Jung Jepara

Karya Jung Jepara dibuat oleh Roni dan Sutrisno dengan material kayu jati. Berukuran 300 x 100 x 200
cm, karya ini menghadirkan kembali ingatan tentang kejayaan maritim Jepara pada abad ke 16. Kapal
besar yang dikenal sebagai jung atau junco bukan hanya alat transportasi laut, tetapi juga simbol kekuatan perdagangan, kecakapan teknologi, dan keberanian politik Jepara pada masa kepemimpinan Ratu Kalinyamat atau Retna Kencana.

Pada masa itu, Jepara masih berada dalam jaringan Kesultanan Demak dan memiliki peran penting dalam
perdagangan antarpulau hingga lintas lautan. Jung Jawa dirancang untuk mengangkut manusia sekaligus
membawa komoditas utama, terutama beras. Dari Jepara, komoditas tersebut dilayarkan ke berbagai
wilayah Nusantara, seperti Jawa Timur, Maluku, hingga Malaka. Hal ini menunjukkan bahwa Jepara
bukan sekadar pelabuhan lokal, melainkan bagian dari jalur perdagangan besar yang menghubungkan
berbagai pusat ekonomi dan kebudayaan.

Kapal kapal besar tersebut bersandar di dermaga Jepara. Ketika mengalami kerusakan, perbaikan
dilakukan di galangan kapal yang tersedia di kawasan pelabuhan. Ramainya lalu lintas perdagangan
membuat industri galangan kapal berkembang pesat, baik untuk kebutuhan kapal dagang maupun kapal
perang. Menurut HJ de Graaf dan G. Th. Pigeaud, galangan kapal di Jepara pernah menjadi salah satu
yang terbesar dan terbaik di Asia Tenggara. Keunggulan ini memperlihatkan bahwa Jepara tidak hanya
kuat dalam perdagangan, tetapi juga memiliki kemampuan teknis dalam membangun armada laut.

Kekuatan tersebut didukung oleh ketersediaan kayu jati berkualitas tinggi di wilayah Jepara. Kayu jati
menjadi bahan utama yang kokoh, tahan lama, dan sesuai untuk konstruksi kapal besar. Melimpahnya
kayu jati memberi keuntungan bagi para pembuat kapal, karena material ini memungkinkan lahirnya jung
yang kuat dan mampu menempuh pelayaran jauh.

Jung Jepara memiliki ciri berukuran besar, menggunakan kayu kayu berdiameter besar, serta berwarna
gelap ketika telah berumur. Kapal ini dilengkapi empat tiang layar. Layarnya dibuat dari anyaman serat
alami seperti rotan, begitu pula dengan tali temalinya. Seluruh unsur tersebut memperlihatkan bahwa
teknologi maritim Jepara bertumpu pada pengetahuan lokal, keterampilan tangan, dan pemahaman
mendalam terhadap material alam.

Salah satu keunikan penting dari jung Jawa adalah teknik pembuatannya yang tidak menggunakan paku.
Bagian bagian kapal dirangkai dengan teknik pasak dari kayu atau bambu yang ditanamkan ke dalam
struktur kayu. Teknik ini menghasilkan konstruksi yang kuat, lentur, dan tahan lama. Dalam dunia
pelayaran, kekuatan kapal tidak hanya ditentukan oleh ukuran, tetapi juga oleh kecerdasan sambungan,
ketahanan struktur, dan kemampuan kapal menghadapi tekanan laut.

Secara historis, jung Jawa diperkirakan memiliki panjang kurang lebih 50 meter dengan konstruksi papan
rangkap tiga dan kapasitas muatan mencapai 1500 ton. Ukuran dan kapasitas sebesar ini memungkinkan
kapal membawa manusia, logistik, dan komoditas dalam jumlah besar. Dalam catatan perbandingan kapal kapal komando Portugis Frol de la Mar bahkan digambarkan tampak lebih kecil dan rendah dibandingkan
jung Jawa, sehingga menyulitkan musuh untuk melompat naik ke atasnya.

Kehebatan jung Jawa juga memperlihatkan kuatnya tradisi maritim Jepara pada masa Ratu Kalinyamat.
Kapal bukan hanya sarana dagang, tetapi juga bagian dari strategi pertahanan dan perlawanan. Melalui
armada laut, Jepara mampu menjangkau wilayah lain, menghubungkan jalur perdagangan, sekaligus
menunjukkan keberanian menghadapi kekuatan asing yang berusaha menguasai jalur penting di kawasan
Asia Tenggara.

Kehadiran Jung Jepara dalam rangkaian TATAH 2026 mempertemukan dua ingatan penting Jepara, yaitu
kayu dan laut. Kayu jati yang selama ini lekat dengan ukiran dan furnitur, dalam karya ini dibaca kembali sebagai material pembentuk kapal besar yang pernah membawa Jepara masuk ke jaringan perdagangan
Nusantara hingga lintas lautan. Karya ini menjadi penanda bahwa sejarah Jepara tidak hanya ditatah pada
kayu sebagai ornamen, tetapi juga berlayar melalui kapal, pelabuhan, galangan, dan keberanian
masyarakat pesisirnya.

Jung Jepara

Jung Jepara was created by Roni and Sutrisno using teak wood. Measuring 300 x 100 x 200 cm, this work brings back the memory of Jepara’s maritime glory in the 16th century. The large ship known as a jung or junco was not only a means of sea transport, but also a symbol of trade power, technological skill, and Jepara’s political courage during the leadership of Ratu Kalinyamat, or Retna Kencana.

At that time, Jepara was still part of the network of the Demak Sultanate and played an important role in inter-island and overseas trade. The Javanese jung was designed to carry people while also transporting key commodities, especially rice. From Jepara, these commodities were sailed to various regions of Nusantara, such as East Java, Maluku, and Malacca. This shows that Jepara was not merely a local harbor, but part of a major trade route connecting different economic and cultural centers.

These large ships docked at the Jepara pier. When they were damaged, repairs were carried out in the shipyards available in the port area. The busy flow of trade made the shipbuilding industry grow rapidly, both for merchant vessels and warships. According to H.J. de Graaf and G. Th. Pigeaud, the shipyards in Jepara were once among the largest and best in Southeast Asia. This excellence shows that Jepara was not only strong in trade, but also had technical ability in building a naval fleet.

That strength was supported by the availability of high-quality teak wood in the Jepara region. Teak became the main material because it was strong, durable, and suitable for the construction of large ships. The abundance of teak gave shipbuilders an advantage, allowing them to produce powerful jung capable of long-distance voyages.

Jung Jepara was characterized by its large size, the use of large-diameter timber, and a dark color when aged. The ship was equipped with four masts. Its sails were made from woven natural fibers such as rattan, as were its ropes. All these elements show that Jepara’s maritime technology rested on local knowledge, manual skill, and a deep understanding of natural materials.

One important uniqueness of the Javanese jung was its construction technique, which did not use nails. The parts of the ship were assembled using wooden or bamboo pegs inserted into the timber structure. This technique produced a construction that was strong, flexible, and durable. In seafaring, the strength of a ship is determined not only by its size, but also by the intelligence of its joints, the resilience of its structure, and its ability to withstand pressure at sea.

Historically, the Javanese jung is estimated to have been around 50 meters long, with triple-planked construction and a cargo capacity of up to 1,500 tons. This size and capacity allowed the ship to carry people, supplies, and large quantities of commodities. In comparative accounts of ships, the Portuguese command ship Frol de la Mar was even described as appearing smaller and lower than the Javanese jung, making it difficult for enemies to climb aboard.

The greatness of the Javanese jung also reveals the strength of Jepara’s maritime tradition during the time of Ratu Kalinyamat. Ships were not only tools of trade, but also part of defense and resistance strategy. Through its naval fleet, Jepara could reach other regions, connect trade routes, and show its courage in facing foreign powers seeking control over important routes in Southeast Asia.

The presence of Jung Jepara in TATAH 2026 brings together two important memories of Jepara: wood and the sea. Teak wood, long associated with carving and furniture, is read here again as the material of large ships that once carried Jepara into the trade networks of Nusantara and beyond. This work shows that Jepara’s history was not only carved into wood as ornament, but also sailed through ships, ports, shipyards, and the courage of its coastal communities.

Sorotan Rekomendasi