- Home
- Uncategorized
- Profil Kurator TATAH 2026 Nano Warsono, M.Sn.
Profil Kurator TATAH 2026 Nano Warsono, M.Sn.
Nano Warsono, M.Sn. adalah perupa, kurator seni dan peneliti budaya visual Indonesia yang dikenal aktif dalam praktik seni rupa kontemporer serta kerja-kerja kuratorial berbasis riset dan konteks sosial-budaya. Ia lahir di Desa Sukodono Kecamatan Tahunan Kabupaten Jepara, sebuah wilayah yang memiliki sejarah panjang seni ukir dan tradisi kriya, yang kemudian menjadi salah satu pijakan penting dalam perjalanan artistik dan kuratorialnya.
Nano menempuh pendidikan seni rupa di Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta, dan melanjutkan studi magister hingga meraih gelar Magister Seni (M.Sn.). Latar pendidikan tersebut membentuk pendekatan Nano yang tidak hanya menempatkan seni sebagai ekspresi visual, tetapi juga sebagai ruang refleksi budaya, identitas dan pengetahuan.
Sebagai seniman, Nano dikenal melalui karya-karya seni rupa yang mencakup lukisan, instalasi, mural, hingga eksplorasi visual berbasis ruang dan pengalaman sosial. Karyanya kerap menampilkan ketegangan antara bentuk, simbol dan konteks keseharian, serta membaca ulang relasi manusia dengan ruang hidupnya. Praktik berkesenian ini berjalan beriringan dengan minatnya pada isu identitas lokal, ingatan kolektif, dan dinamika budaya.
Di luar praktik artistik, Nano aktif sebagai kurator pameran seni. Ia terlibat dalam berbagai proyek kuratorial yang menekankan pentingnya inklusivitas, keberagaman praktik seni serta hubungan antara karya, seniman dan masyarakat. Dalam beberapa pameran yang dikurasi, Nano mendorong seni untuk hadir sebagai medium dialog, bukan sekadar objek tontonan.
Keterlibatan Nano Warsono dalam Pameran TATAH 2026 menempatkannya sebagai salah satu kurator kunci yang merumuskan benang merah konseptual pameran. Dalam TATAH 2026, Nano memandang seni ukir Jepara bukan hanya sebagai produk visual atau kerajinan, melainkan sebagai praktik budaya yang lahir dari proses panjang, keterampilan dan pengetahuan yang diwariskan lintas generasi.
Ia menempatkan TATAH sebagai alat sekaligus metafora kebudayaan, sebuah medium yang melahirkan karya, nilai dan identitas. Melalui kerangka “Suluk – Sulur – Jepara”, Nano berupaya merangkai narasi yang mempertemukan laku pengetahuan (suluk), bahasa visual yang berkelanjutan (sulur), dan Jepara sebagai ruang hidup kebudayaan.
Dalam konteks kuratorial, Nano menekankan pentingnya membaca seni ukir Jepara secara utuh. Dari proses kreatif, latar sejarah, hingga konteks sosialnya hari ini. Baginya, TATAH 2026 bukan sekadar pameran karya, melainkan ruang refleksi untuk memahami Jepara sebagai ekosistem seni dan pengetahuan yang hidup, relevan dan terus bergerak bersama zaman.


