar tetap hidup dan berkembang. Melalui pendidikan, regenerasi, inovasi, serta keteguhan dalam berkarya, keduanya mengambil peran penting dalam memastikan warisan keterampilan para leluhur tetap memiliki tempat di tengah perubahan zaman.

Dari tangan para maestro inilah tradisi ukir Jepara terus menemukan penerusnya, sehingga suara pahat yang telah bergema selama berabad-abad tidak berhenti pada satu generasi.

Sorotan Rekomendasi