- Home
- Uncategorized
- Masjid Pagoda Japara
Masjid Pagoda Japara
Masjid Pagoda Japara menghadirkan kembali ingatan tentang Jepara sebagai kota pelabuhan yang kosmopolitan. Pada masa lampau, pelabuhan Jepara menjadi ruang perjumpaan para pedagang dari berbagai bangsa. Kapal datang dan pergi, barang berpindah tangan, bahasa saling bertemu, dan budaya saling bersentuhan. Dari kawasan pesisir inilah Jepara tumbuh sebagai ruang ekonomi dan kebudayaan yang hidup.
Interaksi lintas bangsa dan dinamika perdagangan membentuk karakter Jepara sebagai kota yang terbuka terhadap pengaruh luar. Salah satu jejak penting dari keterbukaan itu tampak pada bangunan masjid beratap lima yang dalam literatur Barat dikenal sebagai Masjid Pagoda. Bangunan ini mencerminkan pertemuan nilai lokal, Hindu, Cina, dan Islam dalam satu bentuk arsitektur yang unik.
Secara visual, gambar ini menampilkan sebuah bangunan masjid bertingkat yang menyerupai pagoda. Di bagian atas terdapat pita bertuliskan “Der Moren Tempel Binnen de Stadt Japare”, merujuk pada ilustrasi lama Masjid Pagoda Jepara yang muncul dalam buku Oost Indische Voyagie tahun 1676 karya Wouter Schouten. Ilustrasi tersebut digambar dengan teknik ukiran oleh Coenraet Decker. Melalui penggambaran ulang ini, Rumah Kartini menghadirkan kembali salah satu arsip visual penting tentang wajah Jepara pada abad ke 17.
Bangunan masjid tampak berdiri megah di tengah komposisi. Atapnya tersusun bertingkat, menjulang ke atas, dan memperlihatkan bentuk yang berbeda dari masjid Jawa pada umumnya. Pada abad ke 15 hingga abad ke 17, masjid masjid di Jawa lazim memiliki atap tumpang. Namun Masjid Pagoda Japara memiliki bentuk yang lebih dekat dengan bangunan pagoda, sebuah bentuk arsitektur yang lekat dengan tradisi Cina dan agama Buddha. Keunikan ini menunjukkan bahwa Jepara pernah menjadi ruang pertemuan budaya yang kuat, tempat unsur lokal dan pengaruh luar saling berbaur dalam kehidupan masyarakat.

Di sekitar bangunan utama, terlihat berbagai aktivitas masyarakat. Ada pedagang, pedati yang mengangkut barang, orang orang yang berjalan di pinggir jalan, serta sosok yang tampak seperti bangsawan atau saudagar dengan pengiring. Kehadiran tokoh tokoh ini menunjukkan bahwa kawasan masjid tidak terpisah dari kehidupan kota. Ia berada di tengah denyut aktivitas sosial, ekonomi, dan budaya masyarakat Jepara.
Arah pergerakan orang dalam visual ini tampak menuju satu titik tertentu. Hal ini memberi kesan bahwa kawasan tersebut berhubungan erat dengan pusat keramaian, kemungkinan menuju pasar atau pelabuhan. Dengan demikian, Masjid Pagoda tidak hanya dibaca sebagai bangunan ibadah, tetapi juga sebagai bagian dari tata ruang kota pesisir yang hidup oleh perdagangan dan mobilitas manusia.
Bangunan masjid digambarkan dikelilingi pagar tinggi dan parit. Akses masuk menuju area masjid melalui jembatan dan pintu gerbang besar sebagai jalur utama keluar masuk. Di sekitarnya terdapat sungai kecil dengan perahu perahu dan rakit, rumah rumah penduduk, serta pohon kelapa yang mempertegas suasana pesisir. Unsur unsur ini menunjukkan bahwa masjid berada dalam lingkungan kota yang terhubung dengan jalur air, permukiman, dan aktivitas harian masyarakat.
Keberadaan parit, jembatan, pagar, dan gerbang juga memperlihatkan bahwa bangunan ini memiliki posisi penting dalam ruang kota. Ia bukan sekadar bangunan tunggal, tetapi bagian dari pusat kehidupan masyarakat. Masjid menjadi ruang spiritual, sekaligus penanda identitas dan kebesaran Jepara sebagai kota pelabuhan.
Sayangnya, bangunan Masjid Pagoda Japara kini sudah tidak tersisa. Jejak fisiknya telah hilang, tetapi ingatannya masih dapat dibaca melalui ilustrasi, catatan perjalanan, dan narasi sejarah. Banyak yang menduga bahwa lokasi masjid tersebut kini berada di kawasan Masjid Baitul Makmur Jepara, meskipun bangunan aslinya tidak lagi dapat ditemukan.
Dalam konteks Pameran TATAH 2026, visuial ini menjadi penting karena memperlihatkan bahwa Jepara bukan hanya memiliki sejarah seni ukir, tetapi juga sejarah arsitektur, pelabuhan, dan akulturasi budaya. Masjid Pagoda Japara menjadi bukti bahwa Jepara pernah menjadi ruang perjumpaan yang kaya, tempat nilai lokal dan pengaruh luar saling bersentuhan lalu melahirkan bentuk kebudayaan yang khas.
Melalui visual epic Masjid Pagoda Japara, kita diajak melihat kembali Jepara sebagai kota yang terbuka dan adaptif. Dari pelabuhan, datang kapal dan barang dagangan. Dari perjumpaan manusia, lahir gagasan, bentuk arsitektur, dan ekspresi budaya baru. Masjid Pagoda Japara menjadi salah satu tanda bahwa identitas Jepara dibentuk oleh perjalanan panjang antara laut, perdagangan, agama, dan kebudayaan.
The Pagoda Mosque of Japara
Masjid Pagoda Japara brings back the memory of Jepara as a cosmopolitan port city. In the past, the port of Jepara was a meeting place for traders from many nations. Ships arrived and departed, goods changed hands, languages encountered one another, and cultures came into contact. From this coastal area, Jepara grew into a lively space of economy and culture.
Cross-cultural interaction and the dynamics of trade shaped Jepara’s character as a city open to outside influences. One important trace of this openness can be seen in the five-tiered-roof mosque known in Western literature as the Pagoda Mosque. The building reflects the meeting of local, Hindu, Chinese, and Islamic values in a single, unique architectural form.
Visually, this image presents a multi-tiered mosque building resembling a pagoda. At the top is a ribbon bearing the words “Der Moren Tempel Binnen de Stadt Japare,” referring to an old illustration of the Pagoda Mosque of Jepara that appeared in Oost Indische Voyagie, a 1676 book by Wouter Schouten. The illustration was made as an engraving by Coenraet Decker. Through this redrawing, Rumah Kartini brings back one of the important visual archives of Jepara’s appearance in the 17th century.
The mosque stands majestically at the center of the composition. Its roof rises in tiers, extending upward and showing a form different from Javanese mosques in general. From the 15th to the 17th century, mosques in Java commonly had tiered roofs known as atap tumpang. However, Masjid Pagoda Japara had a form closer to a pagoda, an architectural shape closely associated with Chinese tradition and Buddhism. This uniqueness shows that Jepara was once a strong meeting ground for cultures, where local elements and outside influences blended within community life.
Around the main building, various community activities can be seen. There are traders, carts carrying goods, people walking along the roadside, and figures who appear to be nobles or merchants accompanied by attendants. The presence of these figures shows that the mosque area was not separate from urban life. It stood within the pulse of Jepara’s social, economic, and cultural activity.
The movement of people in this visual appears to lead toward a particular point. This gives the impression that the area was closely connected to a center of activity, possibly toward a market or harbor. In this way, the Pagoda Mosque can be read not only as a place of worship, but also as part of the spatial order of a coastal city animated by trade and human mobility.
The mosque is depicted as being surrounded by high walls and a moat. Access into the mosque area passes through a bridge and a large gate that serve as the main entry and exit route. Around it are a small river with boats and rafts, residents’ houses, and coconut trees that emphasize the coastal atmosphere. These elements show that the mosque stood within an urban environment connected to waterways, settlements, and the everyday activities of the community.
The presence of the moat, bridge, walls, and gate also shows that this building held an important position within the city. It was not merely a single structure, but part of the center of community life. The mosque became a spiritual space, as well as a marker of Jepara’s identity and stature as a port city.
Unfortunately, Masjid Pagoda Japara no longer exists today. Its physical traces have disappeared, but its memory can still be read through illustrations, travel records, and historical narratives. Many suspect that the mosque’s location is now in the area of Masjid Baitul Makmur Jepara, although the original building can no longer be found.
In the context of TATAH 2026, this visual work is important because it shows that Jepara has not only a history of woodcarving, but also a history of architecture, ports, and cultural acculturation. Masjid Pagoda Japara stands as evidence that Jepara was once a rich space of encounter, where local values and outside influences came into contact and gave birth to distinctive cultural forms.
Through the epic visual work of Masjid Pagoda Japara, we are invited to look again at Jepara as an open and adaptive city. From the port came ships and traded goods. From human encounters emerged ideas, architectural forms, and new cultural expressions. Masjid Pagoda Japara becomes one sign that Jepara’s identity was shaped by a long journey between the sea, trade, religion, and culture.


