Jepara Kota Bahari di Pulau Muria

Sebelum dikenal luas sebagai kota ukir, Jepara lebih dahulu tumbuh sebagai kota bahari. Identitas itu berakar dari sejarah geografis kawasan Muria, sebuah wilayah yang pada masa lampau tidak menyatu dengan Pulau Jawa. Muria dahulu merupakan sebuah pulau yang terpisah dari daratan Jawa oleh sebuah selat yang dikenal sebagai Selat Muria.

Karya “Jepara Kota Bahari di Pulau Muria” menghadirkan kembali ingatan tersebut melalui visual bergaya peta lama. Pada bagian atas karya, tulisan besar “Pulau Muria” terbentang seperti judul pada arsip kartografis kuno. Di tengah bidang, Gunung Muria menjadi pusat orientasi visual, berdiri sebagai penanda utama yang menghubungkan alam, sejarah, dan kehidupan masyarakat di sekitarnya.

Di sekitar Gunung Muria, tampak sejumlah penanda wilayah seperti K. Kalinyamat, Demak, Kudus, Pati, dan Rembang. Penanda-penanda ini tidak hanya berfungsi sebagai keterangan lokasi, tetapi juga memperlihatkan bagaimana Muria pernah menjadi ruang geografis yang penting bagi perkembangan kawasan pesisir utara Jawa. Sementara itu, tulisan “Selat Muria” di bagian bawah karya menjadi kunci pembacaan utama bahwa wilayah yang kini menjadi daratan, dahulu merupakan ruang air yang memisahkan Muria dari Pulau Jawa.

Pada masa lampau, Selat Muria menjadi jalur yang memungkinkan mobilitas manusia, perdagangan, dan pertukaran budaya berlangsung. Laut bukan hanya batas wilayah, tetapi juga jalan yang menghubungkan satu tempat dengan tempat lain. Karena itu, keberadaan kapal-kapal kecil yang tersebar di sekitar perairan dalam karya ini memperkuat ingatan tentang Jepara sebagai kawasan bahari, pelabuhan, dan simpul pergerakan komoditas.

Seiring berjalannya waktu, proses sedimentasi yang berlangsung terus-menerus membuat Selat Muria perlahan berubah menjadi daratan. Sekitar abad ke-15, Pulau Muria mulai menyatu dengan Pulau Jawa. Selat yang dahulu memisahkan Muria dengan daratan utama kini menjadi wilayah yang meliputi Jepara, Kudus, Demak, Pati, dan Rembang.

Perubahan alam ini menjadi bagian penting dalam membaca sejarah Jepara. Jepara tidak lahir semata-mata sebagai kota daratan, tetapi sebagai wilayah pesisir yang memiliki hubungan erat dengan laut. Letaknya yang berada di sebelah timur Gunung Muria dan berbatasan langsung dengan Laut Jawa memungkinkan Jepara berkembang menjadi pelabuhan besar pada masanya.

Jepara Kota Bahari Di Pulau Muria

Dari pelabuhan Jepara, berbagai komoditas perdagangan bergerak ke sejumlah daerah seperti Juana, Tuban, Gresik, bahkan hingga mancanegara. Kapal-kapal besar bersandar di Jepara sebagai sarana pengangkut berbagai komoditas. Aktivitas pelabuhan itu menjadikan Jepara sebagai kota yang ramai, terbuka, dan kosmopolitan.

Dalam karya ini, karakter kosmopolitan tersebut dibaca melalui komposisi peta. Laut, kapal, gunung, dan penanda wilayah hadir sebagai rangkaian tanda yang saling berhubungan. Gaya visual menyerupai arsip tua membuat karya ini terasa seperti dokumen sejarah yang dibuka kembali, seolah mengajak pengunjung melihat Jepara dari masa ketika laut masih menjadi bagian besar dari tubuh geografisnya.

Gunung Muria sendiri diperkirakan terbentuk sejak ribuan tahun lalu dan hingga kini masih berdiri kokoh, meskipun telah beberapa kali mengalami aktivitas vulkanik. Kawasan ini menyimpan banyak cerita sejarah serta warisan budaya yang belum sepenuhnya terungkap. Sisa-sisa Selat Muria masih dapat dikenali melalui beberapa wilayah di kabupaten sekitar, tempat ditemukannya batu laut, karang, bahkan fosil hewan laut. Temuan-temuan tersebut menjadi bukti bahwa sebagian daerah yang kini menjadi daratan dahulu merupakan bagian dari lautan.

Di Jepara, jejak pelabuhan kuno dan fosil mungkin belum terlihat secara langsung di daratan. Namun perairan laut Jepara diyakini masih menyimpan berbagai peninggalan berharga dari masa lalu Muria yang belum banyak dieksplorasi. Laut Jepara dapat dibaca sebagai ruang ingatan yang masih menyimpan jejak perjalanan panjang kawasan ini sebagai kota bahari.

Peristiwa banjir yang terkadang terjadi, terutama saat hujan deras, seolah mengingatkan kembali bahwa wilayah yang kini menjadi daratan dahulu memiliki hubungan erat dengan air. Ingatan tentang laut tidak sepenuhnya hilang. Ia tetap hadir melalui lanskap, cerita masyarakat, kondisi alam, dan sejarah yang tersimpan dalam ruang geografis Jepara.

Dalam konteks Pameran TATAH 2026, karya “Jepara Kota Bahari di Pulau Muria” menjadi pintu masuk untuk memahami bahwa identitas Jepara tidak hanya dibentuk oleh ukiran, tetapi juga oleh laut. Sebelum tatah menyentuh kayu, sebelum sulur menjadi motif yang menjalar dalam seni ukir Jepara, wilayah ini telah lebih dahulu dibentuk oleh pertemuan darat dan laut.

Jepara sebagai kota bahari memberi dasar penting bagi tumbuhnya kebudayaan yang terbuka. Sebagai kawasan pelabuhan, Jepara menerima berbagai pengaruh dari luar. Perjumpaan dengan manusia, komoditas, pengetahuan, dan budaya lain ikut membentuk cara masyarakat Jepara melihat dunia. Dari keterbukaan itulah kemudian lahir ruang bagi perkembangan seni, kerajinan, perdagangan, dan identitas budaya.

Karya ini juga memperlihatkan bahwa sejarah Jepara tidak dapat dibaca hanya dari satu sudut. Jepara adalah hasil dari proses panjang: alam yang berubah, laut yang menyusut, selat yang menjadi daratan, pelabuhan yang ramai, dan masyarakat yang terus beradaptasi. Semua unsur itu menjadi bagian dari fondasi sebelum Jepara dikenal sebagai kota ukir.

Dalam kerangka besar “Suluk – Sulur – Jepara”, karya ini dapat dibaca sebagai suluk tentang asal-usul ruang. Ia mengajak pengunjung menelusuri perjalanan Jepara dari lanskap bahari menuju kota budaya. Sebagai sulur, ia memperlihatkan bagaimana sejarah menjalar dari laut ke darat, dari pelabuhan ke masyarakat, dari perjumpaan budaya menuju identitas yang terus tumbuh.

Melalui medium kanvas berukuran 115 x 173 cm, Rumah Kartini bersama Nano Warsono menghadirkan bukan sekadar peta, tetapi sebuah ingatan visual. Karya ini menjadi cara untuk membaca kembali Muria sebagai pulau, Jepara sebagai pelabuhan, dan laut sebagai bagian penting dari pembentukan identitas kawasan.

“Jepara Kota Bahari di Pulau Muria” mengingatkan bahwa untuk memahami Jepara sebagai kota ukir, kita perlu terlebih dahulu memahami Jepara sebagai kota bahari. Dari laut, Jepara belajar terbuka. Dari pelabuhan, Jepara mengenal pertukaran. Dari Muria, Jepara menemukan ruang hidupnya. Dan dari seluruh perjalanan itu, lahirlah identitas Jepara sebagai wilayah yang kaya sejarah, kuat dalam tradisi, dan terus bergerak bersama perubahan zaman.

Sorotan Rekomendasi